John Bolton: Pembatalan Serangan ke Iran Jangan Sampai Dianggap AS Lemah

0
129

Washington, LiputanIslam.com –   Penasehat Keamananan Nasional Gedung Putih John Bolton angkat bicara mengenai penembak jatuhan pesawat nirawak pengintai MQ-4C Triton milik AS oleh Iran dengan meminta Teheran untuk tidak menganggap AS lemah.

“Iran hendaknya tidak salah menafsirkan keputusan Presiden (AS) Donald Trump membatalkan serangan terhadap Iran pada saat-saat terakhir sebagai suatu kelemahan. Iran ataupun pihak lain yang memusuhi (AS) jangan sampai salah dengan menganggap rasionalitas dan kesabaran AS sebagai kelemahan, ” ujar Bolton menjelang pertemuannya dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Quds (Yerussalem), Ahad (23/6/2019).

Baca: The Washington Post: Setelah Seminggu Tegang, Trump Bernada Bersahabat terhadap Iran

Dia melanjutkan, “Pasukan kami telah dibangun kembali, dan siap meluncur.”

Hal itu dia katakan dua hari setelah apa yang disebut Presiden Trump “pembatalan serangan” ke Iran, sebagai reaksi atas penembak jatuhan pesawat nirawak AS oleh pasukan elit Iran Garda Revolusi Islam (IRGC) pada Kamis lalu (20/6/2019).

Baca: Trump Puji Iran Karena Tidak Menembak Pesawat Berawak AS

MQ-4C Triton  adalah nirawak seharga lebih dari US$ 200 juta, lebih mahal daripada jet tempur AS manapun, dan  merupakan yang tercanggih di arsenal militer AS. Satu unit nirawak tipe istimewa ini dirontokkan oleh Iran dengan sistem payung udara “Khordad 3” buatan Iran sendiri.

Jumat lalu Trump mengaku “tidak terburu-buru” membalas Iran secara militer sehingga membatalkan serangan ke Iran pada saat-saat terakhir menjelang waktu penyerangan pada Kamis malam.

Dia menyebutkan bahwa serangan itu dibatalkan karena ada jenderal AS menyatakan bahwa serangan itu beresiko menewaskan 150 orang.

Di halaman Twitternya dia mencuit, “Pada hari Senin (sebenarnya Kamis, red.) mereka menembak jatuh sebuah pesawat tak berawak yang terbang di Perairan International. Kami dimiringkan & dimuat untuk membalas semalam pada 3 pemandangan yang berbeda. Ketika saya bertanya, berapa banyak yang akan mati. 150 orang, tuan, adalah jawaban dari seorang Jenderal. 10 menit sebelum serangan saya menghentikannya.” (mm/alalam/nyt)

DISKUSI: