Assad: Turki Agresor dan Perampok

0
63

Damaskus, LiputanIslam.com –Presiden Suriah Bashar Assad mengutuk serangan tentara Turki ke wilayah utara negaranya. Assad  menyebut serangan tersebut sebagai “agresi” dan “perampokan” dan berkata, “Ketika kita menghadapi agresi atau perampokan, kita harus berdiri bersama-sama menghadapinya”. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Assad dalam pertemuan dengan personel militer Suriah yang bertugas di garis depan kota Al-Habit, di tepi selatan Idlib, pada hari Selasa (22/10/2019).

“Sayangnya, beberapa orang Suriah tidak melakukan itu, khususnya selama tahun-tahun pertama perang. Kami mengatakan kepada mereka untuk tidak menaruh harapan kepada orang asing, melainkan kepada kekuatan sendiri, yaitu tentara, rakyat, dan bangsa Suriah,” kata Presiden Assad. Pernyataannya itu ditujukan kepada kelompok Kurdi yang lebih menaruh kepercayaan dan mengandalkan dukungan dari Amerika.

Milisi Kurdi Minta Bantuan dari Israel

Presiden Suriah lebih lanjut mengatakan bahwa langkah pertama Suriah dalam menghadapi serangan Turki adalah berkomunikasi dengan faksi-faksi politik dan militer yang memiliki perbedaan pandangan. “Kami mengatakan bahwa kami siap untuk mendukung setiap kelompok yang memiliki kepentingan untuk melawan agresi. Itu sebenarnya bukan keputusan politik, melainkan sebuah kewajiban konstitusional dan negara. Jika kita tidak melakukan itu, kita tidak pantas disebut sebagai anak bangsa. ”

Terkait dengan perkembangan perang melawan terorisme, Assad menyatakan bahwa target utamanya saat ini adalah menghantam kekuatan teroris di Idlib. Menurutnya, kekalahan para teroris takfiri yang bersembunyi di Idlib sebagai kunci untuk mengakhiri perang delapan tahun yang mencengkeram negara. Hal itu ia sampaikan saat mengunjungi tentara Suriah yang dikerahkan ke garis depan melawan para teroris di kawaasan barat laut Suriah.

“Kami selalu mengatakan dan kami masih mengatakan bahwa pertempuran Idlib adalah fondasi penting untuk mengakhiri kekacauan dan terorisme di semua wilayah Suriah,” katanya selama kunjungan pertamanya ke wilayah yang diperangi sejak 2011.

Rusia: Dukungan Kepada Operasi Militer Suriah di Idlib Tidak Menyalahi Perjanjian dengan Turki

Idlib saat ini menjadi satu-satunya wilayah besar yang masih berada di tangan militan anti-Damaskus setelah militer Suriah -yang didukung oleh Iran dan Rusia- berhasil merebut kembali kawasan-kawasan yang sebelumnya dikuasai milisi di seluruh negeri, dan mengembalikan hampir semua tanah Suriah di bawah kendali pemerintah. Pada bulan Januari, PBB memperkirakan masih ada sekitar 20.000 milisi teroris di Idlib. Mereka menamakan dirinya kelompok Hayat Tahrir Al-Sham. Ini adalah koalisi milisi yang merupakan pecahan dari al-Qaeda.

Selama beberapa hari terakhir, pasukan Suriah telah dikerahkan ke bagian utara negara itu untuk membantu Kurdi dalam menghadapi serangan militer Turki. Serangan itu sendiri digelar oleh Turki pada 9 Oktober setelah AS tiba-tiba meninggalkan suku Kurdi yang selama ini menjadi sekutunya, dan menarik pasukannya dari Suriah utara. (os/alwaght)

DISKUSI:
SHARE THIS: