Berbau Rudal Balistik, Iran Ancam Israel dengan Satu Kata: “Erbil”

0
267

Teheran, LiputanIslam.com –  Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh melontarkan ancaman berbau rudal terhadap Rezim Zionis Israel.

Dalam konferensi pers mingguannya, Senin (4/4), dia mengatakan, “Rezim Zionis tak pernah kendur berusaha merusak keamanan di kawasan dan jalur politik regional, dan untuk mengingatkannya saya cukupkan dengan satu kata; Erbil.”

Dia mengatakan demikian ketika ditanya tentang Israel yang telah menunjuk atase militer untuk Armada Kelima AS di Bahrain.

Seperti diketahui, sekira tiga minggu lalu pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menggempur markas dinas intelijen Israel (Mossad) di kota Erbil, pusat wilayah semi-otonomi Kurdistan Irak, dengan selusin rudal.

Kementerian Dalam Negeri di wilayah Kurdistan Irak mengklaim serangan itu itu “dilakukan terhadap markas baru Konsulat Amerika Serikat (AS) di Erbil serta daerah pemukiman sipil dekat gedung saluran Kurdistan 24 dan sekitarnya”.

Menanggapi pertemuan AS dan Israel dengan empat negara Arab di Negev, Israel, pada 27-29 Maret lalu, Khatibzadeh mengatakan, “Pertemuan-pertemuan seperti pertemuan Negev adalah untuk sekelompok orang buangan yang mengemis untuk keamanan mereka”.

Dia lantas mengingatkan bahwa “Palestina adalah urusan utama Dunia Islam meskipun telah terjadi pengkhianatan” dari empat negara Arab tersebut, yaitu Mesir, Uni Emirat Arab, Bahrain dan Maroko.

Juru bicara kementerian luar negeri Iran menyalahkan AS atas lambatnya proses pemulihan kesepakatan nuklir 2015, ketika para pejabat yang terlibat dalam pembicaraan di Wina, Austria, belakangan ini kerap menyebutkan bahwa Teheran dan negara-negara besar dunia, termasuk AS, sudah hampir menandatangani kesepakatan itu.

“Washington belum memutuskan masalah yang tersisa, kami tidak bisa menunggu selamanya … AS harus membuat keputusan politiknya,” tegas Khatibzadeh.

Khatibzadeh menyebut Gedung Putih menyandera perjanjian nuklir akibat tidak adanya sepakatan politik internal AS.

Dia menambahkan bahwa tak sesuai retorika Joe Biden, pemerintahan Presiden AS ini masih cenderung mengikuti jejak pendahulunya,  Donald Trump, dalam masalah nuklir.

“AS bertanggung jawab atas penghentian negosiasi hari ini dan kelanjutannya dalam beberapa hari mendatang. Solusinya ada di Gedung Putih dan mereka harus memberikan tanggapan logis kepada Iran sehingga kami dapat kembali ke Wina,” pungkasnya. (mm/fna/raialyoum)

Baca juga:

Iran Serukan Pencabutan Total Blokade Yaman

Presiden Iran: Negara-Negara yang Mengabaikan Kejahatan AS dan Israel akan Picu Amarah

DISKUSI: