Deal of the Century, Derita Palestina, dan Bungkamnya Negara-negara Arab

0
6

Sumber: Ray Al-Youm

LiputanIslam.com—Heningnya negara-negara Arab terhadap pengumuman Kesepakatan Trump atau Deal of the Century membuat Israel bersorak kegirangan. Sikap ini menunjukkan sikap Arab yang menganggap hubungan dengan Amerika Serikat sebagai sekutu utama Israel jauh lebih penting ketimbang Palestina.

Sejak Minggu lalu, para pakar dan analis telah mewanti-wanti reaksi negara-negara Arab terhadap terhadap rencana Kesepakatan Trump yang telah diumumkan pada Selasa (28/1) malam, disaksikan oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Para pakar menilai bahwa respon negara-negara Arab terhadap persoalan Palestina telah memudar.

Ehud Yaari, seorang analis untuk stasiun TV Israel saluran 12, menilai negara-negara Arab takut dengan reaksi AS jika mereka nekat menyuarakan penolakan terhadap Kesepakatan Trump.

Baca: Amnesti Internasional: Perjanjian Abad Ini adalah Pengesahan atas Kebrutalan

Selain itu, Eyal Zisser, profesor sejarah di Universitas Tel Aviv, menilai Washington telah berhasil “menyetir” kebijakan negara-negara Arab. Ia menilai kebungkaman ini sebagai sinyal baik dan positif bagi Israel, sebab kebungkaman ini menunjukkan sedikitnya pihak yang marah terhadap Kesepakatan ini apalagi menolaknya.

Yaari menyebut mayoritas negara Arab beranggapan bahwa hubungan ekonomi dan perdagangan mereka dengan Israel masih lebih penting dari pada masa depan Palestina.

Ia menilai, saat ini peta politik terkait persoalan Palestina sudah tidak lagi terbelah menjadi dua kubu antara Israel melawan Palestina dan negara-negara Arab. Peta konflik terbaru menunjukkan kubu Iran, bersama sekutu-sekutunya sedang bertarung melawan Israel, Amerika, dan negara-negara Arab yang berada di bawah komando AS.

Odet Granot, dalam artikelnya, di surat kabar “Israel Hayom” sangat tertarik membaca reaksi dari mayoritas negara Arab. Pada awalnya, ia berpikir Kesepakatan ini akan mendapatkan respon yang keras dari negara-negara Arab. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Ia menilai heningnya mayoritas negara Arab disebabkan oleh prioritas kebijakan rezim Arab yang kini sedang dijalankan. Fenomena Arab Spring masih berlangsung dan melahirkan masalah yang lebih mendesak ketimbang urusan Palestina. Fenomena ini meliputi rusaknya instalasi minyak Aramco di Abqaiq dan Khurais oleh serangan drone dan perang tak berkesudahan di Yaman telah mengalihkan perhatian Putra Mahkota Mohammad bin Salman dari Kesepakatan Trump yang sangat merugikan Palestina.

Baca: Harian Israel “Haaretz” Sebut Deal of the Century Akan Gagal

Granot menilai, Arab Saudi dan sekutu-sekutunya telah bosan mengurus persoalan Palestina yang tak kunjung usai selama bertahun-tahun. Bahkan, negara-negara Arab mulai berani mematahkan tingginya tembok larangan normalisasi hubungan Arab-Israel.

Analis Israel itu menilai, bahkan Mesir di bawah pemerintahan Abdel Fattah El-Sisi tidak akan merespon aneksasi Lembah Jordan oleh rezim Israel, mengingat negara itu sedang disibukkan oleh pergerakan Ikhwanul Muslimin di Libya yang berbatasan langsung dengan bagian barat Mesir. (Fd/Ray Al-Youm)

DISKUSI:
SHARE THIS: