Bahrain dan Israel Resmikan Hubungan Diplomatiknya dengan Israel, Penduduk Berunjuk Rasa

0
69

Manama, LiputanIslam.com –  Bahrain dan Israel meresmikan hubungan diplomatik penuh antara keduanya di Manama, Ahad (18/10/2020).

Delegasi Israel yang dipimpin oleh kepala Dewan Keamanan Nasional, Meir Ben Shabbat, mengunjungi Manama dengan pesawat komersial yang lepas landas dari Tel Aviv dan mendarat di Manama setelah melintasi wilayah udara Saudi, dalam penerbangan pertama kali antara kedua negara.

Delegasi tersebut didampingi dua pejabat AS Menteri Keuangan Steven Mnuchin dan Asisten Khusus untuk Negosiasi Internasional Avi Berkowitz.

Sebuah upacara telah diselenggarakan di Manama dan dihadiri oleh para pejabat tinggi dari kedua belah pihak, namun tidak dihadiri oleh raja Bahrain maupun putranya yang berstatus putra mahkota, dan perdana menteri.

Dalam upacara itu sebuah perjanjian ditandatangani untuk peresmian hubungan diplomatik, yang memungkinkan pertukaran kedutaan dan duta besar serta peluncuran penerbangan, bersama dengan tujuh nota kesepahaman di berbagai bidang.

Bahrain, negara kerajaan kecil yang berbatasan dengan Arab Saudi itu adalah negara Arab Teluk Persia kedua yang menjalin hubungan diplomatik dengan Israel setelah Uni Emirat Arab (UEA) pada bulan lalu, dan negara Arab keempat setelah Yordania pada 1994 dan Mesir pada 1979.

Pada tanggal 15 September 2020, Israel menandatangani perjanjian normalisasi hubungan dengan UEA dan Bahrain dengan mediasi dan kehadiran Presiden AS Donald Trump di Washington.

Bahrain adalah negara yang menjadi markas Armada Kelima AS, dan sejak tahun 2011 dilanda gelombang unjuk rasa rakyatnya yang mayoritas bermazhab Syiah dan menuntut pembentukan monarki konstitusional. Unjuk rasa itu diwarnai kerusuhan dan rezim Bahrain lantas menuding Iran berada di balik gelombang unjuk rasa.

Dalam perkembangan kali inipun, meski direpresi oleh rezim Bahrain, sejumlah massa terlihat berdemonstrasi di malam hari  di berbagai wilayah Bahrain Ahad malam untuk menandai penolakan dan kemarahan mereka atas kunjungan delegasi Israel. Hanya saja, unjuk rasa dilakukan di dalam perkampungan, bukan di jalanan besar demi menghindari serangan brutal rezim Bahrain seperti yang telah banyak terjadi beberapa tahun silam hingga menjatuhkan puluhan atau bahkan ratusan korban jiwa serta ribuan korban luka.

Para demonstran mengangkat slogan “Tidak selamat datang untuk para pembunuh”, “Dengan jiwa dan darah, kami siap berkorban untukmu, Al-Aqsa”, “Tidak, tidak untuk normalisasi”, “Mampus Zionis,” dan “Tidak ada legitimasi untuk rezim Bahrain.”

Para pengamat menilai negara-negara Arab Teluk sengaja merapat ke Israel terutama demi membendung pengaruh Iran di kawasan itu Israel, padahal sebelum perjanjian Israel dengan Mesir rezim Zionis tersebut dianggap sebagai musuh bagi seluruh dunia Arab dan Islam.

Palestina dan Iran menyebut perjanjian normalisais hubungan UEA dan Bahrain dengan Israel sebagai “pengkhianatan”. (mm/raialyoum/alalam)

Baca juga:

Wawancara dengan Media Saudi, Pejabat Intelijen Israel: Assad Semestinya Dibunuh

Israel: Roket Melesat dari Jalur Gaza ke Wilayah Israel

DISKUSI: