Evie Effendi dan Fenomena Ustad “Cepat Saji” yang Digandrungi Masyarakat

0
130

Sumber foto: islamidia.com

LiputanIslam.com—Akhir-akhir ini, lini media sosial dihebohkan dengan berita-berita tentang Evie Effendi—setelahnya akan saya sebut Effendi—yang berceramah dan membaca Al-Qur’an dengan tajwid dan makharijul huruf yang kurang tepat. Karena penasaran, saya pun mencari link videonya dan menyadari bahwa caraEffendi membaca Al-Qur’an memang masih banyak kekurangannya.

Saya tau, ada banyak orang yang belum lancar atau bahkan belum bisa membaca Al-Qur’an. Bagi saya ini biasa saja. Tapi, karena Effendi dikenal sebagai ustad dengan jamaah dimana-mana, maka wajar saja jika masyarakat heboh dengan kejadian ini. Kemampuan membaca Al-Qur’an itu adalah hal dasar yang harus dimiliki oleh seorang Ustad. Minimal, tajwid dan pengucapan hurufnya sudah tepat. Soal suara merdu dan pandai melagukannya (baca: tilawah) itu hanya nilai plus saja.

Terlepas dari persoalan kurang lancarnya Effendi membaca Al-Qur’an, kenyataannya Effendi adalah ustad kondang dengan popularitas yang terbilang tinggi. Sejumlah video ceramahnya telah ditonton oleh ratusan ribu orang bahkan sebagian ceramah jumlah penontonnya telah tembus di angka jutaan. Contohnya adalah ceramah yang diposting oleh akun  You Tube DPA ODOJ KOTA BOGOR  dengan judul “ Kajian Akbar Rek Kitu Wae?” telah ditonton oleh 1.598.276 kali. Bagi saya, ini adalah angka yang fantastis. Apa yang membuat Effendi mendapat begitu banyak jamaah?

Setelah melihat sejumlah videonya, ada dua hal yang selalu melekat pada Effendi saat dirinya berceramah. Pertama, penampilannya berbeda dari penceramah pada umumnya. Ia memakai kupluk untuk menutupi rambutnya, bukan songkok atau peci lazimnya penceramah kebanyakan. Bahkan, dalam salah satu ceramahnya, Effendi mengenakan kaos dan celana jeans. Penampilannya ini paling tidak telah menghapus kesan penceramah sebagai sosok yang “kaku” dan kurang bersahabat dengan gaya anak-anak muda. Harus diakui, gaya penampilan semacam ini telah menjadi salah satu daya pikat Effendi di mata anak-anak muda. Kedua, konten-konten yang dibahas juga menyasar persoalan-persoalan yang umumnya dialami oleh anak-anak muda, di antaranya adalah masalah percintaan, mantan, patah hati, dan sejenisnya. Meski tidak semua, tapi hampir sebagian besar objek yang tersentuh dalam isi ceramahnya adalah persoalan-persoalan semacam ini.

Jika diukur berdasarkan kualitas keilmuan, basis keilmuan Effendi tentang ilmu agama kurang begitu meyakinkan. Pertama, karena ia tidak memiliki rekam jejak pendidikan agama yang jelas. Seperti diulas oleh sejumlah media, Effendi dulunya adalah seorang kriminal dan anggota geng motor yang kemudian tobat, serta beralih menjadi pendakwah. Bahkan, ia pernah bermasalah ketika menyebut Rasulullah Saw pernah sesat.

Don’t judge the book by its cover. Bisa juga dipahami bahwa kita tidak boleh hanya terpaku pada penampilan luar saja, tapi juga isi dan kedalaman yang tersembunyi di balik “cover”. Tapi kenyataannya, tampilan luar adalah hal utama yang pertama kali dinilai dan itulah yang terjadi dengan para jamaah Effendi. Urusan kualitas keilmuan keagamaan nomor dua, yang paling utama adalah penampilannya, gaya ceramahnya yang lucu, dan rangkaian kata-kata yang teratur seperti puisi.

Dua Tipe Jamaah

Indonesia adalah negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Di negara ini, agama adalah hal yang sangat penting dan ketergantungan masyarakat Indonesia terhadap agama begitu tinggi. Karena itu, tidak mengherankan jika buku-buku tentang agama begitu laris di pasaran dan amarah publik begitu mudah terpancing oleh isu-isu agama. Kita tentu masih ingat bagaimana mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahya Purnama (AHOK) tumbang karena isu agama.

Jika dilihat dari kecenderungan masyarakat Muslim Indonesia dalam memilih ceramah dan penceramah agama, saya cenderung untuk membaginya menjadi dua. Pertama adalah kubu Muslim terdidik yang suka mendengarkan paparan keagamaan yang dalam, meskipun tidak lucu itu bukan soal. Setidaknya, apa yang disampaikan oleh seorang penceramah harus didasarkan atas basis keilmuan keagamaan yang luas, tidak cukup hanya dengan kutipan ayat-ayat Al-Qur’an dan sejumlah kisah-kisah sejarah keagamaan, tetapi juga harus mencakup khazanah pengetahuan keislaman yang komprehensif seperti hadis, sejarah, aliran-aliran keagamaan sampai pada level perbedaan pendapat di kalangan para ulama otoritatif terdahulu. Dan yang paling penting, penceramah harus memilik rekam jejak keilmuan agama yang jelas. Potret penceramah seperti ini bisa kita lihat dari sejumlah tokoh agama seperti Qurays Shihab dan Gus Mus. Keduanya adalah alumni Universitas Al-Azhar dan memang tekun belajar agama sejak masa kecilnya.

Kedua, dan ini yang mayoritas, adalah kubu Muslim awam yang suka dengan uraian-uraian ceramah yang sederhana. Seperti ajakan untuk beriman kepada Allah Swt dan beribadah dengan definisi yang sederhana juga. Shalat subuh tepat waktu, tahajud, mengaji, pergi ke masjid, dan menikah untuk mengikuti sunnah Rasul, serta memakai hijab bagi perempuan. Kubu awam ini tak merasa perlu dengan uraian panjang tentang perdebatan para ulama dan kompleksitas penafsiran terhadap suatu ayat dalam memandang suatu persoalan. Bagi kubu kedua, latar belakang pendidikan keagamaan penceramah itu bukan masalah. Seseorang bisa disebut ustad dan ceramahnya patut didengarkan apabila ia mampu menghafal sejumlah ayat dan menyampaikannya. Itu saja.

Padahal, mendengarkan ceramah agama dari mereka yang tidak memiliki basis keilmuan agama yang jelas bisa berbahaya. Dalam detail tertentu, kita bisa menjadi seorang Muslim yang kaku dan tidak toleran. Seperti ketika memandang kehadiran non-Muslim. Kita bisa saja terjebak pada kondisi dimana kita melihat non-Muslim sebagai kafir dan layak untuk dibunuh hanya karena membaca ada ayat Al-Qur’an yang secara tersurat memerintahkan hal itu. Dalam detail lainnya, sebagai laki-laki kita bisa saja terobsesi untuk poligami hanya karena Nabi Muhammad Saw juga berpoligami.  Padahal, jika dibedah secara luas, membunuh manusia, termasuk non-Muslim itu tidak bisa dibenarkan dan mempraktikkan poligami bukan hanya soal mengawini satu, dua, tiga, atau empat perempuan. Ada banyak kondisi dan syarat yang harus tercukupi, sehingga tidak semua laki-laki mampu untuk melakukannya.(HA/LiputanIslam.com)

 

 

DISKUSI: