Bakar Bendera Israel, Aktivis Bahrain Dibui Selama Tiga Tahun

0
3

Sumber foto: Yerussalem Post

Manama,LiputanIslam.com—Sebuah pengadilan di Bahrain telah membui warganya selama tiga tahun karena membakar bendera Israel dalam sebuah aksi dukungan untuk Palestina.

Bahkan, Pengadilan Tinggi kerajaan itu menolak pengajuan banding atas putusan tersebut.
Putusan ini memicu reaksi keras dari para aktivis di Bahrain. Menurut keterangan Midde East Monitor (Memo), para aktivis itu memenuhi jagat media sosial di Bahrain dengan tulisan-tulisan yang menyebut kerajaan sedang berusaha menenangkan Israel lewat putusan semacam itu.

BacaParadoks Ivanka Trump: Apresiasi HAM Tapi Diam Soal Penyiksaan Pada Aktivis di Saudi dan UEA

Hubungan Bahrain-Israel sudah ada sejak hampir 25 tahun yang lalu, khususnya pada tahun 1994 ketika Menteri Lingkungan Hidup Israel Yossi Sarid berkunjung ke Manama sebagai ketua delegasi Israel untuk berpartisipasi dalam sebuah konferensi mengenai isu-isu lingkungan hidup. Kunjungan tersebut menandai awal dari hubungan Bahrain-Israel pada tahun-tahun berikutnya.

Pada 29 Januari 2000 di Davos, diadakan pertemuan antara Putra Mahkota Bahrain Salman bin Hamad Al Khalifa dan mantan Presiden Israel Shimon Peres.

Pers Barat melaporkan pada saat itu bahwa Putra Mahkota Bahrain menegaskan pada pertemuan tersebut bahwa negaranya mendukung normalisasi hubungan dengan Israel untuk meningkatkan kerja sama regional, seraya menambahkan bahwa pertemuan tersebut merupakan bagian dari pertemuan-pertemuan yang telah diadakan antara kedua belah pihak.
Setelah lima tahun kontak rahasia, hubungan Bahrain-Israel semakin erat.

Pada September 2005, Bahrain mengumumkan keputusannya mencabut larangan produk Israel dan menutup Kantor Boikot Israel di Bahrain.
Sembilan bulan setelah pengumuman itu, duta besar Bahrain di Washington Nasser al-Beloushi mengumumkan bahwa ia telah mengirim surat ke kantor Perwakilan Dagang AS yang menyampaikan bahwa Bahrain telah mengakhiri boikot produk Israel dengan tujuan meningkatkan keamanan dan kerja sama regional.

Bahrain memiliki kepentingan dalam memberitahu AS tentang keputusannya karena pencabutan larangan produk Israel dan normalisasi hubungan Bahrain-Israel merupakan permintaan langsung dari para perunding AS dan beberapa kelompok penekan politik di AS selama perundingan ratifikasi Perjanjian Perdagangan Bebas antara AS dan Bahrain yang ditandatangani pada September 2004 dan mulai berlaku pada Agustus 2006.

Langkah Bahrain itu disambut baik oleh Israel, akan tetapi dikritik oleh rakyatnya sendiri, dan merupakan salah satu pendorong pecahnya unjuk rasa besar-besaran yang nyaris menggulingkan Raja Al Khalifa pada tahun 2011.(fd/Memo)

DISKUSI:
SHARE THIS: