Trump Enggan Akui Kekalahan, Akankah Pilpres AS Berujung Kericuhan?

0
187

LiputanIslam.com-Saat Donald Trump ditanya perihal komitmen untuk menyerahkan kekuasaan secara damai, jika ia kalah di Pilpres AS November mendatang, ia menjawab,” “Kita harus lihat apa yang akan terjadi… Kotak suara adalah bencana dan berada di luar kendali. Jujur saja, tidak akan ada perpindahan (kekuasaan). Yang ada adalah kelanjutan (kepresidenan saya).”

Menyusul keengganan Trump untuk menyerahkan kekuasaan secara damai jika ia kalah nanti, Senator Mitt Romney dari Partai Republik mengatakan,”Asas demokrasi adalah perpindahan kekuasaan secara damai. Tanpanya, kasus Belarusia akan terulang. Tiap usulan yang menyebutkan bahwa presiden bisa saja tidak menghormati UUD, sangat tidak bisa diterima.”

Patut diingat bahwa pada pemungutan suara terkait tuduhan penyalahgunaan kekuasaan atas Trump di bulan Februari lalu, 52 wakil Republik di Senat AS menolak interpelasi atas Trump. Hanya 47 senator yang menyatakan persetujuannya, termasuk Romney yang nota bene berasal dari partai Republik. Tindakan Romney ini direspons pedas oleh Trump. Dia mengatakan bahwa Romney pada Pilpres 2012 tidak mengerahkan upaya secara maksimal untuk mengalahkan kandidat dari Demokrat, Barack Obama.

Trump bukan hanya enggan menyerahkan kekuasaan secara damai. Bahkan dalam sebuah konferensi pers, ia secara tidak langsung mendukung kericuhan yang dilakukan para pendukungnya.

Saat wartawan berkata bahwa orang-orang sedang melakukan kerusuhan, Trump memotong pembicaraannya dan berkata,”Singkirkan kertas-kertas suara. Tidak akan ada perpindahan kekuasaan. Yang ada adalah berlanjutnya kekuasaan, dengan cara amat damai.” Setelah itu, agar ia bisa meninggalkan konferensi pers yang menyulitkan tersebut, Trump berdalih bahwa ia “harus menjawab hubungan telepon penting.”

Jelas bahwa Trump telah menciptakan banyak musuh, baik dari dalam atau luar, untuk dirinya sendiri akibat lemahnya manajemen pemerintahan, sikap congkak, dan statemen-statemen provokatifnya. Bahkan, lobi-lobi Zionis yang telah mengantarkannya ke Gedung Putih, tidak luput dari serangan-serangannya.

Trump sangat mencemaskan hasil Pilpres pada November mendatang. Ia tidak menyembuyikan ketakutannya terhadap lembar kertas suara, media, kantor berita, bahkan media-media sosial. Partai Demokrat bahkan sampai memberi peringatan bahwa Trump bisa saja menggunakan Facebook untuk mendeklarasikan kemenangannya.

Beberapa pekan lalu, pendiri dan pemilik Facebook, Mark Zuckerberg telah mengabarkan kemungkinan terjadinya kerusuhan pasca Pilpres.

“Menurut saya, kita harus melakukan semampu kita untuk memperkecil kemungkinan terjadinya kerusuhan yang dilakukan rakyat dalam Pilpres ini,”kata Zuckerberg.

Jubir Facebook juga menyatakan, perusahaannya tidak akan mengizinkan propaganda politik mana pun, termasuk deklarasi kemenangan yang dilakukan kandidat sebelum diumumkannya hasil resmi pemilu. (af/alalam)

Baca Juga:

Aksi Nekat Pemerintahan Trump terhadap Iran Menjelang Pilpres AS

Lembaga Intelijen AS Akui Tak Ada Bukti Iran dan China Intervensi Pilpres 2020

DISKUSI: