Analis: Unjuk Rasa di AS Tunjukkan Keputusasaan di Tengah Masyarakat Rasis dan Kapitalis

0
55

Detroit,LiputanIslam.com-Dalam wawancara dengan Tasnim, Abayomi Azikiwe, seorang analis AS yang menetap di Detroit, menyatakan bahwa aktivitas politik Donald Trump dibangun atas dasar rasisme, diskriminasi jenis kelamin, dan fanatisme antiimigran.

Berikut adalah wawancara singkat Tasnim dengan Azikiwe seputar perkembangan terakhir di AS:

Tasnim: Unjuk rasa atas kebrutalan polisi yang menewaskan George Floyd terus berlanjut di seluruh AS. Apa pandangan Anda soal unjuk rasa ini?

Azikiwe: Unjuk rasa dan kerusuhan ini bukan sekadar reaksi langsung atas tewasnya Floyd oleh Polisi Minneapolis. Tapi juga menunjukkan kemarahan dan keputusasaan di tengah sebuah masyarakat rasis dan kapitalis.

Keputusasaan massal ini sudah terbentuk sejak lama akibat kebrutalan aparat kulit putih radikal terhadap kelompok Afro-Amerika. Kemarahan publik ini muncul saat pandemi Corona telah menewaskan lebih dari 100 ribu orang dan menjangkiti lebih dari 1,6 juta orang di AS. Krisis ini adalah krisis kesehatan dan kemanusiaan terburuk di AS dalam lebih dari seabad terakhir.

Warga Afro-Amerika paling terdampak oleh Corona di sejumlah negara bagian, seperti Michigan dan Illinois. Persentase warga Afro-Amerika yang dirawat di RS atau meninggal karena Corona jauh lebih tinggi dibanding ras lain di AS.

Lebih dari 41 juta orang menganggur. Banyak warga AS yang tak memiliki uang dan pangan. Ini adalah dampak langsung dari runtuhnya ekonomi. Sebab itu, tak seharusnya orang merasa heran atas terjadinya kerusuhan yang dipicu pembunuhan Floyd.

Tasnim: Trump pada Jumat lalu menyebut pengunjuk rasa sebagai “berandal dan penjahat” di tweet-nya. Dia berkata,”Jika penjarahan dimulai, penembakan akan dilakukan.”Cuitannya dikritik keras lantaran memprovokasi kekerasan. Apa pendapat Anda soal cuitan Trump?

Azikiwe: Trump membangun aktivitas politiknya di atas fondasi rasisme, diskriminasi jenis kelamin, dan fanatisme antiimigran. Dia memperkeruh ketegangan di tengah masyarakat AS untuk menyerang Caracas, Beijing, dan Teheran. Di kancah domestik, ia mempertajam perselisihan antara kulit putih dan Afro-Amerika guna memecah belah negara sehingga ia bisa berkuasa 4 tahun lagi.

Tasnim: AS adalah sebuah kontradiksi. Prinsip-prinsip dasarnya adalah norma kebebasan dan kesetaraan. Namun negara ini melakukan pengabaian sistematis dan diskriminasi terhadap kulit berwarna. Sejak awal, banyak aturan dan kebijakan publik AS yang dirancang untuk mencegah partisipasi penuh kelompok kulit berwarna di aktivitas sosial dan politik. Apa penyebabnya?

Azikiwe: Deklarasi Kemerdekaan 1776 tidak menuntut kebebasan orang-orang Afrika dari perbudakan. Di awal terbentuknya negara bernama AS, hanya orang-orang kulit putih pemilik tanah yang bisa memberikan suara dan bekerja dalam pemerintahan.

Orang-orang Afrika, kelompok terpinggirkan, wanita, dan para buruh terpaksa memulai sebuah perjuangan panjang untuk bisa memperoleh hak politik dan demokratis mereka.

Ketika perbudakan ilegal diakhiri pada tahun 1865 pasca Perang Saudara, orang-orang Afro-Amerika tetap terpaksa melanjutkan perjuangan demi kemerdekaan, kesetaraan, dan keadilan ekonomi. Yang mesti dilakukan dalam kondisi saat ini adalah meruntuhkan rezim rasis dan kapitalis. Perdamaian hanya bisa diwujudkan oleh masyarakat yang benar-benar demokratis dan antirasis. (af/tasnim)

Baca Juga:

[VIDEO] Tentara Nasional AS Turun ke Jalanan Washington DC

Menjalar Hingga Ke Luar AS, Demo Antirasisme Berlangsung di Depan Kedubes AS di Denmark

DISKUSI:
SHARE THIS: