Teheran, LiputanIslam.com – Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Nasser Kanaani menyatakan prihatin atas terjadinya ketegangan antarfaksi Palestina di kamp pengungsi Ein Al-Hilweh di Lebanon.
Kanaani menekankan keharusan penghentian total konfrontasi di kamp pengungsi padat penduduk tersebut, dan menegaskan bahwa semua pihak harus mematuhi gencatan senjata.
“Palestina membutuhkan persatuan dan kekompakan orang-orang Palestina lebih dari sebelumnya,” ungkap Kanaani, Kamis (3/8).
“Berbagai kelompok, blok dan rakyat Palestina harus tetap waspada dan menggunakan kekuatan dan sumber daya mereka untuk melawan musuh, rezim pendudukan Zionis, yang merupakan sumber dari semua masalah bagi rakyat Palestina, seiring dengan instabilitas dan kekacauan di kawasan,” lanjutnya.
Dia meminta pihak-pihak Palestina membangun landasan yang solid bagi perjuangan melawan pendudukan Zionis Israel, kepulangan semua pengungsi ke tanah air mereka, dan pembentukan negara Palestina yang bersatu dan merdeka dengan Al-Quds sebagai ibukotanya.
Pertempuran antara kelompok bersenjata Palestina pecah di kamp pengungsi Ain Al-Hilweh di kota pesisir Sidon di Lebanon selatan menyusul upaya pembunuhan yang gagal terhadap seorang anggota senior saingan lokal Fatah, yang mengendalikan keamanan di kamp tersebut.
Ketegangan meningkat pada hari Minggu ketika Abu Sheref el-Armoushi, seorang komandan senior Fatah di kamp, dan empat pengawalnya ditembak mati dalam penyergapan oleh penyerang tak dikenal.
Sumber keamanan mengkonfirmasi bahwa sedikitnya 12 orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka, sementara ratusan warga telah terpaksa mengungsi dari kamp tersebut.
Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB (UNRWA) mengumumkan 2000 orang telah mengungsi akibat pertempuran, namun Abed Abu Salah, sekretaris komite populer di Ain Al-Hilweh, mengatakan jumlah sebenarnya kemungkinan jauh lebih besar karena intensitas bentrokan dan tingkat kehancuran di kamp.
Menurutnya, beberapa bangunan tempat tinggal, terutama di lingkungan Hitteen dan Al-Tawari yang diwarnai pertempuran terberat, dibiarkan tidak dapat dihuni. Dia menyebutkan keadaan di kamp itu mengerikan dan tragis.
Berbagai upaya gencatan senjata, yang ditengahi oleh Hizbullah dan gerakan Amal telah dilanggar sejak saat itu, dan pertempuran mencapai puncaknya pada hari Senin ketika kelompok-kelompok yang bertikai menggunakan senapan mesin berat, granat, dan roket satu sama lain di gang-gang kamp yang sempit.
Pemimpin Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah dalam pidato yang disiarkan televisi pada hari Selasa menyerukan penghentian bentrokan, dan menekankan bahwa “pertempuran ini tidak boleh berlanjut karena berdampak buruk bagi penghuni kamp, bagi rakyat Palestina yang tercinta, bagi selatan, dan untuk seluruh Lebanon”.
Faksi pejuang Palestina Hamas menyerukan dialog antarfaksi Palestina yang bersaing di kamp pengungsi Palestina terbesar di Lebanon tersebut.
Kamp itu menampung populasi sekira 80.000 jiwa , yang kebanyakan adalah keturunan orang Palestina yang diusir secara paksa dari rumah mereka pasca Tragedi Nakba 1948. Mereka tinggal di area seluas hanya 1,5 km persegi. Lebih dari 480.000 pengungsi Palestina terdaftar tinggal di 12 kamp di seluruh Lebanon. (mm/fna)
Baca juga: