Tujuan-tujuan Incaran Tel Aviv di Balik Negosiasi Perbatasan Lebanon-Israel

0
128

LiputanIslam.com-Sama seperti persoalan-persoalan lain, persoalan penentuan batas perairan Lebanon dan Israel telah menjadi subjek untuk menggulirkan ide atau rencana yang mustahil diterapkan, yang dengan cara ini Rezim Zionis berusaha meraih tujuan-tujuan tertentu.

Negosiasi tidak langsung antara Beirut dan Tel Aviv terkait perbatasan adalah negosiasi yang bersifat teknis sepenuhnya. Negosiasi ini hanya berkaitan dengan penentuan batas perairan dan penambangan gas di perairan Lebanon.

Ini adalah poin yang penting untuk ditegaskan, sebab sejumlah pihak berusaha mengesankan perundingan ini sebagai senjata untuk mendiskreditkan Hizbullah, dengan mengklaim bahwa ini bukti normalisasi dengan Israel. Padahal, perundingan ini sama persis seperti perundingan soal pertukaran tawanan.

Perundingan ini sama sekali tak bisa dianggap sebagai upaya untuk kompromi, namun murni bersifat teknis yang hanya membahas masalah perbatasan. Perundingan ini tidak menepikan prinsip permusuhan dengan Rezim Zionis.

Kita cukup menyinggung statemen dan pengakuan sumber-sumber internal Israel. Mereka mengakui, para petinggi Israel bahkan tak memikirkan soal normalisasi dalam perundingan ini. Pengakuan ini muncul dari fakta bahwa Lebanon mustahil menormalisasi hubungan dengan Rezim Zionis, kendati di bawah tekanan dan iming-iming AS sekalipun.

Tentu saja Rezim Zionis masih berupaya mengesankan bahwa pihaknya “telah diakui oleh Lebanon,” meski mereka sendiri lebih tahu dari siapa pun bahwa hal ini sama sekali tidak benar. Untuk itu, mereka berusaha mengutus tokoh-tokoh politik ke perundingan guna mengesankan perundingan ini bersifat politis, bukan teknis.

Benar bahwa Lebanon tengah ditekan oleh AS dan Beirut sangat membutuhkan operasi penambangan sebagai hak sahnya. Namun ini tidak berarti bahwa Lebanon akan mudah begitu saja menormalisas hubungan dengan Israel. Lebanon tetap menuntut haknya untuk mengakses laut, tanpa harus menodai diri dengan normalisasi.

Jelas bahwa Israel akan memanfaatkan sikap sejumlah pihak di Lebanon, yang sejalan dengan strategi Tel Aviv. Kita akan melihat bahwa sebagian orang mengatakan, Hizbullah telah “berpaling dari prinsip perlawanannya.” Namun klaim ini jelas tidak benar. Dalam beberapa tahun terakhir, Hizbullah telah menanggung kondisi tersulit, namun tidak pernah menanggalkan prinsip dan keyakinannya. Sekarang ini pun, Hizbullah tetap berpegang teguh pada prinsipnya, baik di hadapan perundingan perbatasan atau selainnya.

Di sini, ada sebuah hakikat yang enggan diakui oleh sebagian orang, yaitu bahwa di mata Israel, normalisasi dengan Lebanon dan Hizbullah jauh lebih penting dari normalisasi dengan negara-negara Arab lain. Sebelum ini, AS telah menawari Hizbullah agar berhenti memerangi Rezim Zionis. Sebagai imbalannya, Hizbullah diiming-imingi keberadaan tanpa batas di Pemerintahan Lebanon. Andai AS dan Israel tidak menyadari nilai dan urgensi Hizbullah, niscaya mereka tak akan bersusah payah untuk menyingkirkannya dari lapangan, baik dengan ancaman atau bujukan. (af/alalam)

Baca Juga:

Hizbullah: Perundingan Perbatasan Libanon dengan Israel Tak Ada Kaitannya dengan Normalisasi

Hizbullah: AS Tak Dapat Halangi Partisipasi Kelompok Pejuang di Kabinet Libanon

 

DISKUSI: