Haniyeh:  Quds Tak Dapat Dinegosiasikan

0
242

Kepala Biro Politik Hamas, Ismail Haniyeh. Sumber: Al-Alam

Doha, LiputanIslam.com –   Kepala Biro Politik Hamas di Jalur Gaza Ismail Haniyeh menyatakan bahwa Hamas dalam komunikasi dengan para pejabat dan pemimpin berbagai negara dunia sebelum, ketika dan setelah berkonfrontasi terbaru dengan Rezim Zionis Israel telah menegaskan penolakannya terhadap segala bentuk negosiasi mengenai kota Quds (Yerussalem).

“Quds tak dapat dinegosiasikan,” tegas Haniyeh dalam pertemuan dirinya dan sejumlah tokoh Hamas dengan para duta besar dan diplomat Arab dan non-Arab di Doha, ibu kota Qatar, Kamis (27/5).

Dalam pertemuan ini dia menjelaskan secara rinci berbagai tawaran yang diterima Hamas melalui para mediator mengenai Quds dan terkait dengan agresi Israel terhadap Gaza. Dia juga memberikan keterangan panjang lebar mengenai agresi terbaru yang berlangsung selama 11 hari tersebut beserta penyebab dan implikasinya di masa mendatang dan langkah-langkah yang ditempuh Hamas dalam beberapa hari terakhir.

“Berlanjutnya agresi dan pelanggaran rezim pendudukan (Israel) terhadap bangsa kami, terutama di kota Quds, upaya mengusir warga dari rumah mereka di kawasan Sheikh Jarrah, upaya menguasai haram suci (Masjid Al-Aqsa), pemasangan pagar-pagar penghalang di depan Bab Al-Amud yang merupakan gerbang besar Al-Aqsa, pawai bendera pada 28 Ramadhan yang disertai upaya menyerbu Masjid, upaya mengosongkan Masjid dari jemaah shalat dan wakaf, dan terlukanya puluhan orang di antara bangsa kami, semua ini memanggil kami di Gaza untuk memasuki aksi perlawanan,” terang Haniyeh.

Dia menjelaskan bahwa Israel telah membom rumah-rumah warga sipil dan penghuninya, meruntuhkan gedung-gedung bertingkat, menghancurkan saluran pipa air, fasilitas kesehatan dan listrik, membantai beberapa keluarga secara total, dan melanggar semua undang-undang internasional dan hukum humaniter sehingga kubu resistensi Palestina di Gaza terpaksa berinteraksi dengan kejahatan itu demi membela bangsa Palestina.

“Bangsa Palestina telah mengekspresikan kemarahan dan penolakannya terhadap praktik rezim pendudukan di Tepi Barat, Quds, Gaza dan di tanah pendudukan 1948, dan telah terjadi gelombang protes atas kejahatan ini, sebagaimana juga terjadi di berbagai kota di negara-negara Arab dan dunia. (mm/alalam)

Berita Terkait:

Yahya Sinwar: Kota Quds Garis Merah, Israel Musnah Jika Melangkahinya

Khaled Mashal: Resistensi Menyatukan Palestina, Negosiasi dengan Israel Mengacaukannya

DISKUSI: