Menlu Saudi Nyatakan Tak Ada “NATO Arab” dan Aliansi Anti-Iran, Hizbullah Kutuk Saudi

0
186

Jeddah, LiputanIslam.com   Menlu Arab Saudi Faisal bin Farhan menyatakan “tak ada sesuatu bernama NATO Arab” dan menegaskan bahwa Kongerensi Tingkat Tinggi (KTT) Jeddah Keamanan dan Pembangunan tidak membicarakan “aliansi pertahanan” bersama Israel anti Iran. Bersamaan dengan ini, Hizbullah mengutuk keputusan Saudi memperkenankan maskapai penerbangan Israel memanfaatkan zona udara Saudi.

Pernyataan mengenai NATO Arab itu dikatakan Farhan dalam konferensi pers yang ditayangkan oleh saluran lokal Al-Ekhbariya pada penutupan KTT  Jeddah, Sabtu (16/7).

KTT itu dihadiri oleh para pemimpin negara Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, Oman, Mesir, Yordania, Irak dan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden, yang segera meninggalkan Saudi setelah KTT berakhir pada hari kedua kunjungannya yang pertama kalinya ke Saudi sejak dia menjabat presiden AS pada 20 Januari 2021.

“Tidak ada yang namanya NATO Arab, dan hal demikian tidak dibahas di KTT,” ujar Bin Farhan.

NATO Arab adalah istilah yang berarti aliansi pertahanan di kawasan Timur Tengah yang bisa jadi mencakup Israel, untuk menghadapi pengaruh dan apa yang dianggap oleh rezim Zionis Israel dan sejumlah rezim Arab sebagai “ancaman” Iran.

Mengenai perkembangan negosiasi Saudi-Iran, yang dimediasi oleh Irak sejak 2021, Menlu Saudi mengatakan, “Pembicaraan itu positif, tapi belum mencapai hasil yang diinginkan, dan Irak mendorongnya ke depan dengan cara yang membuat kami melanjutkan pembicaraan ini.”

Dia menambahkan, “Kami berharap untuk perkembangan positif di masa depan, dan kami terus mencari pemahaman, dan kami berharap dapat melihat tetangga Iran dalam semangat ini.”

Dia membantah bahwa Perdana Menteri Irak Mustafa Al-Kazemi “membawa pesan dari Iran ke KTT, atau bahwa Teheran mengirim pesan atau inisiatif.”

Mengenai kerjasama dengan Israel, Bin Farhan mengatakan. “Tidak ada usulan kerjasama militer atau teknis apaun dengan Israel, juga tidak dibahas di KTT, dan kami (Saudi) juga tidak membahasnya.”

Dia menekankan bahwa negaranya atau KTT tidak membahas “aliansi pertahanan antara negara-negara Teluk dengan Israel melawan Iran,” dan bahwa “KTT dan Arab Saudi tidak termasuk dalam diskusi demikian.”

Sebelumnya, saat bicara mengenai KTT Jeddah, Putra Mahkota Saudi Mohamed bin Salman menyeru Iran untuk tidak melakukan yang dia sebut “campur tangan”.

“Kami serukan kepada Iran untuk bekerja sama dan tidak ikut campur dalam urusan negara-negara di kawasan,” katanya.

Pembukaan Zona Udara Saudi untuk Israel

Mengenai keputusan kerajaan pada hari Jumat untuk membuka wilayah udaranya untuk semua pesawat, yang disambut oleh Israel, Bin Farhan mengatakan, “Ini tidak berarti hubungan diplomatik dengan Israel, juga tidak berarti langkah-langkah lain.”

Jumat lalu, bersamaan dengan kehadiran Biden di Israel, Otoritas Umum Penerbangan Sipil di Arab Saudi mengumumkan pembukaan wilayah udaranya untuk semua maskapai penerbangan yang memenuhi persyaratan otoritas untuk melintasi wilayah udara, tanpa keputusan yang mengecualikan pesawat sipil Israel.

Keputusan Saudi membuka zona udara untuk Israel itu mendapat kecaman keras dari Hizbullah, Sabtu. Anggota Dewan Pusat Hizbullah yang berbasis di Lebanon, Syeikh Nabil Qaouk, mengatakan, “Ketika rezim Saudi memperkenankan pesawat-pesawar Israel terbang di angkasa Negeri Haramain maka Saudi mengusik dan memprovokasi 1.8 miliar umat Islam di dunia.”

Dia juga mengatakan, “Ketika rezim Saudi bekerjasama keamanan dan militer dengan entitas Zionis maka Saudi menjadi mitra Israel dalam permusuhan terhadap Suriah, Lebanon dan Palestina. Ini sudah cukup sebagai pengkhianatan terhadap umat.” (mm/raialyoum)

Baca juga:

Proyek Biden Mana pun Tidak Bisa Lindungi Israel

Hizbullah Percaya Diri Mampu Menangkan Perang Mendatang

DISKUSI: