Pengadilan Kasus Rafik al-Hariri Dipolitisasi, Namun Gagal Sudutkan Hizbullah

0
164

LiputanIslam.com-Setelah berlalunya 15 tahun dari peristiwa teror PM Lebanon Rafik al-Hariri, Pengadilan Internasional kemarin akhirnya menjatuhkan vonis pada seorang terdakwa.

Pasca tewasnya al-Hariri pada 2005 lalu, ada 4 asumsi yang mengemuka:

Pertama, keterlibatan 4 perwira Lebanon yang ditahan di TKP, meski kemudian mereka dinyatakan ‘bersih.’

Kedua, asumsi keterlibatan Pemerintah Suriah. Putra Rafik, Saad al-Hariri, juga mendukung asumsi ini. Namun belakangan dia meminta maaf karena terburu-buru menuduh.

Ketiga, tudingan serius dari para penentang terhadap Hizbullah. Namun pengadilan kemarin membuktikan hal sebaliknya dan membongkar kebohongan para pembuat propaganda.

Keempat, yang merupakan asumsi serius, keterlibatan Israel dalam teror al-Hariri. Meski asumsi ini tidak pernah dimasukkan dalam agenda investigasi.

Asumsi keterlibatan Israel didasari foto-foto drone Rezim Zionis di angkasa Lebanon di hari terjadinya teror. Juga kesaksian para dokter Prancis, yang menemukan uranium yang dikayakan di tubuh satu-satunya korban selamat yang dirawat di Prancis. Namun informasi ini tidak mendapat perhatian.

Ini berarti bahwa kasus teror al-Hariri tidak diselidiki secara menyeluruh akibat intervensi AS dan Israel. Alih-alih mengajukan fakta, pengadilan kemarin telah diselewengkan untuk proyek politisasi internasional.

Dalam 15 tahun lalu, terutama 2 pekan terakhir, media-media Barat, Zionis, dan Arab (yang berafiliasi kepada Saudi) berupaya mengesankan Hizbullah sebagai pihak yang bersalah.

Tujuan dari propaganda ini adalah menjauhkan Hizbullah dari bangsa Lebanon, juga melucuti senjata Hizbullah. Namun tujuan ini gagal diwujudkan dalam pengadilan Selasa kemarin.

Ketika Pengadilan hanya menyatakan satu dari 4 tertuduh (yang disebut-sebut sebagai anggota Hizbullah) sebagai kaki tangan dalam aksi teror, ini adalah bukti jelas bahwa Pengadilan, juga penentang Hizbullah, tidak punya apa-apa untuk menyudutkan Kelompok Perlawanan ini.

Diumumkannya Salim Ayyash sebagai terdakwa, tak lain hanya agar pengadilan yang telah menghabiskan biaya 700 juta dolar ini tidak terkesan sia-sia.

Yang menarik adalah, Pengadilan menyatakan bahwa hubungan baik pimpinan Hizbullah dengan al-Hariri menepis asumsi keterlibatan Hizbullah secara keorganisasian dalam teror tersebut. Di lain pihak, pengacara pembela menegaskan bahwa bukti yang disodorkan untuk menuduh Salim Ayyash tidak memadai. Ini adalah bukti lain bahwa vonis kemarin telah dipolitisasi.

Mungkin dalam waktu dekat, sebagaimana Saad al-Hariri telah meminta maaf kepada Suriah, ia pun akan meminta maaf kepada Hizbullah, terutama kepada tertuduh in absentia kemarin, yaitu Salim Ayyash. Syaratnya, ia harus berani mengajukan investigasi terkait asumsi keterlibatan Israel dan mencantumkannya dalam agenda penyelidikan. (af/alalam)

Baca Juga:

Pengadilan Internasional Salahkan Seorang Anggota Hizbullah dalam Pembunuhan Rafik Hariri

Presiden Libanon Sebut “Tak Mungkin” Senjata Hizbullah Penyebab Ledakan Pelabuhan Beirut

DISKUSI: