Mendalami Motif Polisi yang “Baperan” dengan Joke Gus Dur

0
105

Potret Almarhum Gus Dur. Sumber foto: Bangka Pos

LiputanIslam.com—Beberapa hari lalu, seorang warga asal Maluku Utara bernama Ismail Ahmad diperiksa oleh pihak kepolisian karena postingannya berupa kutipan Gus Dur yang berbunyi, “ Hanya ada tiga polisi jujur di Indonesia: Patung Polisi, Polisi tidur, dan Jenderal Hoegeng”.

Entah mengapa, polisi menganggap postingan itu sebagai pelecehan dan Polres Kepulauan Sula bahkan mengancam akan memidanakan Ismail dengan Pasal 45 ayat (3) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Tindakan pihak kepolisian ini sudah terlalu berlebihan dan tidak tepat sasaran. Pertama, karena Ismail hanya mengutip kata-kata Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang dianggap sebagai lelucon oleh publilk. Kedua, jika memang polisi keberatan dengan kalimat itu, harusnya yang diperiksa adalah pembuat kalimat atau almarhum Gus Dur, bukan Ismail.

Sikap yang ditunjukkan pihak kepolisian terkesan begitu berlebihan. Banyak tokoh yang menilai, seharusnya polisi tidak melakukan itu. Alissa Wahid, putri sulung Almarhum Gus Dur menilai sikap itu adalah bentuk intimidasi institusi negara terhadap warganya yang mengekspresikan pendapat melalui media. Bahkan, Alissa menantang, apakah polisi akan memeriksanya juga jika ia ikut memposting joke serupa.

Tak hanya Alissa, Staf Khusus Presiden Joko Widodo Bidang Hukum, Dini Purwono juga menilai postingan Ismail tidak bermasalah dari sisi hukum. Apa yang dilakukan polisi memanggil dan memeriksa Ismail memang terlalu berlebihan.

Joke Almarhum Gus Dur ini pada dasarnya telah muncul beberapa tahun lalu dan bahkan tercantum dalam sejumlah buku, di antaranya buku ‘Mati Tertawa Bareng Gus Dur’ karya Bahrudin Achmad, ‘Koleksi Humor Gus Dur’ karya Guntur Wiguna, dan buku ‘Tertawa Ala Gus Dur, Humor Sang Kyai’ karya Imron Nawawi. Tapi mengapa sekarang polisi jadi sensitif dengan Joke tua ini?

Tentu saja ada sebabnya. Jika memang polisi merasa joke ini memuat unsur penghinaan, harusnya sudah dari dulu dipersoalkan, bukan sekarang.

Integritas Polisi yang Semakin Terkikis

Kita tau, akhir-akhir ini kepercayaan publik pada polisi sudah semakin turun, lebih-lebih setelah viralnya kasus penyiraman air keras kepada penyidik KPK Novel Baswedan yang ternyata dilakukan oleh dua orang polisi aktif.

Kasus ini memperlihatkan publik bahwa polisi telah menghalang halangi kerja KPK dalam memberantas korupsi di Indonesia. Dalam konteks ini, polisi seolah terkesan sebagai koruptor yang tak sudi kebusukannya diungkap ke publik.

Jika merujuk pada hasil survei Lembaga survei Indikator, seperti yang dikatakan peneliti Indikator, Burhanuddin Muhtadi pada Minggu (7/6) lalu, kepercayaan publik pada institusi kepolisian telah menurun dari yang semula 85,6 persen menjadi 79,4 persen. Hasil survei ini belum lagi dilakukan pasca berlangsungnya persidangan kasus Novel Baswedan yang kemungkinan besar akan menyebabkan turunnya kepercayaan publik pada institusi Polri di bawah angka 79, 4 persen.

Di saat institusi Polri dibayang-bayangi stigma sebagai sarang koruptor oleh masyarakat. Humor yang diposting Ismail kemudian muncul dan seolah bertanya, “ Adakah polisi yang masih bisa kita percaya sekarang?”. Humor yang semula biasa-biasa saja, akhirnya menjadi tidak biasa lagi bagi polisi. Tapi sikap polisi justru menarik. Pemeriksaan yang dilakukan oleh pihak kepolisian terhadap Ismail justru menegaskan bahwa polisi pada dasarnya mengakui stigma ini. Polisi seolah merasa dirinya sudah tak lagi jujur, sehingga cepat tersinggung jika ketidakjujuran ini diungkap ke publik, bahkan oleh kalimat-kalimat humor seperti joke Gus Dur.

Padahal, jika saja polisi mau berbaik sangka, postingan ini pada dasarnya adalah teguran halus masyarakat untuk para polisi agar kembali kepada jalurnya, sebagai pengayom dan pelindung rakyat. Para polisi harusnya memperbaiki citranya di mata publik dengan cara menghukum sekeras-kerasnya oknum-oknum polisi tak bertanggung jawab yang telah mencederai nama baik kepolisian, bukan justru melindungi dan membela mereka. Seharusnya, rakyat seperti Ismail diberikan penghargaan dari kepolisian atas jasanya mengingatkan institusi ini untuk berbenah dan memperbaiki diri. Atau jika tidak dalam bentuk penghargaan, polisi bisa sekadar membalas postingan itu dengan ucapan, “ Terimakasih ya, udah ngingetin.” (HA/LiputanIslam.com)

DISKUSI: