Gaza, LiputanIslam.com – Hamas mengatakan pihaknya telah memberikan tanggapan kepada Qatar dan Mesir mengenai kemungkinan penerapan gencatan senjata antara para pejuang Palestina dan pasukan Zionis Israel di Jalur Gaza.
Dalam sebuah pernyataan pada hari Selasa (21/11), Kantor Hubungan Arab dan Islam Hamas menyatakan pihaknya telah memberikan tanggapan kepada pejabat Qatar dan Mesir sehari sebelumnya.
“Pembicaraan (mengenai kemungkinan gencatan senjata) telah berlangsung di bawah pengawasan Qatar dan Mesir selama satu bulan,” ungkap kantor tersebut.
“Namun musuh, Israel, terus menunda-nunda. Setiap kali kita hampir mencapai gencatan senjata sementara, musuh (Israel) kembali ke titik awal,” lanjutnya.
Bersamaan dengan ini, pejabat senior Hamas Izzat al-Rishq mengatakan bahwa rincian kesepakatan tersebut akan dirilis oleh Qatar dan Mesir “dalam beberapa jam mendatang.”
Dia menekankan bahwa perjanjian apa pun harus didasarkan pada kondisi resistensi Palestina.
Rishq lebih lanjut menegaskan bahwa Israel, terutama Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, telah menghalangi perundingan gencatan senjata.
Lebih dari 14.000 orang telah Palestina gugur akibat serangan brutal Israel menyusul operasi para pejuang Gaza yang menewaskan sekitar 1.200 pemukim Israel dan pasukan militer.
Hamas membantah keras klaim rezim Israel bahwa gerakan tersebut menjalankan “pusat komando” di bawah Rumah Sakit al-Shifa di Kota Gaza, yang terkena dampak terberat dari serangan Israel terhadap sistem layanan kesehatan.
“Klaim musuh mengenai keberadaan terowongan di bawah rumah sakit adalah sebuah lelucon yang tidak dipercaya oleh siapa pun,” tegas Hamas. (mm/presstv)
Baca juga: