Bikin Heboh Soal Perang Yaman, Menteri Lebanon Tolak Minta Maaf kepada Saudi

0
258

Lebanon, LiputanIslam.com –  Menteri Informasi Lebanon, George Kordahi, menolak meminta maaf atas pernyataannya dalam sebuah acara televisi yang menyebut Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) sebagai pihak “agresor” dalam perang Yaman, dan menilai pasukan Ansarullah (Houthi) sebagai pihak yang melawan agresi.

Dia mengaku tak berbuat salah untuk kemudian meminta maaf. Dan meski menuai badai kecaman dari Saudi dan negara-negara Arab Teluk lainnya, Kordahi tetap bersikeras menyebut perang Yaman sebagai perang sia-sia yang harus dihentikan.

Dalam sebuah pernyataan yang dinilai kontroversial dalam acara televisi yang diselenggarakan sekira sebulan lalu sebelum  Kordahi menjabat sebagai menteri informasi Lebanon namun baru sekarang beredar luas dan menghebohkan,  dia mengatakan, “Houthi membela diri, mereka (Saudi dan UEA) yang mengagresi. Menurutku, perang ini, perang Yaman, sia-sia dan harus berhenti.”

Ketika disudutkan dengan pertanyaan bahwa Ansarullah gencar menyerang Saudi dengan rudal dan drone, Kordahi menjawab bahwa di Yaman banyak kerusakan akibat serangan udara Saudi dan sekutunya.

“Lihatlah kerusakan yang menimpa mereka (Ansarullah) sebagai bangsa (Yaman). Mereka dibom di tempat-tempat kediaman mereka, di rumah-rumah mereka, di desa-desa mereka, di lapangan-lapangan mereka, pada jenazah-jenazah mereka, di tempat-tempat rekreasi mereka. Mereka dibombardir oleh jet-jet tempur,” ujarnya.

Pernyataan ini memancing kegusaraan pemerintah Saudi sehingga Kementerian Luar Negerinya memanggil Duta Besar Lebanon, Fawzi Kabbara, dan menyerahkan nota protes kepadanya. Aksi serupa juga dilakukan oleh pemerintah Kuwait, UEA dan Bahrain.

Berbagai media dalam dan luar negeri Lebanon juga santer memberitakan masalah ini.

Menanggapi reaksi dan perkembangan itu, Kordahi menekankan prinsip kebebasan berpendapat, dan menyayangkan sikap sebagian media yang seharusnya menjunjung kebebasan berpendapat  malah cenderung memojokkan dirinya dan mengusik kebebasannya dalam berpendapat.

Dia juga menekankan bahwa pernyataan itu merupakan pendapat pribadinya sebelum menjadi menteri, dan bahwa setelah menjadi menteri maka dia konsisten pada kebijakan pemerintah dan terikat dengannya.

“Apa yang saya katakan dalam wawancara itu, adalah sikap…. baik berkenaan dengan Palestina, Suriah, Lebanon dan banyak persoalan lain, masalah Teluk dan perang Yaman, yang sama sekali tidak mengikat pemerintah, karena saat itu saya bukan bagian dari pemerintah. Ini adalah pendapat saya pribadi,” ungkapnya.

Heboh pernyataan Kordahi terjadi ketika serangan Ansarullah ke wilayah Saudi kian gencar, pasukan koalisi pimpinan Saudi terdesak hebat di Provinsi Ma’rib, dan pengaruh Iran semakin membesar di Lebanon.(mm/raialyoum/bbc/aljadid)

Baca juga:

Perang Yaman, Tentara Saudi Mulai Tarik Peralatan Militer Beratnya dari Kota Ma’rib

Houthi: Daripada Bertempur di Yaman, Pasukan Bayaran Sudan Sebaiknya Bela Negara Mereka

DISKUSI: