Membaca Perkembangan Yaman Pasca Serangan Ansarullah ke Abu Dhabi

0
1212

LiputanIslam.com –   Gerakan Ansarullah di Yaman akhirnya melancarkan serangan rudal dan drone ke Uni Emirat Arab (UEA) setelah sekian lama menahan diri.  Lantas apa yang mendorong Ansarullah bertindak demikian, dan bagaimana reaksi pemerintah UEA dalam jangka panjang? Apakah UEA akan eksis lagi secara kongkret dalam perang Yaman setelah tiga tahun nyaris absen setelah menarik pasukannya pada tahun 2019?

Ansarullah semula keberatan menyerang UEA sebagaimana serangannya ke Arab Saudi, karena beberapa faktor sebagai berikut;

Pertama, keengganan membuka dua front melawan Saudi dan UEA secara bersamaan, ketika Ansarullah juga berperang melawan kubu Partai Reformasi dan Dewan Transisi Yaman Selatan.

Kedua, ada kesepakatan tak tertulis Ansarullah dengan UEA di mana Ansarullah seakan mengatakan kepada UEA. “Kami biarkan selatan Yaman untuk kalian, maka biarkan utara untuk kami, dan jangan mencampuri urusannya, baik politik maupun militer.”

Ketiga, keinginan Iran sebagai sekutu Ansarullah untuk sedapat mungkin menjaga hubungan dengan UEA, terutama Dubai, yang menjadi gerbang utama untuk memecah blokade AS terhadap Iran sejak era Saddam Hossein. Volume perdagangan antara Iran dan UEA diperkirakan mencapai lebih dari US$ 14 miliar per tahun.

Keempat, keputusan mendadak UEA menarik pasukannya secara bertahap dari Yaman pada tahun 2019 setelah menderita banyak kerugian jiwa sekira 150 tentara serta korban luka ratusan tentara, termasuk putra mantan menlu UEA Hamdan bin Zayed, gubernur kawasan utara, dan suami putri Mohammad bin Zayed, Putra Mahkota Abu Dhabi, dengan kondisi luka yang parah.

Eksisnya lagi UEA dalam perang Yaman, terutama dalam pertempuran di Shabwah, Ma’rib dan Baida, atau keterlibatannya dalam perang proksi melawan Ansarullah melalui kelompok Giants Brigades yang dipimpin oleh Jenderal Tareq Affash, putra mendiang mantan presiden Ali Abdullah Saleh, dan berbagai kelompok lain dari Yaman selatan.

Setelah beberapa hari berkonsultasi dengan Teheran, Hizbullah dan para pemuka kabilah Yaman yang pro-Ansarullah, Ansarullah melancarkan serangan ke UEA, namun dengan skala relatif terbatas dan terukur jika dibanding demham serangannya ke Saudi. Serangan ini menjadi satu pesan peringatan kepada UEA; “Jika kamu kembali pasang badan maka kamipun akan pasang badan”, seperti dikatakan oleh sumber-sumber Ansarullah.

Kurang dari 24 jam, UEA bereaksi dengan melancarkan serangan udara yang antara lain menyasar rumah Abdullah Qasim Al-Junaid, jenderal purnawirawan Yaman, hingga menewaskan sekira 23 warga sipil, karena rumah di kota Sanaa itu dihuni oleh sekira tiga keluarga, serta melukai puluhan orang lainnya.

Ada dua opsi bagi UEA pasca serangan Ansarullah ke Abu Dhabi serta serangan balasan UEA ke Sanaa;

Pertama, kembali kepada kesepakatan “gencatan senjata” tak tertulis dengan Ansarullah tahun 2019, yakni menginstruksikan kepada kelompok-kelompok pasukan yang disponsori UEA untuk segera mundur dari front Shabwah, Ma’rib dan Baida serta kembali pangkalan-pangkalan mereka semula di pesisir barat provinsi Hudaydah dekat Bab Al-Mandab, sebagai langkah awal.

Kedua, bersikukuh untuk tetap maju dalam perang proksi dan kembali memotori perang di Yaman dengan segala resikonya demi memperkuat posisi sekutunya, Saudi, yang keteteran, sebagai implementasi kesefahaman yang telah dicapai dalam kunjungan Putra Mahkota Saudi Mohamed bin Salman ke Abu Dhabi menjelang Konferensi Tingkat Tinggi Dewan Kerjasama Teluk (GCC) pada pertengahan Desember 2021.

Tak jelas opsi mana yang akan dipilih oleh para pemimpin UEA. Yang pasti, jika UEA memilih opsi kedua maka Ansarullah tampak sanggup meningkatkan serangannya ke UEA dengan sasaran-sasaran vital, terutama fasilitas Perusahaan Minyak Nasional UEA (ADNOC).

Serangan rudal dan drone Ansarullah ke UEA, meski sudah terduga sebelum, tetap tercatat sebagai perkembangan krusial yang mengubah percaturan perang dan membawanya ke babak baru yang sulit diprediksi kelanjutannya. Yang jelas, jika Israel saja, yang jaraknya sekira 1600 kilometer dari Yaman, mulai khawatir terhadap kemungkinan mendapat serangan rudal dan drone dari Yaman di masa mendatang maka apalagi negara-negara anggota koalisi yang terlibat dalam perang Yaman, terlebih UEA.

Serangan Ansarullah sedemikian masif untuk pertama kalinya terhadap UEA bisa jadi akan mempercepat penyelesaian perang Yaman, tapi jika tidak demikian maka akan berpotensi meluas dan melibatkan para pemain regional lain, terutama komponen Poros Resistensi sebagaimana pernah terjadi di Suriah. (mm/raialyoum)

Baca juga:

Yaman Serang Abu Dhabi, Tel Aviv Takut Israel Bernasib Serupa

Perang Yaman Makin Membara, Utusan Khusus AS akan Datangi Teluk Persia

DISKUSI: