Alasan Dibaliknya Rapuhnya Koalisi Arab Saudi dan UEA di Yaman

0
396

Potret pelabuhan Aden. Sumber foto: Wikipedia

Aden,LiputanIslam.com—Kelompok separatis pro-UEA yang menamai diri sebagai Dewan Transisi Selatan (STC) telah mendeklarasikan pemerintahan darurat, otonom dan berencana mengatur pelabuhan Aden serta beberapa provinsi di Yaman selatan. Kubu pemerintah Yaman pro-Saudi menilai deklarasi itu sebagai bentuk pelanggaran terhadap perjanjian damai yang sebelumnya berlangsung di Riyadh antara STC dengan pemerintah Mansur Hadi pro-Saudi.

Perselisihan antara STC dan pemerintah Mansur Hadi pro-Saudi dalam skala yang lebih luas berarti perselisihan antara Uni Emirat Arab dan Arab Saudi. Perselisihan ini akan memicu retaknya koalisi negara teluk yang telah melakukan kampanye militer ke Yaman untuk menghancurkan kelompok Ansarullah (Houthi) sejak Maret 2015 lalu. Keadaan ini juga akan mengubah peta politik dalam konflik Yaman.

Baca juga:

STC Deklarasikan Pemerintahan Baru di Yaman Selatan

Ketidakharmonisan STC dengan pemerintah Yaman pro-Saudi erat kaitannya dengan kelompok politik bernama al-Islah di Yaman. Aliansi yang terjadi antara pemerintah Yaman pro-Saudi dengan al-Islah sangat ditentang oleh STC.

Penolakan UEA dan STC terhadap al-Islah disebabkan karena partai itu memiliki hubungan dengan Ikhwanul Muslimin, kelompok pergerakan politik Islam timur tengah yang dianggap teroris oleh UEA dan sejumlah negara Arab lainnya. Di sisi lain, pemerintah Yaman pro-Saudi menilai al-Islah sebagai bagian dari fraksi politik di Yaman yang harus dirangkul pemerintah.

Baca juga:

Jubir STC Sebut Pemerintah Yaman Pro-Saudi Tak Layak Berkuasa

Perbedaan sudut pandang antara STC dan pemerintah Yaman pro-Saudi terhadap partai al-Islah menyebabkan dua kubu ini tak bisa berjalan beriringan. Tak hanya itu, pemerintah Yaman pro-Saudi juga terlibat perselisihan internal usai Abd Rabbuh Mansur Hadi memecat gubernur Aden, al-Zubaidi. Pemecatan ini memicu aksi unjuk rasa yang melahirkan STC dengan al-Zubaidi sebagai pimpinan.

Bagaimanapun juga, konflik Yaman telah menyebabkan negara itu terjerembab ke dalam jurang krisis kemanusiaan yang sangat mengkhawatirkan. PBB menyebut, setidaknya 7.500 warga sipil meninggal. Mayoritasnya disebabkan oleh serangan udara dari kelompok koalisi pimpinan Saudi. Sejumlah kelompok pengamat memperkirakan bahwa perang Yaman telah merenggut nyawa 112.000 orang, 12.600 di antaranya adalah warga sipil. (fd/Al-Jazeera/Eurasiareview.com)

DISKUSI: