Ketika Nestapa Kuda Arab Yaman Jadi Penggugah Empati Dunia

0
4726

LiputanIslam.com –  Sungguh merupakan pemandangan tersendiri manakala gerakan Ansarullah (Houthi) di Yaman dan sekutunya berhasil mengungguli musuhnya, aliansi pimpinan Arab Saudi, bukan hanya di medan perang, melainkan juga di bidang humas dan perang urat saraf, padahal Ansarullah jauh tak sebanding dengan Saudi dari segi dana, fasilitas, dan media.

Media Ansarullah, dengan segala kesederhanaannya, belakangan ini mengangkat isu “serangan udara ringan” Saudi ke Sanaa, ibu kota Yaman,  yang dilancarkan setelah Ansarullah menggempur Riyadh, ibu kota Saudi, dengan rudal balistik dan drone. Media Ansarullah antara lain mengangkat insiden tewasnya sekawanan kuda Arab akibat serangan udara Saudi tersebut.

Seperti diketahui, kuda Arab merupakan salah satu jenis kuda andalan yang dipelihara orang untuk berbagai keperluan, termasuk perang, karena berpostur tinggi, berperforma istimewa, berketahanan tubuh prima, cerdas, dan lincah. Karena itu, mengangkat masalah ini, meski mungkin terlihat sepele dan nyeleneh, namun cukup efektif memancing empati banyak orang, terutama di negara-negara Barat.

Banyak orang tercengang dan prihatin melihat beberapa kuda di antaranya, yang ada dalam kandang sebuah akademi militer, mengalami luka parah. Demikian pula ketika menyaksikan sebagian di antara kuda dewasa mendekati dan memandangi anak-anaknya yang sudah tak bernyawa. Pemandangan demikian membangkitkan empati banyak orang di Barat dan Timur. Mereka praktis akan mengingat pihak mana yang pertama kali melepaskan peluru dalam Perang Yaman dan kemudian melanjutkannya hingga lima tahun dan kini bahkan baru menginjak tahun keenam sejak beberapa hari lalu.

Kubu Saudi semakin terpuruk akibat kesolidan, sengitnya perlawanan, dan berkembangnya peralatan tempur Ansarullah. Kelompok pejuang ini berhasil melepaskan serangan-serangan telak yang sebagian besarnya menyasar sentra-sentra ekonomi Saudi semisal fasilitas minyak Aramco di Abqaiq, Khurais, dan Yanbu, serta bandara-bandara di Jizan, Najran, dan Abha di bagian selatan Saudi.

Juru bicara aliansi pimpinan Saudi Kol. Turki al-Maliki menyatakan bahwa serangan pihaknya ke Sanaa pada Sabtu lalu bertujuan menghancurkan sasaran-sasaran militer, termasuk gudang dan pabrik rudal balistik, serta merupakan balasan atas serangan rudal Ansarullah ke Riyadh. Tapi kenyaataannya, yang menjadi korban kali ini sebagian besar adalah kuda-kuda Arab kebanggaan dan para saisnya.

Pihak Saudi tampak grogi di banyak level dalam perang Yaman. Serangan udara kali inipun berbuah hasil kontraproduktif bagi kubu Saudi lantaran tak ada sasaran militer yang terkena serangan udara, dan ini terjadi bukan saja karena ketidak cakapan para pilotnya, sebagaimana dikatakan oleh para pakar militer, melainkan juga karena kepintaran dan ketinggian akurasi Ansarullah dalam menyembunyikan dan membentengi basis-basis militernya.

Di sisi lain, keberhasilan Ansarullah dan sekutunya menguasai provinsi Jawf dan laju pergerakan mereka yang pesat menuju provinsi sebelahnya, Ma’rib, yang kaya migas dan memasok aliran listrik ke seluruh penjuru wilayah Yaman utara jelas memperparah keterpurukan kubu Saudi.

Saudi kini bahkan kesepian ketika usia perang Yaman genap lima tahun, akibat beberapa faktor; Uni Emirat Arab (UEA) menarik diri;  jumlah para petempur bayaran dari negara-negara lain, terutama Sudan, terpangkas;  pemerintahan presiden pelarian Yaman Abd Rabbuh Mansour Hadi yang didukung Saudi berantakan akibat konflik internal dan ketidak cakapan para komandan tempur mereka dalam mengelola perang; dan keberhasilan Ansarullah menarik simpati rakyat Yaman dan mempengaruhi opini Arab.

Maka tak aneh jika Dubes Saudi di Yaman, Mohamed al-Jaber, kepada Wall Street Journal (WSJ) menyebutkan adanya komunikasi berkelanjutan antara Saudi dan Ansarullah.  WSJ adalah surat kabar AS yang menjalin relasi rapat dengan Putra Mahkota Saudi Mohamed bin Salman serta kerap pula memuat berita-berita bocoran dari Saudi, baik di bidang ekonomi maupun militer.

Dan tak heran pula jika al-Jaber lantas malah berbalik membantah adanya komunikasi itu ketika dia kemudian menyadari bahwa pengakuan demikian berpotensi ditafsirkan sebagai menyerahnya Saudi kepada persyaratan Ansarullah dan upayanya untuk keluar dengan harga apapun dari lingkaran setan perang Yaman.

Terlepas dari itu, juru bicara militer Yaman yang bersekutu dengan Ansarullah bersumpah akan membalas serangan udara Saudi ke Sanaa tersebut. Kelompok ini masih merahasiakan kartunya mengenai serangan balasan itu, tapi hampir pasti sasarannya adalah situs-situs penting dan strategis, yang akan menjadi pukulan telak lagi bagi mental lawan dan berdampak pula  pada semakin meluasnya penolakan publik Saudi terhadap perang Yaman.

Eskalasi militer terbaru di Yaman, terutama serangan terhadap Saudi yang juga sedang berjibaku melawan pandemi COVID-19, akan semakin mengacaukan perhitungan Saudi serta melumpuhkan mental dan kekuatan ototnya. Menariknya lagi, Yaman yang pernah didera berbagai wabah, termasuk kolera, pada tahun-tahun lalu, sejauh ini masih belum dilaporkan tersentuh pandemi COVID-19, seakan mengisyaratkan perlindungan Allah kepada pihak yang tertindas.

Alhasil, perkembangan situasi perang Yaman kian menjurus pada fakta bahwa tak ada pilihan bagi Kerajaan Arab Saudi kecuali menempuh jalur dialog dan menyudahi invasi militernya ke Yaman. (mm/raialyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS: