Sayid Nasrallah: Demokrat maupun Republik di AS Sama Kejinya bagi Timteng

0
110

Beirut, LiputanIslam.com   Sekjen Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah menyatakan tak perlu berharap kepada AS, baik dari kalangan Demokrat maupun Republik, untuk persoalan Palestina, Lebanon dan lain-lain, karena kedua partai di AS itu sama-sama mendukung kejahatan Rezim Zionis Israel.

“Pemerintah Republik maupun Demokrat sama-sama telah melancarkan perang dan invasi,” tegasnya dalam pidato pada peringatan Hari Syuhada di Lebanon, Jumat (11/11), ketika menyinggung pemilu paruh waktu AS.

Dia menambahkan, “Demokrat dan Republik selalu mendukung kejahatan dan pembantaian Israel terhadap rakyat Palestina. Tujuan semua pemerintahan AS serupa, hanya taktik mereka yang berbeda.”

Sayid Nasrallah menilai bahwa pihak pertama yang bertanggung jawab atas kelangsungan rezim Zionis di Timteng tersebut adalah pemerintahan AS.

“Kita harus mengandalkan kekuatan kita sendiri dan teman-teman kita daripada menggantungkan harapan pada orang Amerika,” ujarnya.

Dia menyerukan kepada orang-orang Lebanon untuk tidak menyerah pada “kutukan AS,” yang bermaksud melindungi Israel.

Mengenai perjanjian demarkasi antara Lebanon dan Israel, Sayid Nasrallah mengatakan, “Washington tidak menyimpulkan perjanjian demarkasi perbatasan maritim demi Lebanon, melainkan demi menyelamatkan kawasan dari perang karena prioritasnya sekarang adalah Ukraina, Rusia, dan energi.”

Mengenai pemilu di Israel yang berujung naiknya sayap kanan, Sekjen Hizbullah berkomentar, “Tidak masalah bagi kita siapa yang memenangkan pemilihan Israel, mereka semua sama-sama terburuk, dan mereka semua adalah penindas.”

Dia menjelaskan bahwa semua pemerintah Israel sejak masa Ben-Gurion sampai sekarang sama saja, dan segalanya tidak akan berubah meskipun koalisi sayap kanan menang.

Dia juga menyebutkan pemilu itu mempengaruhi konflik internal di dalam rezim Zionis dan akan memperburuk perpecahan Zionis serta  “mempercepat” keruntuhan Israel.

Sayid Nasrallah memastikan bahwa Netanyahu yang menang dalam pemilu Israel tidak akan dapat mencabut kesepakatan maritim dengan Lebanon.

Netanyahu yang pernah menjabat sebagai perdana menteri dari 2009 hingga 2021 telah memenangi pemilu baru-baru ini meskipun terjerat tuduhan korupsi dan penyalah gunaan jabatan.

Netanyahu dan sekutu sayap kanannya ditengara akan membentuk pemerintahan yang tergolong paling ekstrem dalam sejarah Israel. (mm/presstv)

Baca juga:

Wasekjen Hizbullah: Barat Gunakan Israel sebagai Tukang Pukul

Gantz: Rencana Serangan terhadap Iran Sudah Siap, Tapi Masih Perlu Dipelajari Secara Cermat

DISKUSI: