Sepekan Krisis Terusan Suez dan Konspirasi yang Mengincar Mesir

0
2767

LiputanIslam.com –   Krisis kebuntuan Terusan Suez sudah berakhir setelah kapal Ever Given yang kandas di sana berhasil dikambangkan kembali pada Senin 29 Maret 2021. Kebuntuan itu sempat membuat terusan itu ditutup selama sekira satu minggu sehingga pelayaran internasional lumpuh, harga minyak, pengiriman barang, dan asuransi meroket.

Ada beberapa pelajaran yang dapat dipetik dari peristiwa itu, termasuk berkenaan dengan kejemawaan Israel, keraguan terhadap kemampuan Mesir, dan mencuatnya beberapa ide pengadaan jalur altenatif. Namun, sebelum meninjau pelajaran  itu serta apa yang terjadi di dalam dan luar Mesir selama satu pekan krisis itu, patut diketahui beberapa hal sebagai berikut;

Pertama,  upaya mengambangkan kembali Ever Given dan pengoperasian kembali Terusan Suez sukses dilakukan oleh para ahli dan tenaga Arab Mesir sendiri. Otoritas Kanal Suez tidak sampai meminta bantuan kepada AS atau Barat secara umum kecuali pada skala yang sangat kecil dan terbatas.

Kedua, krisis kadasnya Ever Given hanya berlangsung enam hari dan jauh berbeda dengan semua perkiraan Barat sebelumnya yang mematok waktu beberapa minggu sehingga teori konspirasi membersit di pikiran sebagian orang, dan muncul pula pembicaraan mengenai aksi terorisme.

Ketiga, sepanjang sejarah Terusan Suez boleh dikata tak pernah ada kejadian sedemikian fatal. Terusan itu hanya pernah ditutup pada masa perang, terutama pasca kekalahan perang Arab melawan Israel pada Juni 1967.

Keempat, Saluran Suez yang mendatangkan pendapat sebesar $ 15 juta per hari atau $ 6 miliar per tahun ke kas negara Mesir bukanlah milik pemerintah dan presiden, melainkan milik semua anak bangsa Mesir, serta merupakan salah satu sumber pendapatan devisa Negeri Piramida ini.

* * *

Satu pekan itu makin menyakitkan Mesir ketika di negara ini juga terjadi serangkaian bencana lain berupa tabrakan kereta di Sohaq, runtuhnya bangunan 12 tingkat yang menimpa penghuninya di Jl. Suez Bridge, dan kebakaran di stasiun kereta api di kota Zagazig.

Menurut banyak pemerhati, problema utama yang menimbulkan berbagai masalah dan kesulitan di Mesir adalah human error akibat korupsi, kesalahan manajemen, dan tidak adanya akuntabilitas serius para pejabat tingkat atas maupun bawah. Karena itu, keputusan Jaksa Agung menahan orang-orang yang dinilai bertanggujawab atas tabrakan kereta merupakan langkah yang tepat, karena tindakan tegas memang harus diprioritaskan.

Aneka bencana serupa yang mungkin tak kalah fatalnya juga terjadi di berbagai negara dunia, termasuk Eropa, AS, Rusia, China, dan Jepang, tapi yang paling disayangkan di Mesir adalah keberulanganya, terutama insiden tabrakan kereta api sehingga menuntut penanganan yang lebih ketat dan tegas.

Di sisi lain, Mesir yang sangat berpengaruh di Timteng menjadi incaran berbagai kekuatan regional dan global, termasuk stabilitas Terus Suez-nya, kekayaan gasnya di bagian timur Laut Mediteranian,  keamanan dan stabilitasnya di wilayah barat perbatasannya dengan Libya, dan yang paling krusial adalah upaya Rezim Zionis Israel menekan Mesir habis-habisan dari berbagai arah, terutama selatan dengan cara mendukung proyek Bendungan Hidase (Renaissance Dam) Ethiopia di mana Israel bahkan tak segan-segan memberikan dukungan militer dan menghasut pemerintah Ethiopia agar menyudahi jatah air Sungai Nil untuk Mesir.

Konspirasi yang melibatkan Israel di Timur Tengah telah menghancurkan sebagian besar pusat kekuatan di kawasan ini, mulai dari Irak kemudian Suriah dan berlanjut di Yaman dan Libya. Aljazair juga nyaris tertelan konspirasi, tapi mujur selamat berkat kesigapan dan kewaspadaan rakyat dan para pemimpinnya, sementara Mesir dengan pasukannya yang solid masih bertahan melawan badai.

Hal yang tentu menyakitkan Mesir ialah sikap negara-negara sahabatnya sendiri terutama di Semenjung Arab dan Teluk Persia. Negara-negara itu telah melangkahi semua rambu dalam normalisi hubungan dengan Israel sehingga bahkan terlibat dalam proyek terusan alternatif semisal terusan Eilat Ashdod yang menghubungkan Teluk Aqaba dengan Laut Mediterania serta gagasan pengadaan jalur rel kereta api yang menghubungkan Uni Emirat Arab dengan Pelabuhan Haifa di Israel.

Pemerintah Mesir tentu menyorot dengan seksama semua proyek konspirasi itu dan siap menghadapi segala kemungkinan, meski semua elemen kekuatan dalam negerinya masih memerlukan sinergi yang lebih kuat dan reformasi politik secara fundamental. (mm/raialyoum)

Baca juga:

Bantah Isu “Kutukan Fir’aun”, Menteri Mesir Nyatakan Fir’aun Meninggalkan Berkah Besar

DISKUSI: