Gunakan Bahasa Arab, Presiden Prancis Bersikukuh Bela Penista Islam

0
129

Paris, LiputanIslam.com –  Presiden Prancis Emmanuel Macron, Ahad (25/10/2020), memosting cuitan dalam bahasa Arab terkait dengan heboh penistaan terhadap Nabi Besar Muhammad saw, yang memperlihatkan kebersikukuhan pada pendiriannya membela penistaan itu atas nama kebebasan berpendapat dan berekspresi.

Bersamaan dengan ini, Kemlu Prancis meminta negara-negara Islam tidak memboikot produk Prancis, sementara Perdana Menteri Pakistan dan pemerintah Iran mengecam keras pendirian Macron. .

Dalam postingan itu Macron menyatakan, “Tak ada yang membuat kami mundur, selamanya. Kami menghormati semua perbedaan dalam semangat perdamaian. Kami tidak pernah menerima ujaran kebencian, dan membela debat rasional. Kami akan selalu membela martabat manusia dan nilai-nilai universal.”

Sebelum itu Macron berjanji untuk terus menggalang kampanye melawan apa yang disebutnya “Islam radikal”, menyusul kasus tewasnya, Samuel Paty, guru sejarah sekolah Prancis Samuel, di tangan seorang remaja asal Cechnya, Abdullah Onzorov, 18 tahun, yang akhirnya ditembak mati oleh polisi.

Samuel Paty dibunuh dan dipenggal kepalanya oleh remaja itu karena telah menampilkan kartun Nabi Muhammad kepada murid di dalam kelas.

Seorang wali kota Prancis pada Jumat pekan lalu mengaku telah menerima ancaman pemenggalan kepala selang satu minggu kasus pemenggalan Samuel Paty.

Sementara itu, Kemlu Prancis meminta negara-negara Islam mengurungkan aksi boikot produk Prancis menyusul kasus penghinaan terhadap Nabi Muhammad saw.

“Seruan boikot itu tak berdasar, dan harus dihentikan secepatnya, sebagaimana semua serangan yang menyasar negara kami dan didorong minoritas ekstrem,” ungkapnya.

Kecaman  Pakistan

Kecaman terhadap Prancis terus bermunculan dari Dunia Islam. Dalam perkembangan terbaru, Perdana Menteri Pakistan Imran Khan menyebut Macron tak ubahnya menyerang Islam ketika membela penghinaan terhadap nabi umat Islam.

Sebelum itu, Macron membela  Samuel Paty dan menyebutnya pahlawan.

“Dia dibunuh karena para Islamis ingin menguasai masa depan kami dan tahu bahwa mereka tidak akan mendapatkan apa yang mereka inginkan di hadapan pahlawan yang percaya diri seperti dia,” ungkap Macron.

Macron juga melontarkan pernyataan kontroversial ketika mengatakan bahwa Islam adalah “agama yang sekarang mengalami krisis di semua tempat di dunia.”

Menanggapi pernyataan ini, Imran Khan di halaman Twitternya, Ahad, menegaskan, “Sekarang adalah saat di mana Presiden Macron dapat memberikan sentuhan terapis dan menyingkirkan para eksretemis, bukan malah menambah polarisasi dan marginalisasi yang membangkitkan ekstremisme.”

Dia menambahkan, “Sayang sekali, dia memilih menggalakkan Islamfobia melalui serangan terhadap Islam, bukan terhadap para teroris yang memraktikkan kekerasan, baik Muslim maupun para ekstremis kulit putih atau pengusung ideologi Nazi.”

Kecaman Iran

Sehari sebelumnya, Kementerian Luar Negeri Iran Iran menyesalkan apa yang disebutnya kelanjutan  penistaan ​​ terhadap Nabi Besar Islam (SAW) di Prancis dan mengecam sikap pemerintah negara Eropa ini.

“Tak diragukan lagi bahwa pendirian pejabat Prancis yang tidak dapat dibenarkan itu bukanlah tanggapan yang tepat dan bijaksana terhadap ekstremisme dan kekerasan … dan itu menyebabkan kebencian lebih dari sebelumnya saat kita menyaksikan beberapa tindakan penghinaan yang mencurigakan dan menjijikkan terhadap Al-Quran oleh beberapa aliran ekstremis dan anti-Islam di sejumlah negara Eropa yang dikutuk keras,” ungkap juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Iran Saeed Khatibzadeh, Sabtu. (mm/rta/alalam/fna)

Baca juga:

Gelar Muktamar Akbar, Para Ulama Yaman Kutuk Rezim Sudan dan Presiden Prancis

 

DISKUSI: