Tewasnya Soleimani dan Krisis Baru di Timteng

0
160

LiputanIslam.com –Di awal tahun baru ini, dunia dihebohkan oleh peristiwa tewasnya Jenderal Iran Qassem Soleimani dalam sebuah serangan yang dilakukan oleh militer AS. Pentagon juga menyatakan bertanggung jawab atas tewasnya Soleimani. Iran bersumpah akan memberikan balasan yang menyakitkan kepada AS dan sekutunya.

Berbagai laporan menyebutkan bahwa tewasnya Soleimani itu telah memicu sejumlah kepanikan. Pemerintah AS telah menginstruksikan warga negaranya yang sedang berada di Irak untuk sesegera mungkin meninggalkan negara tersebut. Jika bisa, menggunakan pesawat. Jika tidak bisa menggunakan pesawat, jalur darat harus ditempuh. Selain itu, pemerintah AS mengirimkan ribuan pasukan tambahan ke Irak.

Dari Tel Aviv juga dilaporkan bahwa para pejabat militer Israel telah dipanggil untuk mengadakan pertemuan darurat. Kecaman keras yang dilontarkan oleh para petinggi Hezbollah Lebanon dan para pejuang Palestina (Hamas dan Jihad Islami di Gaza) kepada AS atas aksi pembunuhan itu telah memicu ketegangan di dalam negeri Israel. Israel khawatir, Iran akan menyerang melalui sekutu-sekutunya di kawasan, yaitu Hezbollah, Hamas, dan Jihad Islami.

Dari Irak, Perdana Menteri Adel Abdul Mahdi juga melontarkan kecamannya. Peristiwa tersebut terjadi di Bandara Baghdad, dan serangan dengan sasaran utama Qassem Soleimani itu juga menewaskan Komandan Milisi Irak Abu Mahdi Al-Muhandis. Menurut Abdul Mahdi, serangan udara di bandara Baghdad itu adalah agresi terhadap Irak dan pelanggaran atas kedaulatan, yang akan mengarah pada perang di Irak, kawasan, dan dunia.

Berbagai laporan juga menyebutkan harga minyak dunia kembali meroket, yang dipicu oleh kekhawatiran akan meletusnya perang baru di Timur Tengah. Pasar-pasar saham global juga dilaporkan mengalami penurunan harga. Para ekonom menyatakan bahwa dunia saat ini di ambang Perang Dunia ke-3.

Dari AS, sejumlah politisi Partai Demokrat juga mengkhawatirkan hal yang sama. Joe Biden menyatakan bahwa pembunuhan Soleimani adalah aksi yang gegabah karena semakin mendekatkan AS dengan perang baru di Timur Tengah, dan bisa merenggut korban jiwa yang tak terhitung serta mengorbankan triliunan dolar. Senator Demokrat Christ Murphy mencuit di akun Twitter-nya. Menurutnya, pembunuhan atas Soleimani telah memulai sebuah perang regional. Tindakan semacam ini akan menyebabkan terbunuhnya lebih banyak lagi warga AS di kawasan Timur Tengah.

Tampaknya, hal seperti ini tidak diprediksi secara akurat oleh para pejabat Gedung Putih dan Pentagon saat merencanakan aksi pembunuhan. Motif dari rencama pembunuhan lebih dipicu oleh kegeraman AS karena banyak rencana mereka dalam mengacak-acak Suriah dan Irak digagalkan oleh Soleimani. Sebagian juga menengarai, aksi itu dilakukan untuk menaikkan popularitas Trump menjelang kontestansi pilpres beberapa bulan yang akan datang.

Faktanya, aksi AS itu telah menciptakan ketegangan baru di Timur Tengah. Sebagian besar analis meyakini bahwa akan terjadi krisis baru di kawasan itu. Sel-sel pendukung Iran yang tersebar di kawasan Timur Tengah (bahkan di seluruh dunia) akan bangun dan mengaktifkan diri. Mereka akan menyasar berbagai kepentingan AS di kawasan itu. Tentu saja, Israel akan menjadi sasaran utamanya.

Bahkan, bukannya tidak mungkin, krisis ini akan merembet ke kawasan lain di dunia. Ini karena kepentingan AS tersebar di banyak tempat di muka bumi ini. Sementara itu, para pendukung Iran juga cukup banyak tersebar di banyak tempat. Dunia akan menyaksikan, bagaimana tindakan AS ini akan dicatat sebagai sebuah kesalahan, alih-alih sebuah kesuksesan militer. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI: