Heboh, Serukan Penghentian Perang di Ukraina, Imam Besar Al-Azhar Malah Dikecam Warganet

0
479

Kairo, LiputanIslam.com – Seruan penghentian perang di Ukraina yang disampaikan oleh Imam Besar Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, Syeikh Ahmad Al-Tayeb mendapat beragam komentar dari warganet Arab, yang umumnya menanggapi dengan reaksi dingin dan menganggapnya bersikap tebang pilih.

Al-Tayeb untuk pertama kalinya  di Twitter dan Facebook pada Sabtu lalu (5/3) menyampaikan seruan kepada masyarakat internasional untuk menggandakan bantuan kemanusiaan ke Ukraina dan meningkatkan upaya untuk menghentikan konflik Rusia-Ukraina.

Dengan menggunakan bahasa Ukraina, dalam seruan itu Al-Tayeb menyatakan, “Apa yang kami saksikan berupa intimidasi terhadap orang-orang Ukraina yang semula aman dan keluarnya mereka dari kampung halaman mereka untuk mencari aman merupakan ujian yang nyata bagi kemanusiaan kita. Saya menyerukan kepada masyarakat internasional agar menggandakan bantuan kemanusiaan untuk Ukraina, dan menambah upaya untuk penghentian perang. Saya memohon kepada Allah semoga Dia mempercepat hal itu dan mereka yang tak berdosa itu dapat pulang ke rumah-rumah mereka dengan selamat.”

Seruan ini ditanggapi dingin dan bahkan kritis oleh banyak warganet Arab,  sementara Kedubes  Ukraina di Kairo segera membagikan seruan itu melalui akunnya di Facebook dan Twitter.

Warganet Arab menanggapi demikian karena menganggap Al-Tayeb tak berbuat hal yang sama terkait dengan kasus-kasus kekerasan di berbagai negara lain, termasuk di India, Suriah, Palestina dan Yaman.

Sebagai contoh, seorang warganet Arab menyoal; “Bagaimana dengan Uyghur, Rohingnya dan Muslimin India? Apakah mereka itu datang ke kita dari bulan, dan persaudaraan keagamaan tak menghubungkan kita dengan mereka? Bukankah yang lebih utama ialah kita bangkit terhadap orang-orang Hindu yang mengintimidasi Muslimat sebelum kita melihat urusan kaum perempuan Kristen Ukraina, wahai Syeikh Al-Azhar?

Seorang warganet Arab lain, sembari mengaku tak bersimpati kepada orang-orang Ukraina kecuali anak-anak kecilnya, menyatakan, “Rasisme mereka terhadap Arab dan Afrika (terlihat) di perbatasan Polandia, dan dukungan mereka kepada entitas pendudukan (Israel) atas bangsa Palestina membuat kita mengatakan, ‘Mereka jatuh cinta (kepada Israel) dengan hati yang beku.’”

Warganet Arab berikutnya, pengguna akun Rania Al-Assal, berkomentar pedas dengan menyatakan, “#Syekh Al-Azhar. Saya mulai percaya bahwa dia sudah seperti orang Barat, bersimpati kepada orang-orang bermata biru. Lantas bagaimana dengan Yaman? Orang-orang yang semula aman diintimidasi oleh jet-jet tempur Saudi, Uni Emirat Arab dan Amerika, serta diblokade selama delapan tahun.”

Pengguna akun Yasser Ammar menyatakan, “Wahai Syeikh yang mulia, pada kita ada orang-orang Suriah yang memerlukan bantuan, juga orang-orang Palestina dan Yaman, tapi Anda tak berani tampil dan membuat pernyataan seperti ini. Cukuplah bagi kami Allah sebagai sebaik-baik Penolong dan Sandaran. Seandainya mereka (orang-orang Ukraina) tak bermata biru dan tak berambut pirang…”

Pengguna akun Ahmad Kami menyatakan, “Syeikh Al-Azhar seharusnya lebih mengutamakan desakan kepada Barat untuk tidak rasis dan supaya menyadari bahwa manusia itu setara.”

Dia juga menegaskan, “Lebih patut Anda mengatakan; Barat ribut dan tak tidur malam akibat perang Rusia-Ukraina, tapi mengapa kalian melibat diri dalam penghancuran negara-negara Arab? Anda lebih patut menuntut demikian, bukan malah memintakan bantuan untuk Ukraina saja, atau sebutkanlah pula negara-negara mana saja yang telah dihancurkan menjadi puing-puing!”

Sementara itu, ada pula warganet Arab yang antusias menanggapi seruan Syeikh Al-Tayeb. Pengguna akun Abdulkhaleq_UEA di Twitter menyatakan, “Ini adalah pendirian moral dan kemanusiaan yang berani dari Syeikh Al-Azhar sebagai bentuk simpati kepada rakyat Ukraina yang memang layak mendapatkan segala bentuk dukungan.” (mm/raialyoum)

Baca juga:

Rusia Beri Peringatan Keras terhadap Pihak yang Membiarkan Bandaranya Dipakai AU Ukraina

Krisis Ukraina, Hizbullah Sebut AS Provokator

DISKUSI: