Selamat Menjabat, Raja Salman Telah Eksekusi Mati 800 Rakyat Arab Saudi

0
718

Potret Raja Salman Bin Abdul Aziz, Raja Arab Saudi. Sumber Foto: Siasat Daily

Riyadh,LiputanIslam.com—Organisasi Hak Asasi Manusia (HAM) yang berbasis di Inggris, Reprieve, melaporkan pada Selasa (14/4) lalu bahwa kerajaan Arab Saudi di bawah kepemimpinan Raja Salman Bin Abdulaziz telah mengeksekusi total 800 orang rakyatnya.

Menurut lembaga HAM tersebut, jumlah ini telah meningkat dua kali lipat jika dibandingkan dengan kepemimpinan raja sebelumnya, Raja Abdullah (2009-2014) yang telah mengeksekusi 423 orang.

Sebelumnya, kerajaan Saudi hanya mengeksekusi mati orang-orang yang dianggap melakukan tindakan kriminal, seperti pembunuhan, perampokan, penjualan ganja, dan perdukunan. Namun, beberapa tahun terakhir, kerajaan menggelar penangkapan besar-besaran kepada siapa saja yang menentang keputusan kerajaan.

“Di tengah modernisasi dan reformasi berbicara, Arab Saudi masih menjadi negara dimana suara-suara anti-pemerintah bisa berujung pada kematian,” ucap Direktur Reprieve, Maya Foa.

Baca:Tolak Serahkan Tanahnya untuk Proyek Bin Salman, Seorang Warga Saudi Ditembak Aparat

Baru-baru ini, kerajaan Arab Saudi dilaporkan telah mengeksekusi mati salah satu anggota suku Howeitat, bernama Abdul-Rahman Al-Huweiti. Abdul Rahman dikenal sebagai sosok yang sangat menentang penggusuran kampung halaman sukunya untuk dijadikan proyek NEOM.

Abdul-Rahman ditembak mati di rumahnya oleh para polisi kerajaan. Para aktivis HAM percaya bahwa pembunuhan Al-Howeiti disebabkan oleh perlawanannya terhadap proyek kota NEOM.

Pada 2017 lalu, Mohammadn Bin Salman, mengumumkan akan membangun kota baru untuk memperbanyak sumber pendapatan bagi kerajaan Arab Saudi. Pembangunan ini bisa terlaksana jika suku Howeitat meninggalkan kampung halaman mereka, sebab perkampungan ini akan diubah menjadi jalan untuk kota baru NEOM.

Suku Al-Howetat menolak penggusuran tersebut dan Abdul-Rahman Al-Howeiti mengangkat dan menyuarakan isu penggusuran ke publik. (fd/Memo)

 

DISKUSI: