AS Mengaku Sedang Menunggu Izin Pemerintah Irak untuk Pengerahan Rudal Patriot

0
157

Washington, LiputanIslam.com –  AS sedang berupaya mengirimkan sistem rudal Patriot ke Irak setelah terjadi serangan rudal balistik Iran pada awal bulan ini, namun membutuhkan “izin” dari pemerintah Irak, demikian dikatakan Menteri Pertahanan Mark Esper, Kamis (30/1/2020).

Bersamaan dengan ini, Kepala Staf Gabungan Militer AS Jenderal Mark Milley mengkonfirmasi bahwa AS “bekerja dengan pemerintah Irak,” dengan “mekanisme” yang masih perlu diselesaikan.

Proses itu “sedang berlangsung,” ujarnya.

Belum lama ini Kementerian Pertahanan AS Pentagon merilis laporan baru bahwa korban cedera tentara AS akibat serangan rudal Iran pada 8 Januari bertambah dari 34 menjadi menjadi 50 orang dan bahwa mereka memerlukan perawatan untuk cedera otak traumatik.

Menanggapi laporan ini, Esper menyatakan bahwa Presiden Donald Trump sepenuhnya menyadari keseriusan cedera ini, dan berjanji akan memberi penjelasan singkat kepada Kongres soal ini di kemudian hari.

Serangan udara AS di dekat Bandara Internasional Baghdad pada dini hari tanggal 3 Januari 2020 telah menewaskan komandan Pasukan Quds IRGC Jenderal Qassem Soleimani dan wakil ketua pasukan relawan Irak al-Hashd al-Shaabi, Abu Mahdi al-Muhandis, serta beberapa orang lain yang menyertai keduanya.

Pada dini hari Rabu 8 Januari 2020 IRGC membalas serangan AS itu dengan menembakkan belasan rudal balistiknya ke dua pangkalan militer AS di Irak, termasuk Lanud Ain Assad yang ditempati oleh sekira 1500 tentara AS.

IRGC mengklaim serangannya itu menewaskan 80 tentara AS, sementara Presiden AS Donald Trump semula mengklaim serangan balasan Iran itu tidak menjatuhkan korban tewas maupun luka, namun belakangan Pentagon secara resmi menyatakan 34 dan kemudian 50 tentara AS cidera .

Baca: Pengakuan Terbaru Pentagon, 50 Serdadu AS Cedera Otak Akibat Serangan Iran

Pada 10 Januari pemerintah Irak meminta pemerintah AS mengirim delegasi untuk membahas mekanisme penarikan pasukan dari Irak, namun AS menolaknya dan malah mengancam akan menerapkan embargo terhadap Irak jika Baghdad bersikeras menuntut pasukan AS keluar dari Irak.

Baca: Intelijen AS Pembunuh Jenderal Soleimani Tewas di Afghanistan

Pada Jumat 23 Januari terjadi unjuk rasa jutaan rakyat Irak di Baghdad untuk menegaskan tuntutan mereka agar tentara AS angkat kaki dari Irak, dan setelah itu para pejuang Irak  kerap menyerang pasukan AS dan area komplek Kedutaan Besar AS di Zona Hijau di pusat Baghdad, ibu kota Irak. (mm/amn/railalyoum)

DISKUSI: