Trump Bunyikan Lonceng Kematian bagi Amerika

0
250

LiputanIslam.com—Babak baru konfrontasi antara antara poros perlawanan Islam melawan arogansi global pimpinan Amerika Serikat telah dimulai. Fase ini ditandai dengan terbunuhnya komandan Pengawal Revolusi Islam (IRGC), Mayor Jenderal Qassem Soleimani dan Abu Mahdi al-Muhandis, wakil kepala Komite Mobilisasi Populer.

Kejahatan Amerika tentu akan ditanggapi secara tegas oleh Iran. Meskipun apa yang akan terjadi sulit diprediksi, tapi AS telah memulai permainan berbahaya yang akan segera berakhir di tangan poros perlawanan Islam.

Beberapa tahun Donald Trump Berkuasa, pemerintah AS mulai menjatuhkan sanksi ekonominya terhadap Iran. Akibatnya, ketegangan antara Iran-AS di Teluk Persia semakin meningkat. Meski begitu, Trump selalu menekankan tak ingin melakukan konfrontasi militer dengan Iran.

Langkah AS membunuh petinggi militer Iran pada Jum’at pagi di Baghdad memunculkan tanda tanya besar. Mengapa AS melakukan kejahatan ini? Di saat negara itu tengah membatasi keterlibatannya di Asia Barat. Apa dampaknya bagi AS ke depan?

Kesalahan Besar si Penjudi

Pembunuhan Mayor Jenderal Soleimani jelas merupakan keputusan terbesar yang pernah dibuat Trump selama memimpin AS. Keputusan ini bisa saja membuat ia gagal merebut suara pada pemilihan presiden mendatang, sebab lawannya dari partai Demokrat sedang berusaha mencari peluang untuk menentang kebijakan Trump.

Keputusan berbahaya Trump ini akan bisa dipahami dengan lebih baik jika kita melihat perkembangan yang terjadi di Timur Tengah beberapa bulan terakhir.

Baca: Tewasnya Soleimani dan Krisis Baru di Timteng

Usai pesawat mata-mata AS, Global Hawk, ditembak jatuh oleh Iran di Selat Persia beberapa bulan lalu, Presiden AS Donald Trump menolak untuk balas dendam. Ia khawatir dengan resiko yang akan ditanggung jika harus berkonfrontasi langsung dengan Iran. Namun, keengganan balas dendam Trump telah membuat sekutu AS di Timur Tengah—Israel, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab (UEA)—kecewa. Kepercayaan mereka terhadap Trump mulai menurun drastis.

Keadaan semakin parah setelah kelompok Ansarullah Yaman menyerang fasilitas minyak Aramco milik Arab Saudi dengan rudal dan drone. Negara-negara di kawasan yang selama ini menggantungkan keamanannya dari AS mulai bertanya-tanya. Kemana Trump di saat mereka benar-benar membutuhkannya?

Buntut kejadian ini berdampak pada meningkatnya kecaman—baik itu di Timur Tengah atau di luar—terhadap Trump. Pada akhirnya, keadaan ini bisa mempengaruhi keamanan pasukan Amerika dan sekutunya di kawasan.

Proses ini berjalan bersamaan dengan gagalnya kebijakan luar negeri AS, seperti krisis nuklir Korea Utara, perang Suriah, dan introgasi senat telah membuat Trump khawatir dengan masa depannya. Trump mulai memahami perang dagang AS-Cina dan pembunuhan Abu Bakr al-Baghdadi telah gagal menggantikan berbagai kekurangan AS sebelumnya.

Buruknya keadaan akhirnya membuat Gedung Putih mulai mengatur rencana untuk menyerang PMF/PMU/Hashad al-Sha’abi, terutama Hizbullah Irak, untuk kembali meluruskan tujuan kebijakannya di kawasan. AS secara tidak langsung ingin mengirimkan pesan kepada sekutu-sekutunya agar tidak melakukan perundingan damai dengan Iran.

Di luar dugaan AS, rakyat Irak justru bersatu untuk mengutuk kejahatan AS terhadap PMF dan Hizbullah Irak. Terlebih usai kedutaan AS di Irak berhasil dilumpuhkan oleh massa yang mengamuk. Semua ini benar-benar mengganggu perhitungan AS.

Baca: Tentang Qassem Soleimani

AS mulai khawatir dengan serangan balasan dari Irak, terlebih usai Abu Mahdi al-Muhandis, pimpinan Brigade Hizbullah Irak, mengeluarkan ancamannya terhadap AS. Maka, AS mulai menyusun rencana pembunuhan terhadap Abu Mahdi al-Muhandis dan Jenderal Qassem Soleimani. AS beranggapan, langkah ini setidaknya bisa membuat Netanyahu dan Bin Salman tersenyum bahagia untuk sementara. Tapi, apakah Trump mempertimbangkan dampak yang akan dihadapi usai pembunuhan ini? Tentu saja tidak, dan ini disoroti secara langsung oleh kritikus-kritikus lokal yang menyoroti rangkaian peristiwa ini.

Sementara Trump ingin menjadikan pembunuhan terhadap pimpinan Pasukan Quds dan tokoh penting dalam PMF sebagai alat propaganda, lawan-lawannya dari partai Demokrat telah mulai menyerang Trump. Mereka menyebut Trump “bodoh” dan kurang berpengalaman. Bahkan, Joe Biden menyebut Trump telah meletakkan dinamit ke dalam tong berisi bubuk peledak.

Faktanya, pasca terjadinya pembunuhan ini, kondisi Amerika tidak kunjung membaik. Justru reaksi yang ditunjukkan mayoritas rakyat Timur Tengah dan dunia membuktikan gagalnya pertaruhan besar Donald Trump.

Trump yang awalnya berusaha menemukan jalan keluar secara bertahap dari Asia Barat agar lebih fokus pada perang dagang dengan Cina. Kini, harus berpikir untuk meninggalkan Asia Barat membawa peti mati militer AS. Kebijakan Trump di kawasan, dalam waktu dekat, akan menuai kegagalan total dan Irak, tentu saja akan menjadi pemeran utama dalam permainan ini. (fd/al-Waqt)

DISKUSI: