Brussel, LiputanIslam.com –  Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel Al-Jubeir melaporkan apa yang disebutnya terorisme Iran dan kelompok Ansarullah (Houthi) Yaman kepada parlemen Eropa.

Seperti diberita Rai al-Youm, Selasa (21/1/2020), dalam pernyataan di depan Komisi Hubungan Luar Negeri Parlemen Eropa, Al-Jubeir mengklaim bahwa Arab Saudi “tidak memulai perang di Yaman, melainkan orang-orang Houthi-lah yang melakukannya.”

Dia menambahkan, “Saudi telah mengajukan dana US$  14 miliar untuk pertumbuhan Yaman, sedangkan Houthi telah melepaskan 300 rudal dan 100 pesawat nirawak ke wilayah Saudi.”

Al-Jubeir kemudian menyudutkan Iran dengan menyatakan, “Di Irak, Libanon, dan Iran sendiri orang-orang berunjuk rasa anti kebijakan rezim Teheran.”

Dia mengklaim, “Kerajaan (Saudi) memerangi terorisme untuk menumpasnya, sedangkan Iran adalah negara terbesar yang mensponspori terorisme di dunia… Kerjaan ini akan terus bekerja memerangi terorisme demi menumpasnya, dan sudah lama memburu setiap orang yang menyebarkan ekstremisme dan terorisme.”

Baca: Ansharullah: Bukan Kami yang Menyerang Marib

Menteri Luar Negeri Saudi juga menuding Qatar sebagai negara yang mensponsori terorisme dengan menyatakan bahwa Saudi mengharapkan Qatar “mengubah perilaku dan dukungannya kepada terorisme”.

“Qatar memberikan banyak dana kepada kelompok-kelompok teroris, mencampuri urusan Kerajaan Saudi, menganjurkan kebencian, dan kami berharap Qatar mengubah perilakunya dan bertindak sebagai sebuah negara,” tuding Al-Jubeir.

Dia menegaskan, “Berhentilah mengajari kami, berhentilah berurusan dengan kami… Kami memiliki sistem pengadilan. Sistem pengadilan independen, dan kami tidak mengizinkan siapa pun mempertanyakan bagaimana sistem pengadilan kami beroperasi dengan segala hormat.”

Dia melanjutkan, “Kami adalah negara berdaulat; kami bukan republik pisang, dan kami akan menghormati keputusan terhadap sistem pengadilan kami.”

Dia lantas memuji apa yang disebutnya peranan penting yang dimainkan Eropa di bidang ekonomi dan militer di kawasan Timur Tengah.

Sebelumnya, Al-Jubeir mengadakan pembicaraan dengan Kepala Misi Uni Eropa untuk Hubungan dengan Semenanjung Arab, Hannah Newman, masalah regional dan internasional yang menjadi perhatian bersama. Kedua membahas berbagai isu regional dan global yang menjadi perhatian kedua belah pihak.

Website Middle East Eye, saat memberitakan pernyataan Al-Jubeir itu menyebut Arab Saudi sebagai monarki absolut di mana para bangsawan senior hampir sepenuhnya mengendalikan semua cabang negara serta kekuatan untuk mengampuni tersangka kejahatan serius.

Sistem hukum kerajaan itu menghadapi kecaman hebat dari khalayak dunia pada akhir tahun lalu karena membebaskan asisten Pangeran Mahkota Saudi Mohammed bin Salman dari jerat hukum kasus pembunuhan wartawan Saudi Jamal Khashoggi.

Terkait kasus yang menggemparkan dunia itu pengasilan Saudi telah menjatuhkan hukuman mati pada lima orang atas keterlibatan dalam pembunuhan tersebut.

Baca: Mantan Ketua Intelijen Saudi Sebut Jenderal Soleimani “Sosok Pintar” Yang Sulit Dicarikan Gantinya

Khashoggi yang bekerja sebagai kolumnis Washington Post dan Middle East Eye telah dibunuh dan dimutilasi oleh agen pemerintah Saudi di konsulat kerajaan ini di Istanbul, Turki, pada Oktober 2018.

Demi membebaskan Putra Mahkota Saudi Mohamed bin Salman dari dugaan terlibat dalam kejahatan sadis itu, Riyadh menyatakan bahwa pembunuhan itu merupakan hasil dari operasi ilegal yang terjadi tanpa sepengetahuan Mohamed bin Salman dan pejabat tinggi lainnya. (mm/raialyoum/middleeasteye)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*