Esper Klaim Tolak Rencana AS Serang 3 Titik di Iran

0
71

Washington,LiputanIslam.com-Dalam buku berjudul “A Sacred Oath”, Menhan AS di era Donald Trump, Mark Esper, mengungkap perdebatan antara para petinggi Gedung Putih, setelah IRGC menembak jatuh drone Global Hawk di tahun 2019 silam.

“Pada malam 20 Juni, 2 hari setelah saya diminta Presiden (Trump) untuk menjadi Menhan, Iran menembak jatuh sebuah drone Global Hawk seharga 200 juta dolar milik AU AS saat melakukan misi pengintaian di zona internasional di atas Selat Hormuz”, tulis Esper.

Pagi harinya, lanjut Esper, ia bersama anggota Tim Keamanan Nasional AS, meliputi Menlu Mike Pompeo, Penasihat Keamanan Nasional John Bolton, Staf Kemenhan Patrick Shanahan, dan Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata AS, Joseph Dunford mengadakan rapat untuk membicarakan opsi-opsi yang akan ditawarkan kepada Trump untuk menanggapi insiden tersebut.

Esper mengklaim, rapat akhirnya diadakan pada 21 Juni pagi dan diputuskan untuk menyerang 3 titik di dalam wilayah Iran.

“Demi menghormati Shanahan, saya memilih diam. Namun saya sendiri merasa bahwa tindakan final yang disepakati masih belum relevan. Kita bisa mengirim pesan yang serupa ke Teheran dengan potensi kerugian lebih kecil. Kerugian besar bisa menyeret kita ke tindakan-tindakan balasan pemicu ketegangan. Tidak ada yang tahu rentetan kejadian ini akan membawa kita ke arah mana”, tulis Esper.

Opsi-opsi yang ditawarkan kepada Trump tidak pernah dilaksanakan. Pada 21 Juni, Trump melalui akun Twitter-nya mengklaim, ia membatalkan serangan ke Iran karena ada kemungkinan akan menewaskan 150 orang.

Meski begitu, sebagian media seperti al-Monitor mengungkap, AS tidak jadi menyerang karena mendapat pesan dari negara-negara Arab di Teluk Persia. Mereka khawatir, serangan AS ke Iran akan mendatangkan konsekuensi besar terhadap negara-negara Arab tersebut. (af/fars)

Baca Juga:

Biden Dikecam karena Mengemis Minyak dari Musuh-musuh AS

Iran Bongkar Klaim Mossad soal ‘Interogasi Personel IRGC’

DISKUSI: