Angka Kesembuhan Akibat Corona di Inggris Hanya 47%

0
289

Foto: farsnews

London, LiputanIslam –Kasus penambahan virus Corona di dunia terus bertambah, dan Inggris termasuk negara yang paling parah terpapar Corona. Dalam data terbaru yang dirilis Worldometers pada hari Jumat (5/2/2021) pukul 05.45 WIB, kasus keterpaparan Covid-19  di Inggris mencapai angka 3.892.459, setelah mendapatkan tambahan 20.634 kasus baru dalam 24 jam terakhir. Dari total kasus positif tersebut, sebanyak 1,8 juta orang (47%) dinyatakan sembuh, dan angka kematiannya mencapai 110.250 orang (2,8%).

Secara umum, kasus kenaikan keterpaparaan ini juga terjadi dunia. Worldometers mengumumkan, virus ini telah menginfeksi sebanyak 105.367.269 orang di seluruh dunia. Angka kesembuhan dilaporkan mencapai 77 juta orang (73%), dan yang meninggal sebanyak 2,3 juta orang (2,1%). Amerika Serikat masih menjadi negara dengan kasus Covid-19 terbanyak di dunia, dengan angka infeksi sebesar 27 juta, disusul India, 10,8 juta kasus. Di posisi ketiga dan keempat adalah Brazil dengan angka 9,4 juta kasus dan Rusia 3,9 juta kasus.

Data Worldmeter menunjukan bahwa Indonesia saat ini masih berada di peringkat 19 di dunia dengan angka kasus infeksi mencapai 1,12 juta, angka kematian 31 ribu, dan angka kesembuhan mencapai 917 ribu (82%). Dengan demikian, prosentase kesembuhan di Indonesia jauh lebih baik dari angka rata-rata dunia. Akan tetapi, angka kematian akibat Corona di Indonesia (2,7%) sedikit di atas rata-rata kematian di dunia.

Dengan tingkat kesembuhan yang sangat rendah (hanya sekitar 47%), upaya pengendalian Corona di Inggris memang bisa dikatakan tidak berhasil. Terkait denga upaya pengendalian virus di negaranya itu, para peneliti Inggris diberitakan akan melakukan eksplorasi dosis pencampuran vaksin Covid-19 Pfizer dan AstraZeneca. Uji coba ini menjadi yang pertama kali dilakukan di dunia. Eksplorasi ini bertujuan menemukan cara baru yang diharapkan dapat segera mengurangi infeksi virus corona mutasi baru muncul.

Menurut para ilmuwan  tersebut, varian baru Inggris, Afrika Selatan, dan Brazil, tampaknya akan menyebar lebih cepat daripada yang lain. Seorang pejabat Depertemen Kesehatan Inggris Nadhim Zahawi mengatakan bahwa vaksin Covid-19 mungkin masih melindungi orang dari infeksi varian baru, tapi perlu dipantau secara ketat.

Miris, 8 Alasan Mengapa Iran Menolak  Impor Vaksin Produk AS dan Inggris

Pada hari Kamis (4/2/2021), para ilmuwan diberitakan telah melakukan uji coba untuk melihat respons kekebalan yang dihasilkan jika dosis vaksin dari Pfizer dan AstraZeneca digabungkan dalam jadwal dua suntikan. Data awal untuk mengetahui respons kekebalan baru bisa dirilis sekitar bulan Juni mendatang. Matthew Snape yang memimpin proyek uji coba ini menyatakan bahwa pencampuran suntikan yang berbeda telah terbukti efektif dalam vaksin Ebola.

Sebelumnya, Pemimpin Iran Ayatollah Khamenei telah mengeluarkan instruksi (fatwa) terkait larangan mengimpor vaksin dari Inggris dan AS. Salah satu alasan yang disampaikan Ayatollah Khamenei adalah bahwa vaksin yang berasal dari negara yang terbukti gagal mengendalikan virus sama sekali tidaklah aman. (os/kompas/LI)

DISKUSI: