Sudah Hancur Akibat Perang dan Kelaparan, Kini Rakyat Yaman Dihantui ‘Senjata’ Covid-19 Arab Saudi

0
797

 

Sumber foto: New York Times

Sana’a,LiputanIslam.com—Perang Yaman dimulai sejak Maret 2015 lalu dan masih terus berlanjut hingga saat ini. Perang juga telah menghancurkan sistem kesehatan di Yaman, sementara serangan koalisi militer pimpinan Arab Saudi masih tetap berjatuhan di saat negara Arab termiskin itu harus menghadapi masifnya penyebaran wabah Corona.

Hadirnya Corona menambah daftar malapetaka yang harus dialami rakyat Yaman, di saat mereka tengah berjuang keras menahan pahitnya kelaparan dan penyakit.

Senin (30/3) lalu, koalisi militer pimpinan Saudi mengumumkan operasi militer baru yang menargetkan tiga kota besar di Yaman: Sana’a, Hudaydah, dan Sa’adah.

Di Sana’a, setidaknya sepuluh serangan udara koalisi menghantam sebuah lahan peternakan kuda Arab. 70 kuda mati dan sejumlah kuda lainnya terluka. Bahkan, seorang peternak kuda turut meninggal dunia, sementara beberapa lainnya terluka. Serangan koalisi juga menghantam perumahan dan Bandara Internasional Sana’a.

Baca juga: Ketika Nestapa Kuda Arab Yaman Jadi Penggugah Empati Dunia

Di Hudaydah, pesawat tempur koalisi mengebom sebuah pusat karantina yang telah dipersiapkan untuk menangani pasien Corona. Koalisi pimpinan Saudi itu juga menghancurkan sejumlah sumur air di Pulau Kamran, yang dulu sempat hancur akibat hantaman tiga bom buatan Amerika Serikat (AS). Selama ini, sumur-sumur itu telah menghidupi 10.000 orang. Serangan juga menargetkan sejumlah fasilitas di distrik al-Jah dan al-Saleif. Belum ada konfirmasi perihal kerusakan dan korban jiwa akibat serangan ke arah bangunan yang baru saja diperbaiki akibat serangan udara koalisi sebelumnya.

Sayap politik kelompok Houthi Yaman, Ansarullah, bersumpah akan melancarkan serangan balasan yang menyakitkan. Kelompok itu menyebut serangan mengerikan Arab Saudi itu akan dibalas dengan bom-bom yang siap menghancurkan situs-situs penting Saudi, termasuk sumber-sumber perekonomian.

Minggu (29/3), pasukan sekutu Houthi-Yaman telah menyerang sejumlah situs penting di Ibu Kota Riyadh, Najran, dan Jizan menggunakan drone dan rudal balistik produksi Yaman. Houthi mengaku, serangan ini adalah balasan atas serangan udara Saudi di al-Jawf, Marib, dan Sa’ada minggu lalu.
Kenyataannya, Yaman saat ini tengah didera serangan udara koalisi, blokade akses darat, laut, dan udara, juga berbagai penyakit seperti: difteri, kolera, demam berdarah, flu burung, dan malaria. Kenyataan pahit ini membuat rakyat Yaman hampir tidak mungkin untuk menghadapi virus Corona yang telah menyebar di seluruh dunia. Bagi rakyat Yaman yang sulit mendapatkan akses kesehatan, penyakit semacam ini hanya akan menambah derita hidup mereka yang sudah hancur.

Demi menangani virus Corona, kelompok Houthi menyambut baik usulan Sekjen PBB, Antonio Guterres, untuk genjatan senjata. “Kami menyambut seruan Sekjen PBB untuk genjatan senjata… kami menegaskan kesiapan kami untuk membuat kesepakatan dengan semua pihak yang menginginkan perdamaian demi tercapainya solusi politik yang komprehensif,” ucap Mahdi al-Mashat, Presiden Dewan Politik Tertinggi Yaman. Al-Mashat menegaskan bahwa dirinya siap bekerjasama untuk mengubah panggung perang di Yaman menjadi panggung perdamaian.

Pada Rabu (1/4), Guterres telah meminta kelompok-kelompok oposisi di Yaman untuk berkoordinasi dengan delegasi khusus PBB, Martin Griffiths, agar tercapainya de-eskalasi skala luas. Ia mengatakan, “ Solusi politik adalah satu-satunya cara untuk menyelesaikan konflik di Yaman.”

Ironisnya, juru bicara koalisi, Turki al-Maliki, menyebut koalisi mendukung berbagai upaya yang dilakukan Griffiths di Yaman dan lebih dari 100 serangan udara pesawat Saudi justru ditembakkan setelah himbauan Guterres itu disampaikan.

 

Senjata Covid-19

Cukup mengejutkan saat Kementerian Kesehatan Yaman menuduh Arab Saudi sedang berupaya menyebarkan virus Corona di Yaman. Senin lalu, sejumlah pesawat tempur kerajaan itu menurunkan box-box berisi masker di distrik al-Ahli, provinsi Hudaydah dan distrik Bani Sa’ad dan al-Taweilah di provinsi al-Mahwit, juga di distrik Nugom di provinsi Sana’a. Jumlah masker dalam box-box itu tidak begitu banyak dan diturunkan di lokasi padat penduduk. Rakyat Yaman yang seharusnya menerapkan prosedur jaga jarak, justru berdesak-desakan untuk mendapatkan masker.

Otoritas setempat menuduh kerajaan Saudi sengaja memicu kepanikan di tengah rakyat Yaman agar mereka melanggar prosedur jaga jarak yang telah ditetapkan untuk menghentikan laju penyebaran virus Corona. Menurutnya, jika para pejabat Saudi benar-benar ingin menolong, mereka bisa mengirimkan bantuan lewat jaringan-jaringan resmi PBB.

Sejumlah penduduk mengatakan kepada MintPress bahwa mereka takut masker-masker itu telah terkontaminasi virus, dan para pejabat Yaman telah memperingatkan penduduk untuk berhati-hati menerima bantuan medis gratis dari Koalisi Arab Saudi.
Kementerian Kesehatan Yaman juga menemukan adanya indikasi-indikasi yang menunjukkan niat Arab Saudi untuk menyebarkan wabah mematikan ini ke Yaman. Sejak bulan lalu, saat Corona telah menyebar begitu masif, kerajaan Saudi mulai mendeportasi sejumlah besar orang Yaman dari kerajaan itu .

Parahnya, koalisi Saudi mengizinkan empat penumpang pesawat bermuatan 1.000 penumpang turun di Yaman, saat mayoritas negara-negara di dunia menunda penerbangan untuk menghambat laju penyebaran Corona. Semua ini mungkin bagi koalisi Saudi, sebab mereka memiliki kontrol penuh atas wilayah udara Yaman.

Ansarullah menyebut, koalisi pimpinan Saudi adalah pihak yang harus bertanggungjawab jika terjadi penyebaran virus Corona di Yaman. Pimpinan Houthi, Mohammed al-Houthi berkata lewat akun twitternya, “Mereka yang telah membunuh warga Yaman dengan senjata, tentu tidak akan ragu untuk menghabisi nyawa mereka dengan cara-cara yang lebih hemat.” Banyak warga Yaman percaya jika koalisi pimpinan Saudi sedang berusaha menyebarkan virus Corona di Yaman, apalagi setelah berlangsungnya perang berdarah selama lima tahun yang menghabiskan begitu banyak dana dengan pencapaian yang minim.

Amerika Serikat (AS) tidak akan menginginkan situasi di Yaman membaik. Menurut para pejabat dan para pemimpin partai politik Yaman, AS sebagai pendukung utama agresi koalisi Saudi ke Yaman justru sedang menurunkan bantuan bagi para pekerja. Para aktivis Ham menyebut, jika bantuan medis dan kemanusiaan tidak sampai ke Yaman dalam waktu dekat, maka penyebaran Covid-19 di negara itu akan sangat mematikan.

Presiden AS, Donald Trump, baru saja memotong bantuan ke Yaman, memangkas sekitar $70 juta dana yang biasa digunakan untuk program-program kesehatan di Yaman, meski NGO, kelompok HAM dan bahkan para anggota Kongres telah meminta Trump untuk menunda niatnya, mengingat Yaman tengah bersiap menghadapi Corona.

 

Apakah Yaman telah Terjangkit Corona?

Sejauh ini, belum ada satu catatan resmi terkait kasus Corona di Yaman. Namun demikian, para pejabat Ansarullah menyampaikan kepada Mintpress bahwa mereka telah menemukan sejumlah kasus di dekat perbatasan Yaman-Saudi dan di Yaman bagian selatan. Menurut keterangan Ansarullah, setidaknya 10 tentara militan dukungan Saudi di front Medi dekat Hajjah telah terinveksi virus Corona, namun jumlah tersebut belum dikonfirmasi secara resmi oleh institusi kesehatan.

Meskipun otoritas Yaman telah melakukan tindakan pencegahan dengan cara menutup pelabuhan-pelabuhan yang ada di bawah kendali mereka, kemungkinan otoritas Yaman tetap saja akan kewalahan jika negara itu terjangkit virus Corona.

Ibukota Sana’a dihuni oleh sekitar empat juta jiwa, 1.5 juta adalah warga pindahan yang diduga telah terpapar Corona. Kota ini sangat ramai, tapi minim sanitasi dan infrastruktur sipil telah hancur akibat perang lima tahun.
Menurut laporan ACLED, Lebih dari 100.000 orang telah terbunuh sejak Januari 2016. Para dokter di Yaman khawatir jika Covid-19 tidak bisa mereka bendung dan jumlah korban akan berlipat dalam hitungan hari. (fd/Mintpress)

DISKUSI:
SHARE THIS: