Sejauh Mana Berita-berita Versi AS Bisa Dipercaya?

0
527

LiputanIslam.com-Situs Russia Today (RT) dalam laporannya menulis, para pejabat Washington kerap mengaku bahwa mereka menyampaikan kebenaran terkait berbagai peristiwa. Namun setelah beberapa lama terbukti bahwa mereka berbohong.

Menurut RT, hanya dalam tempo satu hari, dua jubir Pemerintah AS menuding para jurnalis memihak Rusia dan ISIS, saat menjawab pertanyaan mereka tentang transparansi dan pengajuan bukti dua peristiwa penting. Upaya sejumlah media AS untuk mengungkap kebenaran, alih-alih menerima begitu saja versi Pemerintah AS, justru dipandang sebagai bentuk pengkhiatan kepada negara dan keberpihakan kepada musuh.

Kasus pertama terjadi saat Jubir Gedung Putih Jennifer Psaki mengadakan konferensi pers usai terbetiknya kabar kematian Pemimpin ISIS di Idlib. Sebelum itu, Presiden Joe Biden mengumumkan bahwa Abu Ibrahim al-Qurashi meledakkan semua tingkat tiga bangunan di saat ada wanita dan anak-anak berada di bangunan tempat ia bersembunyi.

Jurnalis dari Radio NPR, Ayesha Rascoe bertanya kepada Psaki,”Saya tahu bahwa AS dalam statemennya mengumumkan bahwa Pemimpin ISIS meledakkan diri. Namun apakah AS akan menyiapkan bukti-bukti? Sebab banyak orang yang meragukan peristiwa yang terjadi dan musibah yang menimpa warga sipil.”

Psaki dengan nada gusar menjawab,”Kalian meragukan penilaian Tentara AS saat mereka pergi membunuh Pemimpin ISIS? Bahwa mereka tidak memberikan informasi akurat? Jadi apakah ISIS yang memberikan informasi akurat?”

RT menulis, menarik bahwa Rascoe tidak berkata bahwa ISIS memiliki versi berbeda dari versi AS soal kematian al-Qurashi. Dia hanya berkata bahwa versi yang diriwayatkan AS mencurigakan. Sebelum ini, AS juga telah menciptakan berbagai versi menyesatkan di Suriah. Contohnya adalah Washington menyebut White Helmets sebagai “aktivis kemanusiaan.”

RT menambahkan, harian New York Times pada akhir-akhir tahun lalu mengungkapkan, jet F-15 AS dalam serangan udara di bulan Maret 2019 di Suriah telah menjatuhkan bom seberat 200 kg di atas massa yang tengah berkumpul di dekat sungai. Tak lama setelahnya, sebuah pesawat AS lain menjatuhkan dua bom seberat satu ton di tempat tersebut, untuk memastikan bahwa semua orang telah mati.

Setelah tersiarnya berita New York Times, CENTCOM mengakui bahwa mungkin mereka telah membunuh 80 orang, termasuk warga sipil. Tapi “bisa jadi para wanita dan anak-anak ini adalah petempur.”

Di hari yang sama ketika Psaki menuding jurnalis AS memihak ISIS, Jubir Kemenlu AS Ned Price mengadakan jumpa pers soal upaya Rusia untuk “menciptakan dalih guna menyerang Ukraina.” Price berkata, Moskow berniat membuat film palsu soal serangan Ukraina ke kawasan otonom Dunbass dan akan menjadikannya sebagai motif untuk menginvasi Ukraina.

Jurnalis Associated Press, Matt Lee menunjukkan keraguan terhadap klaim Price ini. Dia bertanya, apakah ada bukti-bukti yang menegaskan hal itu? Price pun menjawab,”Jika Anda meragukan kredibilitas Pemerintah AS, Inggris, dan selainnya, kemudian ingin menghibur diri dengan informasi yang dipublikasikan Rusia, itu adalah urusan Anda sendiri.”

Menurut RT, jurnalis senior AS ini langsung dituduh sebagai pengkhianat hanya karena ia berani menyangsikan versi yang dikemukakan Pemerintah AS.

“’Ancaman dalam waktu dekat senjata pemusnah massal’ telah dijadikan sebagai justifikasi untuk menginvasi Irak. Yang menyulut Perang Vietnam juga klaim AS soal ‘ancaman dalam waktu dekat’ terkait insiden di Teluk Tonkin. Perang ini menuju akhir dengan dievakuasinya staf Kedubes AS di Saigon dengan helikopter, namun dideskripsikan sebagai ‘sebuah kemenangan’ kepada rakyat AS.”

“Setelah itu, muncul ‘ancaman dalam waktu dekat’ Taliban dan serangan ke Afghanistan, yang berujung pada hengkangnya Tentara AS secara mendadak dari negara itu dan berkuasanya Taliban di Afghanistan. Sebelum ini, senjata Iran juga dinyatakan sebagai ‘ancaman dalam waktu dekat,’”tulis RT.

“Ketakutan dan kepanikan selalu memberi peluang kepada Pemerintah AS untuk meraih dukungan rakyat, baik itu ketakutan terhadap komunisme, terorisme, atau bahkan virus. Ketakutan dan kepanikan ini juga membebaskan mereka untuk melakukan tindakan-tindakan yang dinilai mencurigakan oleh orang biasa, yang kepentingannya selalu dikorbankan demi kepentingan minoritas. Padahal keteguhan untuk mewujudkan kepentingan terbaik bagi masyarakat AS bukanlah tindakan musuh, namun justru merupakan definisi akurat untuk patriotisme,”pungkas RT. (af/fars)

Baca Juga:

Penulis AS Richard Falk: Andai Tak Ada Resistensi Iran, Timteng Sudah Jatuh ke Tangan AS

Irak: Hubungan Kami dengan AS Bukan untuk Melawan Iran

DISKUSI: