Beirut, LiputanIslam.com – Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir-Abdollahian mengadakan pembicaraan dengan para tokoh Hamas dan Jihad Islam Palestina mengenai perkembangan terkini di Jalur Gaza, terutama gencatan senjata empat hari.
Amir-Abdollahian mengadakan pertemuan dengan Sekjen Jihad Islam Ziad al-Nakhala, wakil kepala biro politik Hamas di Jalur Gaza Khalil al-Hayya, dan para pejabat lain dari kelompok tersebut di Beirut, ibu kota Lebanon, pada hari Rabu (22/11).
Mereka bertukar pandangan mengenai perkembangan terkini di wilayah Palestina, dan gencatan senjata, yang dijadwalkan dimulai pada hari Kamis (23/11) pukul 10 pagi waktu setempat.
Abdollahian dan para tokoh pejuang Palestina juga membahas mekanisme perpanjangan perjanjian gencatan senjata dan pengiriman bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza.
Pada Rabu pagi Hamas mengumumkan pihaknya telah mencapai kesepakatan dengan Israel mengenai gencatan senjata kemanusiaan selama empat hari menyusul upaya mediasi Qatar dan Mesir.
Hamas menyatakan, “Berdasarkan tanggung jawab kami terhadap bangsa Palestina yang telah lama menderita dan tabah, dan upaya kami yang tak kenal lelah untuk memperkuat ketabahan rakyat Palestina yang kami banggakan, untuk membantu dan menyembuhkan luka-luka mereka… dan setelah perundingan yang sulit dan rumit selama beberapa hari, kami mengumumkan – dengan bantuan dan berkah dari Allah SWT – bahwa kami telah mencapai perjanjian gencatan senjata kemanusiaan untuk jangka waktu empat hari, berkat upaya Qatar dan Mesir yang gigih dan dihargai.”
Pernyataan itu menyebutkan bahwa kesepakatan itu akan memungkinkan masuknya ratusan truk bantuan yang membawa pasokan kemanusiaan serta bantuan medis dan bahan bakar ke seluruh lingkungan di Jalur Gaza.
Lalu lintas udara akan dihentikan sepenuhnya di Gaza selatan selama periode tersebut, dan setiap hari dengan interval enam jam di utara.
Selain itu, 50 pemukim Israel yang ditawan akan dibebaskan dengan imbalan pembebasan 150 wanita dan anak-anak Palestina dari penjara Israel.
Kabinet Israel dalam pemungutan suara pada Rabu pagi menyetujui perjanjian “jeda dalam pertempuran.”
Lebih jauh lagi, mereka memberikan potensi perpanjangan, dengan menawarkan bahwa satu hari tambahan akan ditambahkan untuk setiap tambahan pembebasan 10 di antara para tawanan yang tersisa.
Seorang pejabat Israel juga mengklaim kesepakatan itu diharapkan akan menghasilkan pembebasan 50 warga Israel dalam kelompok yang terdiri dari 12-13 orang per hari.
Israel menggempur Gaza sejak 7 Oktober setelah Hamas melancarkan Operasi Badai al-Aqsa di wilayah pendudukan sebagai pembalasan atas kejahatan Israel terhadap warga Palestina di Tepi Barat.
Sejak dimulainya agresi, rezim Tel Aviv telah membunuh 14.128 warga Palestina, termasuk 5.840 anak-anak dan 3.920 wanita, serta melukai lebih dari 33.000 lainnya.
Mereka juga memberlakukan blokade total terhadap Jalur Gaza, memutus pasokan bahan bakar, listrik, makanan dan air bagi lebih dari dua juta warga Palestina yang tinggal di sana. (mm/presstv)
Baca juga: