Iran Sebut Obat Favipiravir dan Remdesivir Tidak Menjanjikan bagi Pasien Covid-19

0
104

Teheran, LiputanIslam.com – Kementerian Kesehatan Iran menyatakan negara ini telah menguji dua obat favipiravir dan remdesivir pada pasien infeksi virus corona (Covid-19), namun tidak mendapatkan laporan yang menjanjikan dari penggunaan obat ini.

“Ada dua obat kontroversial untuk virus corona di negara ini dalam beberapa minggu terakhir; salah satunya adalah favipiravir yang diproduksi di Jepang. Beberapa penelitian dilakukan pada favipiravir. Remdesivir juga sedang dipelajari di AS, dan mereka menyebutnya dapat menurunkan tingkat kematian dan efektif pada kondisi kritis dan darurat, ” ujar Juru Bicara Kementerian Kesehatan Iran, Kianoush Jahanpour, kepada wartawan melalui konferensi video, Selasa (5/5/2020).

Dia menjelaskan bahwa pihaknya “mempercayai temuan-temuan nasional” dari studi lebih lanjut yang dilakukan para ahli  Iran sendiri.

“Kedua obat itu dipelajari secara klinis di Iran, dan sejauh ini kami belum memiliki laporan khusus dan menjanjikan tentang dua obat itu, dan mereka belum menemukan jalan mereka menuju protokol. ”

Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) telah mengesahkan penggunaan obat Ebola remdesivir untuk mengobati pasien virus corona.

Baca: Pandemi Covid-19, Iran Umumkan Tahun ini Tak Ada Penyelenggaraan Pawai Hari Quds

Sebuah uji klinis belakangan ini menunjukkan obat itu membantu mempersingkat waktu pemulihan bagi pasien kritis, namun tidak secara signifikan berhasil mendongkrak tingkat kesembuhan.

Sedangkan favipiravir dikembangkan oleh perusahaan Jepang Fujifilm Toyama Chemical pada tahun 2014 dan digunakan untuk pengobatan influenza jenis baru.

Bulan lalu, para pejabat medis Iran sepakat untuk melakukan uji klinis pada efektivitas favipiravir karena wabah Covid-19 belum teratasi.

Universitas Ilmu Kedokteran Universitas Shahid Beheshti mengumumkan bahwa uji coba klinis itu dimulai oleh rumah sakit Masih Daneshvari di Teheran untuk memastikan efektivitas favipiravir dalam perawatan pasien Covid-19.

Baca: Iran Mengaku Jadi Perintis Terapi Plasma Darah dalam Perawatan Pasien COVID-19

Pengumuman  itu juga menekankan bahwa upaya untuk sintesis obat serta formulasi farmasi favipiravir telah diinvestasikan di Iran sejak awal Maret dan obat itu akan diproduksi di dalam negeri jika uji coba menunjukkan efektivitasnya dalam menghilangkan gejala Covid-19.

Bulan lalu, para peneliti Iran di Universitas Khajeh Nasir al-Din Tousi dapat menghasilkan Bahan Farmasi Aktif (API) Favipiravir, yang juga dikenal sebagai Avigan. (mm/fna)

DISKUSI: