Gempar, Dugaan Upaya Kudeta Merebak, Otoritas Yordania Ringkus Sejumlah Mantan Petinggi

0
466

Amman, LiputanIslam.com –   Otoritas keamanan Kerajaan Yordania melancarkan operasi penangkapan para mantan petinggi negara ini menyusul dugaan adanya upaya penggulingan raja negara ini, Abdullah II.

Otoritas Yordania, Sabtu (3/4), menggerebek istana mantan putra mahkota kerajaan dan menangkap dua pembantu senior setelah mengungkap apa yang diyakini para pejabat intelijen sebagai upaya kudeta terhadap Raja Abdullah II.

Penangkapan dipusatkan pada jaringan yang diduga terhubung dengan Pangeran Hamzah bin Hussein, saudara tiri Raja Abdullah, yang dicopot dari jabatannya 16 tahun lalu. Pimpinan militer Yordania kemudian membantah laporan bahwa Pangeran Hamzah telah ditangkap.

Namun, pejabat intelijen di kawasan Timur Tengah dan Eropa menduga bangsawan terkemuka itu dikenai tahanan rumah.

Jalan di dekat istana Pangeran Hamzah di Amman, ibu kota Yordania, diblokir oleh pasukan militer pada Sabtu malam, sementara polisi berpatroli di semua pintu masuk kota dan jalan raya yang menghubungkan kota ini dengan wilayah lain.

Panglima militer Yusef Ahmed al-Hunait mengaku telah “diminta untuk menghentikan pergerakan dan aktivitas yang digunakan untuk menyasar keamanan dan stabilitas Yordania”.

Media pemerintah menyebutkan bahwa para pembantu yang ditangkap adalah Sharif Hassan bin Zaid dan Bassem Ibrahim Awadallah.

Bin Zaid sebelumnya pernah menjabat sebagai utusan Yordania untuk Arab Saudi dan merupakan saudara dari seorang perwira senior intelijen Yordania yang dibunuh pada tahun 2009 oleh seorang agen ganda al-Qaeda di Afghanistan. Serangan bunuh diri itu juga menewaskan lima petugas CIA.

Sedangkan Awadallah pernah menjabat sebagai kepala istana dan dianggap oleh pejabat barat sangat dekat dengan Raja Abdullah.

Sebuah pernyataan pemerintah menyebut dugaan plot itu “lanjutan” dan terhubung dengan pihak-pihak lain di kawasan. Beberapa laporan menyebutkan ketidak harmanisan hubungan Yordania dengan Arab Saudi sejak Putra Mahkota Saudi Mohamed bin Salman menjadi penguasa de facto Saudi.

Abdullah II bertahta sepeninggal ayahnya, Raja Hussein, pada  tahun 1999. Selama dua dekade pemerintahannya dia tidak pernah dianggap menghadapi oposisi terorganisir yang serius.

Sekjen Liga Arab dan para pejabat senior beberapa negara Arab, termasuk Irak, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan bahkan Arab Saudi, menyatakan solidaritas dan dukungannya kepada Raja Abdullah II atas kejadian tersebut. (mm/alalam/rt)

Baca juga:

Ubah Nada Pernyataan terhadap Iran, Saudi Mengaku Ingin Bekerjasama dengannya

DISKUSI: