Soal Nuklir dan Rudal, Rouhani Tegaskan Iran Pantang Menyerah kepada Tekanan

0
82

Teheran, LiputanIslam.com –   Presiden Iran Hassan Rouhani menegaskan negaranya akan terus melawan semua tekanan, dan baru akan kembali kepada kewajibannya jika pihak lain kembali kepada komitmennya terhadap perjanjian nuklir. Dia juga menegaskan bahwa Iran berhak membalas pembunuhan ilmuwan nuklirnya, Mohsen Fakhrizadeh.

Dalam konferensi pers di hadapan media lokal dan asing, Senin (14/12), Rouhani menyebutkan bahwa perang ekonomi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah dikalahkan dan seluruh dunia mengakui itu, dan bahwa seluruh dunia menekan AS agar kembali ke kesepakatan nuklir.

“Kami tidak memperkenankan penghapusan perjanjian nuklir ini, karena tujuan utama Trump adalah menghancurkan perjanjian ini, tapi dia juga gagal melakukannya, dan kami mengerahkan upaya kami untuk menjaga perjanjian tetap hidup agar memainkan peran yang sesuai di negara ini,” ujar Presiden Iran.

“Kami telah memperoleh hak-hak kami dalam perjanjian nuklir, tentu kami tidak bermaksud bahwa tak ada kekurangan dalam perjanjian ini, mungkin ada kesalahan dalam perjanjian ini, tapi ini merupakan perjanjian penting, bersejarah dan belum pernah terjadi sebelumnya karena satu negara bernegosiasi dengan enam negara besar di tengah sanksi dan mampu mencapai kesuksesan,” imbuhnya.

Rouhani menilai perjanjian nuklir itu bertahan melawan kecongkakan Trump namun dengan kondisi patah tangan dan kaki, dan telah tiga kali mempermalukan AS dan Trump di PBB.

Dia juga menegaskan, “Diakhirinya sanksi berarti bahwa bangsa ini telah meraih salah satu haknya yang sah, dan diakhirnya sanksi yang diterapkan oleh AS berarti diakhirinya terorisme dan kejahatan ekonomi. Sanksi ini harus dilanggar, dan AS harus kembali pada komitmen yang telah dibuat sebelumnya, dan jika semua orang kembali kepada komitmen mereka, kamipun akan kembali pada komitmen kami.”

Rouhani memperingatkan, “Jika kelompok 5 + 1 (AS, Inggris, Prancis, Rusia, China dan Jerman) memenuhi semua komitmennya maka kami akan sepenuhnya kembali berkomitmen. Tidak ada apapun yang dapat menghalangi kami mengambil tindakan timbal balik  demi implementasi komitmen sepenuhnya.”

Rouhani menjelaskan, “Kami mulai mengurangi komitmen kami pada Mei 2019 dalam lima tahap, dan mengumumkan kepada pihak lain bahwa Republik Islam Iran tidak lagi peduli terhadap pembatasan aktivitas nuklir, dan pada tahap kelima kami mengumumkan bahwa kami telah mengurangi komitmen kami dan berterus terang menyatakan bahwa tidak akan ada komitmen lebih lanjut untuk pengayaan.”

Mengenai permintaan presiden terpilih AS Joe Biden serta Jerman dan Prancis untuk pertimbangan kembali kesepakatan nuklir tersebut, Rouhani mengatakan, “Saya belum mendengar dari mereka bahwa kita harus memiliki kesepakatan lain. Itu kata-kata Trump. Kalaupun pembicaraan ini ada, kami tidak akan menerima prasyarat apa pun. Perjanjian nuklir ini tak dapat dinegosiasikan (lagi), (karena) sudah dinegosiasikan sebelumnya, dan harus dilaksanakan.”

Mengenai proyek rudal Iran dan peran regional Iran, Rouhani menegaskan bahwa hal itu tak ada hubungannya dengan perjanjian nuklir, dan saat itu sudah dikemukakan dan dinyatakan tidak dapat dinegosiasikan.

Ditanya mengenai bagaimana Iran akan membalas pembunuhan ilmuwan nuklirnya, Mohsen Fakhrizadeh, Rouhani memastikan Fakhrizadeh dibunuh oleh pihak-pihak yang menginginkan pecahnya perang di Timteng menjelang berakhirnya masa jabatan Trump.  Dia juga menegaskan bahwa Iran berhak melakukan pembalasan pada saatnya yang tepat. (mm/raialyoum)

Baca juga:

Pasukan Iran Pantau Pesawat Pembom B-52 Milik AS

 Klarifikasi Menlu Turki: Erdogan Tak Sadar Puisi yang Dibacanya Melukai Perasaan Iran

 

DISKUSI: