“Tentara Tak Terkalahkan” yang Dipecundangi Sebuah Statemen atau Kebungkaman

0
291

LiputanIslam.com-“Ular yang sudah digigit akan takut terhadap tali hitam dan putih.” Pepatah ini mengungkap takut dan horor yang mencekam hati Tentara Israel di perbatasan Lebanon pada malam lalu.

Laporan dan statistik yang dipublikasikan Tentara Israel berisi kepanikan dan fiksi, yang kemudian terbukti bahwa semua itu tak lebih dari khayalan dan merupakan akibat dari ketakutan berlebihan mereka.

Ada beberapa penafsiran yang bisa disimpulkan dari skenario hari Senin lalu. Semuanya mengarah kepada suatu fakta bahwa Tentara Israel, yang diakui sendiri oleh politisi dan media Rezim Zionis, telah menjadi bahan tertawaan.

Sejak awal, media-media Ibrani dan sebagian media Arab, yang tampaknya lebih Zionis dari orang-orang Zionis, mulai memublikasikan berbagai kabar, padahal baik Lebanon atau Hizbullah tidak mengeluarkan statemen atau kabar apa pun.

Yang menarik atensi adalah cuitan-cuitan Jubir Tentara Israel, Avichay Adraee. Dia bicara soal “penyusupan” sekelompok personel Hizbullah ke dalam wilayah Israel, namun bisa digagalkan oleh Tentara Zionis.

Hal menarik lainnya adalah kengototan media-media Arab dalam meliput berita ini. Al-Arabiya dan al-Hadath adalah dua stasiun televisi yang mengutip berita dari sumber Israel dan mengklaim bahwa “empat pejuang Hizbullah tewas dalam operasi tersebut”. Padahal, tak satu pun media cetak, televisi, atau radio Israel yang memublikasikan berita ini atau yang sejenisnya.

Lebih menarik dari itu, adalah manuver Tentara Israel selanjutnya. Setelah mengumumkan berakhirnya baku tembak khayalannya, Tentara Israel mencabut larangan mobilitas pemukim Yahudi di sekitar perbatasan Lebanon. Padahal, dalam konfrontasi-konfrontasi lalu, pencabutan larangan bepergian ini tidak pernah terjadi. Biasanya, para pemukim Yahudi diperintahkan untuk tetap bertahan di rumah atau bunker hingga beberapa jam usai kontak senjata berakhir.

Yang menggelikan adalah Tentara Israel langsung memintahkan para pemukim Yahudi untuk segera memulai aktifitas mereka. Tentara Israel menegaskan, rezim ini masih menghadapi banyak masalah. Hal ini memperkuat bahwa terjadinya “kontak senjata” di perbatasan Lebanon hanya rekaan semata.

Di antara semua ini, yang paling serius dan bisa dipercaya adalah kebungkaman Hizbullah hingga beberapa jam usai insiden. Padahal Rezim Zionis menanti-nanti dirilisnya statemen dari kelompok perlawanan tersebut. Ini menunjukkan bahwa penduduk dan media Israel, bahkan para politisi, tidak memercayai Pemerintahan Netanyahu. Mereka hanya menantikan fakta dari lidah Hizbullah sendiri.

Pernyataan mantan Menlu Israel, Avigdor Lieberman, adalah bukti atas hal ini. Dia berkata, sektor utara Israel keluar dari kendali akibat gugurnya seorang personel Hizbullah. Selain itu, media-media Zionis juga mengkritik sandiwara menggelikan yang digelar Tentara Israel.

Filsuf Romawi, Lucius Seneca, pernah mengatakan,”Ketakutan terhadap perang lebih buruk dari perang itu sendiri.” Ungkapan ini mendeskripsikan secara akurat kondisi Israel saat ini. Ini menunjukkan level tinggi kesiapan dan keunggulan Hizbullah dalam aspek psikologi dan propaganda. Keunggulan ini sama pentingnya dengan kemenangan di lapangan di hadapan Israel. Ketika sektor utara Israel lumpuh dan tak terkontrol saat menantikan sebuah statemen, bukan rudal, dari Hizbullah, ini sendiri merupakan sebuah kemenangan. (af/alalam)

Baca Juga:

Kembali Kirim Pesan ke Hizbullah Lewat Perantara, Israel: Kami Tak Mau Perang!

Militer Israel Nyatakan Pesawat Nirawaknya Jatuh di Libanon

DISKUSI: