Ketangguhan Bangsa Yaman di Tengah Mirisnya Data Terbaru Tragedi Perang

0
221

LiputanIslam.com –  Program Pembangunan PBB (UNDP) Selasa (23/11) merilis laporan mengenaskan tentang kondisi Yaman selama tujuh tahun dilanda perang sejak Arab Saudi dan sekutunya melancarkan invasi militer ke negara ini pada Maret 2014.

Laporan itu menyatakan, “Sampai akhir tahun 2021 kita mendapati konflik di Yaman menyebabkan kematian 377,000 orang, yang hampir 60% di antaranya (226,000 orang) mati secara tidak langsung, sedangkan 40% sisanya (150,000 orang) mati secara langsung, yakni terbunuh akibat perang.”

Kematian secara langsung yang sebagian besarnya adalah anak kecil adalah akibat kelaparan, malnutrisi dan minimnya layanan kesehatan, sedangkan kematian langsung adalah akibat kecamuk perang berupa pemboman kota, daerah permukiman, gedung sekolah dan rumah sakit, resepsi pernikahan dan majelis dukacita.

Angka-angkat itu tentu saja sangat mengerikan. Parahnya, dunia tak peduli dengan tragedi itu, apalagi banyak negara Arab berpihak kepada kubu yang menginvasi Yaman demi mendapatkan tunjangan keuangan, ataupun karena khawatir mendapat tekanan dari kubu yang bergelimang kekayaan dan bersekutu dengan AS dan Barat itu. Suriah adalah negara yang terkucil dari Liga Arab, terlantar, terblokade dan terdera secara dramatis  akibat persekongkolan kubu itu dan AS yang menelan dana lebih dari 300 miliar USD. Apa yang dialami Suriah serupa dengan apa yang mendera Yaman.

Bangsa Yaman dengan semua tradisi adiluhung dan kearifan lokalnya adalah bangsa yang berjiwa besar dan penyabar. Tapi pada akhirnya mereka bangkit menghantam pihak yang menyerang mereka dan menistakan martabat negara mereka. Sejarah penjajahan, baik yang dilakukan oleh kaum Nasrani dari Barat maupun imperium Usmani dari utara terhadap Yaman, menjadi saksi hakikat bangsa Yaman. Puluhan ribu pasukan asing yang menyerbu Yaman kala itu tewas dalam perlawanan bangsa Yaman.

Karena itu, tak aneh jika pemimpin Al-Qaeda mendiang Osama Bin Laden segera menyebut nama Yaman ketika ditanya di negara mana dia akan berlindung jika diasingkan dari Afghanistan.  “Gunung-gunung Yaman dan bangsanya terlampau tangguh untuk melindungiku,” katanya.

Perang Yaman sudah tujuh tahun berkobar. Perang ini berkelanjutan sedemikian lama karena apa yang disebut koalisi Arab faktanya sudah berantakan, dan sejauh ini hanya tinggal Saudi dan kubu presiden pelarian Yaman Abd Rabbuh Mansour Hadi dengan kondisi mereka yang semakin sulit diharap dapat mengalahkan gerakan Ansarullah yang mereka perangi, padahal semula Saudi bersumbar akan dapat menumpas Ansarullah dalam hitungan bulan atau bahkan minggu.

Ansarullah sampai sekarang tetap tegar berjuang dan bahkan berhasil menjungkir balik perimbangan kekuatan militer darat berkat kepemilikan mereka atas berbagai jenis senjata dan rudal canggih serta kesolidan barisan mereka.

Kelompok pejuang yang dipimpin oleh pemimpin muda kharismatik Sayid Abdul Malik Badruddin al-Houthi ini sekarang menguasai kawasan pantai barat Yaman sehingga jalur pelayaran internasional di Laut Merah terjangkau oleh roket ataupun perahu serang mereka, hal yang menjadi ancaman besar bagi kapal-kapal Israel yang berlayar menuju Terus Suez atau Teluk Aqaba maupun menuju Selat Bab Al-Mandab  dan Laut Arab. Tak hanya Israel, berbagai pihak lain juga ikut mencemaskan hal ini.

Perang terbesar di Yaman kini berfokus pada kota Ma’rib, yang kalaupun nanti jatuh ke tangan Ansarullah perang masih akan berkelanjutan karena para pejuang Yaman akan membentangkan kekuasaan mereka hingga ke semua semua provinsi utara Yaman, membalas darah para korban tewas dan luka, merebut tanah-tanah Yaman “yang dirampas” di utara, mendapatkan ganti rugi penuh, dan pada akhirnya mengambalikan status Yaman sebagai negara besar, menurut seorang petinggi pemerintah Yaman kubu Sanaa, yang meminta namanya dirahasiakan. (mm/raialyoum)

Baca juga:

[Video:] Demo Akbar Banjiri Kota-Kota Yaman, Bendera AS dan Israel Jadi Sasaran Amuk Massa

Pejabat Yaman Pastikan Serangan Masif Terbaru ke Saudi Mengena Sasaran

DISKUSI: