Pawai Bendera Ekstrimis Zionis Israel di Quds Panaskan Situasi

0
162

Quds, LiputanIslam.com  Aksi pawai bendera kaum Zionis Yahudi ultra-nasionalis di Kota Lama Quds, Ahad (29/5), menambah panas suhu konflik Palestina-Israel.

Pawai yang dilakukan untuk menandai pendudukan Israel atas Quds Timur itu melibatkan ribuan massa Zionis dan melebihi jumlah pasukan keamanan jumlah pasukan keamanan Israel yang dikerahkan untuk mengendalikan massa.

Mereka  beraksi setelah sayap kanan Israel melanggar status quo dengan menyerbu kompleks Masjid Al-Aqsha – situs tersuci ketiga Islam di mana undang-undang telah melarang orang Yahudi beribadah di dalamnya meski  meski mereka berkeyakinan bahwa di situ kuil alkitabiah pernah berdiri.

Israel merebut Quds Timur, termasuk Kota Tua, dalam perang Timur Tengah 1967 dan kemudian mencaploknya dalam sebuah tindakan yang tidak pernah diakui secara internasional.

Orang-orang Palestina, yang mencanangkan Quds Timur sebagai ibu kota negara masa depan mereka, mengkhawatirkan pawai bendera dan penyerbuan Al-Aqsa itu menjurus pada pengambil alihan atau pembagian komplek Masjid Al-Aqsa, meski Israel  mengaku tetap berkomitmen pada status quo.

Perdana Menteri Israel Naftali Bennett enggan menyetujui perubahan apa pun pada komplek Al-Aqsa, meski ada seruan untuk itu dari beberapa sekutu koalisinya sendiri.

“Pada hari ini, kami berjanji bahwa Yerusalem tidak akan pernah terpecah,” ujarnya dalam pertemuan pemerintah Israel, setelah akhir putaran pertama serbuan massa Zionis ke komplek Al-Aqsa.

Bennett menambahkan bahwa “mengibarkan bendera Israel di Yerusalem adalah sesuatu yang normal.”

Di wilayah pendudukan Palestina, massa Palestina memrotes pawai itu dengan membakar bendera Israel, dan dalam banyak kasus menyebabkan konfrontasi antara warga Palestina dan pasukan keamanan Israel. Puluhan warga Palestina telah ditangkap dan lebih dari 100 orang terluka.

Warga Palestina juga sempat menerbangkan drone yang mengibarkan bendera Palestina di atas kerumunan massa Zionis, dan tampak pula mereka mengibarkan bendera-bendera Palestina dari balkon rumah-rumah di tepi jalan yang dilintasi massa Zionis.

Itamar Ben-Gvir, pemimpin partai oposisi ultranasionalis kecil di Knesset, memasuki komplek Al-Aqsa pada pagi hari Ahad  bersama puluhan pendukungnya.

Pasukan Israel menduduki atap Masjid al-Qibli di kompleks tersebut dan mengepung para jamaah Muslim di dalamnya agar warga pemukim Zionis leluasa mekakukan aksinya.

Israel mencegah jurnalis dan fotografer Palestina memasuki Masjid Al-Aqsa dan mengancam mereka dengan penangkapan.

Pasukan Israel menembakkan peluru karet ke pengunjuk rasa Palestina di kompleks itu, dalam upaya untuk membubarkan mereka.

Polisi Israel menyatakan setidaknya 18 warga Palestina ditangkap dari dalam Kota Lama Quds Timur.

Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina mengabaran bahwa para pemukim Zionis menyerang kru ambulan yang berafiliasi dengannya di Kota Lama ketika mereka mencoba menjangkau korban luka di lingkungan al-Wad.

Pasukan Israel mendirikan penghalang dan mencegah akses Palestina ke Gerbang Damaskus, pintu masuk utama ke Kota Tua.

Sekitar 3.000 polisi Israel dikerahkan di seluruh kota menjelang pawai, yang dimulai pada pukul 4 sore waktu setempat dan dijadwal berakhir pada pukul 10 malam.

Yel-yel anti Arab dan Palestina termasuk teriakan “Mampus Arab” dan “Nakba kedua akan datang” serta serangan terhadap rumah dan toko Palestina di Kota Lama juga mewarnai aksi pemukim Zionis.

Setiap tahun, ribuan kelompok sayap kanan Israel berpartisipasi dalam pawai demikian dengan mengibarkan bendera Israel dan menyanyikan lagu-lagu saat mereka melewati jalan-jalan sempit di kawasan Muslim Kota Tua.

Juru bicara Otoritas Palestina Nabil Abu Rudeineh menyebut Israel merasa di atas hukum.

Dalam sebuah wawancara dengan radio Voice of Palestine, Abu Rudeinah mengatakan: “Israel bermain api dengan membiarkan pemukim secara tidak bertanggung jawab dan sembrono menodai kesucian di Quds yang diduduki.”

Dia meminta masyarakat internasional, terutama pemerintah AS, untuk “memikul tanggung jawabnya dan tidak terlibat dalam standar ganda”.

Pawai tersebut dilakukan di tengah keruhnya situasi di mana polisi Israel telah berulang kali menyerbu komplek Al-Aqsa, dan sering kali menembakkan peluru karet, gas air mata, dan granat kejut terhadap para pengunjuk rasa dan melukai ratusan orang.

Selain itu, sekitar 19 orang Israel telah dibunuh oleh orang Palestina di Israel dan Tepi Barat dalam beberapa pekan terakhir, sementara lebih dari 35 orang Palestina telah dibunuh oleh pasukan Israel di Tepi Barat, termasuk remaja berusia 15 tahun yang gugur Jumat lalu di Betlehem.

Wartawan Al Jazeera Shireen Abu Akleh juga dibunuh oleh pasukan Israel pada 11 Mei di Jenin, di Tepi Barat, saat meliput serangan militer Israel.

Sabtu lalu Hamas telah merilis seruan kepada warga Palestina di Gaza, Tepi Barat, Quds dan warga Palestina di Israel (Palestina pendudukan 1948) “untuk bangkit pada hari Minggu demi membela Quds dan Masjid Al-Aqsa”.

Pawai Bendera bulan Mei tahun lalu memprovokasi tembakan roket dari Gaza, yang ditanggapi Israel dengan mengebom Gaza, hingga kemudian pecahlah perang 11 hari yang menewaskan 260 orang Palestina dan 13 orang Israel. (mm/aljazeera/raialyoum)

Baca juga:

Lawan Pawai Bendera Israel, Palestina Serukan ‘Hari Bendera Palestina’

Hamas: Israel akan Gigit Jari jika Agresi Masjid Aqsa

 

DISKUSI: