Kesal dalam Masalah Nuklir, Ayatullah Khamenei: Tak Ada Peluang untuk Percaya kepada Barat

0
315

Teheran, LiputanIslam.com –  Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei menegaskan bahwa Barat tak bisa dipercaya sehingga jangan sampai program-program dalam negeri Iran dikaitkan pada pengawasan Barat.

Dalam kata sambutan pada pertemuan terakhir dengan Hassan Rouhani selaku presiden Iran dan para anggota kabinetnya, Rabu (28/7), Ayatullah Khamenei menyampaikan ucapan selamat atas Hari Ghadir Khum 18 Dzulhijjah, yaitu perayaan hari pengangkatan Imam Ali bin Abi Thalib kw oleh Rasulullah saw sebagai penggantinya.

Dia menyebutkan bahwa peristiwa Ghadir Khum tak dapat dipungkiri, dan bahwa Allamah Al-Amini telah mendata kemutawatiran hadis ini dari 110 sahabat Nabi dengan jalur-jalur sanad yang kuat, dan karena itu pula beberapa ulama dan pemikir terkemuka Ahlussunnah juga mengkonfirmasi peristiwa pengangkatan Imam Ali tersebut.

Di bagian lain pidatonya, Ayatullah Khamenei menyinggung pergumulan negaranya dengan negara-negara Arogan Barat, terutama AS, sembari mewanti bahwa tak ada peluang bagi bangsa Iran untuk percaya kepada Barat.

“Sudah jelas di era pemerintahan (Rouhani) ini bahwa tak ada peluang untuk percaya kepada Barat. Alih-Alih membantu, Barat justru akan melepaskan pukulan selagi mereka sanggup melakukannya. Jika mereka tak melakukannya maka itu hanya lantaran ketidak sanggupan mereka,” tegasnya.

Dia menambahkan, “Sama sekali tak boleh mengaitkan program-program dalam negeri dengan pengawasan Barat karena sudah pasti akan gagal… Anda sekalian tak akan sukses selagi mengaitkan urusan ini dengan Barat dan negosiasi dengannya dan dengan AS, dan Anda telah berhasil dan melangkah maju ke depan ketika Anda bergerak tanpa menaruh kepercayaan kepada Barat dan memutus harapan kepadanya.”

Ayatullah Khamenei mengapresiasi performa perundingan nuklir pemerintahan Presiden Rouhani dengan negara-negara terkemuka dunia di Wina, Swiss, dan menyebut para pejabat AS hanya mengobral kata dan mengumbar janji tapi tetap bersikukuh pada kecongkakan sikapnya sehingga enggan memberikan langkah maju.

“AS melontarkan kata dan berjanji akan mencabut sanksi, tapi tak mencabutnya dan tak akan pernah mencabutnya, sebagaimana mereka juga menentukan persyaratan dan mengatakan bahwa sejumlah persoalan harus diangkat dalam perjanjian ini untuk pembahasan mengenai beberapa isu di masa mendatang, dan bahwa tanpa ini mereka tak akan menerima perjanjian,” ungkapnya.

Ayatullah Khamenei menjelaskan, “Dengan mengangkat sejumlah persoalan itu mereka ingin mendapatkan pembenaran atas campur tangan mereka di masa mendatang mengenai dasar perjanjian nuklir serta isu-isu rudal dan regional. Jika Iran tak menunjukkan kesiapan untuk membahas hal ini maka mereka akan mengatakan bahwa  kalian (Iran) melanggar perjanjian. Jadi, tak ada perjanjian.”

Pemimpin Iran berserban hitam sebagai tanda keturunan Nabi Muhammad saw ini memastikan AS memperlakukan Iran dengan segala sikap keji dan tercela.

“AS tak segan-segan melanggar perkataan dan komitmennya sendiri sebagaimana mereka pernah melanggar perjanjian dengan tanpa biaya sama sekali… Sekarangpun, ketika dikatakan kepada mereka ‘berilah jaminan bahwa kalian tak akan melanggar perjanjian di masa mendatang’, mereka mengatakan tidak akan memberikan jaminan,” imbuhnya.

Ayatullah Khamenei lantas mengatakan, “Pengalaman ini sangat penting bagi pemerintah dan para anggota pemerintah yang akan datang, demikian pula bagi semua aktivis di gelanggang politik. Pengalaman ini sebenarnya selalu ada sejak awal revolusi (Islam Iran), tapi di masa pemerintahan (Rouhani) ini lebih besar.”

Seperti diketahui, Iran dan lima negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB (AS, Inggris, Prancis, Rusia dan China) plus Jerman menandatangani perjanjian nuklir JCPOA (Rencana Aksi Komprehensif Bersama) pada tahun 2015, tapi perjanjian ini lantas diabaikan oleh AS di masa kepresidenan Donald Trump pada tahun 2018. Trump menarik negaranya dari JCPOA dan kemudian menerapkan sanksi-sanksi berat terhadap Iran, lalu Iranpun membalasnya dengan menyurutkan tingkat komitmennya kepada JCPOA sejak tahun 2019.

Sejak April 2021 Wina diwarnai perundingan Iran dengan negara-negara tersebut, kecuali AS, untuk menghidupkan kembali JCPOA setelah pengganti Trump, Joe Biden, berulang kali menyatakan hasratnya untuk mengembalikan AS kepada JCPOA. Meski demikian Uni Eropa dan Washington mengkonfirmasi keterlibatan AS dalam perundingan itu namun tanpa berkomunikasi langsung dengan pihak Iran.

Iran sendiri menolak berunding langsung dengan AS sebelum Negeri Paman Sam ini mencabut semua sanksinya terhadap Iran, sementara AS menekankan prinsip selangkah dibalas selangkah. (mm/alalam/raialyoum)

Baca juga:

Politico: 900 Tentara AS akan Tetap Dipertahankan di Suriah

[Video:] Iran Lumpuhkan Jaringan Teroris Agen Mossad Israel

DISKUSI: