Setelah Menggempur Pasar di Yaman, Ini Komentar Aliansi Saudi-UEA

0
167

Riyadh, LiputanIslam.com –  Pasukan koalisi Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) mengumumkan pihaknya sedang meninjau catatan hasil final mengenai operasi militernya terhadap Ansarullah (Houthi) di provinsi Sa’dah menyusul adanya laporan jatuhnya banyak korban tewas dan luka warga sipil.

Juru bicara koalisi itu, Kol. Turki al-Maliki, Kamis (26/12/2019), menjelaskan bahwa pihaknya sedang dalam proses merampungkan peninjauan prosedur pasca-kerja untuk operasi yang dilakukan di distrik Monabbih, provinsi Sa’dah pada tanggal 24 Desember lalu, mengingat “kemungkinan adanya kerugian aksidental dan kerusakan sampingan” serta “kemungkinan jatuhnya korban sipil” dalam proses serangan terhadap “tempat-tempat perkumpulan anasir milisi Houthi.”

Al-Maliki menyebutkan bahwa semua dokumen terkait dengan insiden ini dilimpahkan kepada “tim gabungan” untuk evaluasi dan pengumuman mengenai hasilnya.

Dia mengklaim pihaknya “berkomitmen menerapkan standar tertinggi penargetan dan memraktikkan prinsip-prinsip yang ada dalam hukum humaniter internasional serta kaidah-kaidah konvensional operasi militer.”

Kelompok pejuang Ansarullah Selasa lalu mengumumkan bahwa pasukan Saudi dan sekutunya telah menyerang Pasar al-Raqw di distrik Monabbih, provinsi Sa’dah, di bagian barat laut Yaman.

Kelompok yang dimusuhi Saudi dan sekutunya itu juga menyebut Prancis turut bertanggungjawab atas kejahatan ini karena senjata yang digunakan dalam serangan itu berasal dari Prancis.

Laporan terbaru dari PBB menyatakan sebanyak 17 orang tewas akibat serangan brutal tersebut, 12 di antaranya imigran dari Ethiopia.

PBB mengecam keras serangan ke pasar tersebut, dan mencatat peristiwa ini sebagai kasus yang ketiga kalinya pasar mendapat serangan militer.

Baca: Yaman: Serangan Arab Saudi Langgar Hukum HAM Internasional

Sayangnya, PBB enggan menyebutkan pihak mana yang melancarkan, meskipun sudah jelas-jelas dilakukan oleh pasukan koalisi pimpinan Saudi.

Sejak tahun 2014 Yaman dilanda konflik antara Ansarullah dan pasukan loyalis presiden pelarian Yaman Abd Rabbuh Mansour Hadi. Konflik ini membesar setelah pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi melakukan intervensi militer membela Mansour Hadi sejak Maret 2015.

Baca: Saudi Serang Pasar Hingga Jatuh Puluhan Korban, Tentara Yaman Mengancam akan Membalas

Sejak intervensi itulah korban dalam jumlah besar berjatuhan. Jumlah jorban tewas tercatat resmi sekira 10,000 orang, sementara korban luka mencapai lebih dari 56,000 orang, namun pihak lembaga-lembaga kemanusiaan menyatakan jumlah korban jauh lebih besar dari itu.

Selain itu, sebanyak 3,3 juta orang mengungsi, 24,1 orang atau lebih dari sepertiga populasi negara ini, membutuhkan bantuan, menurut catatan PBB yang bahkan menyebut krisis Yaman sebagai yang terburuk di dunia sekarang.  (mm/raialyoum/aljazeera)

DISKUSI: