Nairobi, LiputanIslam.com – Presiden Iran Sayid Ebrahim Raisi mendapat sambutan dengan karpet merah dari sejawatnya dari Kenya William Ruto ketika memulai safarinya ke tiga negara Afrika pada hari Rabu (12/7), yang disebut-sebut Teheran sebagai “awal baru” dalam hubungan dengan benua itu.
Safari Raisi ke Afrika ini, termasuk Uganda dan Zimbabwe, adalah yang pertama dilakukan oleh seorang presiden Iran dalam lebih dari satu dekade, sebagai upaya untuk mendiversifikasi hubungan ekonomi dalam menghadapi sanksi Amerika Serikat (AS).
Safari yang dimulai pada Selasa itu ditunda satu hari untuk penyelesaian nota kesepahaman yang akan ditandatangani Raisi dan Ruto, menurut Kemenlu Kenya.
Kementerian itu mengumumkan bahwa menteri Iran dan Kenya menandatangani lima nota kesepahaman pada hari Rabu terkait dengan teknologi informasi, perikanan, produk ternak dan promosi investasi.
Dalam jumpa pers usai pertemuan dengan Ruto, Raisi, yang sebelumnya menyebut Afrika sebagai “benua peluang”, mengatakan ingin meningkatkan hubungan komersial dengan negara-negara Afrika.
“Tidak ada di antara kita yang puas dengan volume perdagangan saat ini dan pertukaran ekonomi antar negara saat ini,” katanya.
Kemenlu Iran Sabtu lalu menyatakan pihaknya memperkirakan perdagangan dengan negara-negara Afrika akan meningkat menjadi lebih dari $2 miliar tahun ini, tanpa memberikan angka perbandingan untuk tahun 2022.
Presiden Kenya mengatakan dia telah meminta komitmen Raisi untuk memfasilitasi ekspor lebih banyak teh, daging, dan produk pertanian Kenya lainnya ke Iran dan ke negara-negara Asia Tengah melalui Iran.
Di bawah Ruto, Kenya bergumul dengan utang dan meningkatnya biaya hidup, dengan protes diperkirakan akan berlanjut pada Rabu di ibu kota, Nairobi, dan di tempat lain.
Iran meningkatkan jangkauan diplomatiknya ke negara-negara dunia berkembang setelah Presiden AS saat itu Donald Trump membatalkan pakta nuklir pada 2018 dan menerapkan kembali sanksi. Pada bulan Juni, Raisi telah mengunjungi Venezuela, Kuba, dan Nikaragua untuk menopang dukungan dengan sekutu yang juga dibebani sanksi AS. (mm/aljazeera)
Baca juga: