Pentagon Sebutkan Angka Baru “34” untuk Tentara AS yang Terluka akibat Rudal Iran

0
107

Washington,LiputanIslam.com –  Kementerian Pertahanan AS Pentagon mengatakan sebanyak 34 tentara AS telah didiagnosa mengalami cedera otak traumatik akibat serangan rudal Iran terhadap pangkalan udara di Irak, dan setengah dari pasukan AS telah kembali ke tugas militer mereka.

Juru bicara Pentagon Jonathan Hoffman menyatakan bahwa 17 dari 34 tentara itu masih dalam pengawasan medis.

Presiden AS Donald Trump semula mengaku diberitahu bahwa tidak ada pasukan yang terluka dalam serangan rudal balistik pasukan elit Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) 8 Januari tersebut.

Pihak militer mengatakan gejala cidera tidak segera dilaporkan setelah serangan itu dan dalam beberapa kasus diketahui beberapa hari kemudian.

Ketika ada laporan pertama yang menyebutkan sejumlah tentara AS terluka, Trump dengan entengnya mengatakan bahwa mereka hanya “sakit kepala” dan menyebut kasus-kasus itu tidak seserius cedera yang melibatkan kehilangan anggota badan.

Presiden AS Donald Trump kunjungi tentara Amerika di pangkalan militer Ain al-Assad, 26 Desember 2018. (Photo by Reuters)

Pengungkapan Hoffman bahwa 34 telah didiagnosa dengan gejala cedera otak traumatik, atau TBI, adalah pembaruan pertama tentang jumlah tentara yang terluka akibatr= serangan rudal Iran terhadap pangkalan udara al-Asad di Irak barat sejak Pentagon mengatakan pada 17 Januari bahwa 11 personil layanan telah diterbangkan keluar dari Irak dengan gejala antara lain gegar otak.

Baca:Makar Baru AS: Membentuk Negara Sunni Demi Amankan Tentara di Irak

Kementerian Pertahanan AS Pentagon pada Jumat 3 Januari 2020 mengumumkan bahwa serangan udara AS di dekat Bandara Internasional Baghdad pada dini hari itu telah menewaskan komandan Pasukan Quds IRGC Jenderal Qassem Soleimani dan wakil ketua pasukan relawan Irak al-Hashd al-Shaabi, Abu Mahdi al-Muhandis, serta beberapa orang lain yang menyertai keduanya.

Iran menyebut serangan itu sebagai aksi teror, dan pada dini hari Rabu 8 Januari 2020 IRGC membalas serangan AS itu dengan menghantamkan belasan rudal balistiknya ke dua pangkalan militer AS di Irak, termasuk Lanud Ain Assad yang ditempati oleh sekira 1500 tentara AS.

IRGC mengklaim serangannya itu menewaskan 80 tentara AS, sementara Presiden AS Donald Trump semula mengklaim serangan balasan Iran itu tidak menjatuhkan korban tewas maupun luka, namun belakangan Pentagon secara resmi menyatakan 34 tentara AS cidera akibat serangan rudal balistik tersebut.

Pada 10 Januari lalu pemerintah Irak meminta pemerintah AS mengirim delegasi untuk membahas mekanisme penarikan pasukan dari Irak, namun AS menolaknya dan memberikan sinyal ancaman untuk menerapkan embargo terhadap Irak jika Baghdad tetap bersikeras dengan tuntutan pengeluaran pasukan AS dari Irak.

Dan pada Jumat 23 Januari terjadi unjuk rasa jutaan rakyat Irak di Baghdad untuk menegaskan tuntutan mereka agar tentara AS angkat kaki dari Irak.

Baca:Baghdad Dilanda Unjuk Rasa Akbar Anti-AS, Para Ulama Turut Bersuara

(mm/alalam/cbc)

DISKUSI:
SHARE THIS: