Suhu Politik Irak Memanas,  Aksi Protes Bermunculan terhadap Hasil Sementara Pemilu

0
350

Baghdad, LiputanIslam.com –   Menyusul protes Aliansi Fatah pimpinan Hadi Al-Amiri dan Aliansi Negara Hukum pimpinan Nouri Al-Maliki dari pihak Syiah terhadap hasil sementara pemilu parlemen Irak, Partai Islam, salah satu partai Sunni, dan Uni Patriotik Kurdistan juga menyatakan menolak hasil tersebut.

Mereka menyatakan telah terjadi manipulasi besar-besaran dalam pemilu 10 Oktober 2021, sementara Komisi Tinggi Pemilu membela kinerjanya.

Di media sosial beredar beberapa video aksi-aksi protes massa di berbagai kawasan Irak, termasuk Al-Khalis, Provinsi Diyala, dan jalur Kirkuk menuju Baghdad, serta unjuk rasa para simpatisan pasukan relawan Al-Hashd Al-Shaabi (Pasukan Mobilisasi Popular/PMF).

Juru bicara Aliansi Fatah dalam sebuah pernyataannya menegaskan, “Hasil awal yang diumumkan oleh Komisi berbeda dengan apa yang ada di tangan para kandidat. Karena itu, kami menolak hasil ini, dan hari ini kami akan menyampaikan protes disertai dokumen dan data yang ada di tangan kami.”

Partai Islam Irak, salah satu partai kelompok minoritas Sunni, menyatakan terjadi manipulasi pemilu dan menyebut keliru dukungan kepada pemilu ini.

Protes dari Uni Patriotik Kurdistan dilaporkan oleh media PMF dengan menyebutkan bahwa mereka mempermasalahkan hasil pemilu di Arbil dan Dahuk. Menurut PMF, Uni Patriotik Kurdistan menyatakan bahwa Partai Demokrat memrotes pengeluaran kotak-kotak pemungutan suara selama dua jam dari tempat-tempat pemungutan suara.

Menanggapi reaksi dan aksi protes itu, Komisi Tinggi Pemilu Irak membela diri dengan menyatakan bahwa fasilitas pemungutan suara didukung sistem-sistem canggih yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap segala bentuk penyimpangan sehingga menutup kemungkinan bagi penyalah gunaan terhadapnya.

Masih terkait dengan hasil pemilu, faksi-faksi resistensi Irak dalam sebuah statmen bersama bersumpah tak akan kendur di depan segala upaya pembubaran PMF. Mereka juga mengaku akan menunjukkan bukti-bukti adanya penyimpangan dalam pemilu dan rekayasa hasilnya. Menurut mereka, Komisi Tinggi Pemilu telah memperlihatkan ketidak layakannya dalam menjalankan tugas dan menunaikan amanat pemilu.

Menurut data awal yang dilansir oleh beberapa media Irak, dari pihak Syiah kelompok ulama muda Moqtada Sadr memimpin perolehan suara dengan merebut 73 kursi parlemen.

Sedangkan dari pihak Sunni, aliansi yang dipimpin oleh Mohammad Al-Halbusi, mantan ketua parlemen Irak, mendapat suara terbanyak dan merebut 38 kursi parlemen, dan dari pihak Kurdi, suara terbesar diraih oleh Partai Demokrasi Kurdistan Irak yang telah merebut 32 kursi. (mm/tasnim)

Baca juga:

Hasil Sementara Pemilu Parlemen Irak, Kelompok Sadr Pimpin Perolehan Suara

Khazali: UEA Bisa Saja Memanipulasi Hasil Pemilu Irak

DISKUSI: