TelAviv, LiputanIslam.com – Media Israel pada hari Selasa (15/8), melaporkan bahwa Sekjen Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah semakin percaya kepada akurasi rudal-rudal gerakan resistensi yang berbasis di Lebanon ini, dan menekankan bahwa itu “merupakan keseimbangan ketakutan dan ancaman strategis yang harus ditangani Israel.”
Narasumber pakar urusan Arab di Saluran TV 13 Israel, Hezi Simantov mengatakan, “Hizbullah memiliki 170.000 rudal dan roket, termasuk rudal presisi, yang dapat sangat membahayakan front Israel.”
Simantov menambahkan bahwa Sayid Nasrallah “berbicara tentang perang rudal presisi yang dapat menjangkau ke mana saja, bahkan reaktor Dimona, dan akan membawa Israel kembali ke zaman batu,” dan bahwa “meningkatnya kepercayaan diri Nasrallah adalah cerita utamanya.”
Sementara itu, Brigjen Pasukan Cadangan dan pendiri Israel Forum Pertahanan dan Keamananan (Defense And Security Forum/IDSF), Amir Avivi, mengatakan bahwa Nasrallah berbicara tentang beberapa hal penting yang penting untuk disimak, termasuk bahwa “tentara Israel baru memasuki posisi bertahan sejak 2006 ”. Menurut Avivi, Nasrallah memandang kemampuan “serangan” tentara Israel tidak cukup kuat.
Dia menilai Sekjen Hizbullah mengancam bahwa “ratusan rudal presisi dapat diluncurkan oleh Hizbullah ke pangkalan angkatan udara, Kiria, dan pembangkit listrik, dengan keyakinan yang bertambah,” sementara “akan datang saatnya kita harus menghadapinya. Ini bukan jenis ancaman yang di mana kita memperkenankan Hizbullah membekali diri dengan senjata demikian.”
Dalam pidato pada peringatan 17 tahun kemenangan dalam Perang Juli 2006, Sayid Nasrallah mengancam para pemimpin Zionis Israel dengan menegaskan, “Jika kalian berperang dengan Lebanon maka kalian akan kembali ke zaman batu.”
Dia juga mengatakan, “Jika pertempuran berkembang menjadi perang dengan Poros Resistensi maka tidak akan ada yang namanya Israel…. Jalur Poros Resistensi adalah proses yang naik.”
Sayid Nasrallah menjelaskan, “Musuh telah beralih dari ofensif, dan dari inisiator, menjadi defensif, sementara tentara Israel saat ini berada dalam kondisi terburuk dibandingkan dengan masa lalu.”
Dia menilai tentara Israel “menderita semangat juang yang lemah, minim kepercayaan antara anggota, komandan dan tingkat politik, jumlah unit tempur yang lemah, dan tidak adanya pencapaian darat.”
Dia menegaskan, “Upaya yang gagal untuk masuk ke wilayah Gaza adalah bukti untuk itu.” (mm/alalam)
Baca juga: