Kembalinya Negeri Hijaz ke Era Jahiliah di Tangan Mohamed Bin Salman

0
1198

LiputanIslam.com –   Tanah Haramain, tempat dua tanah suci Mekkah Al-Mukarromah dan Madinah Al-Munawwaroh berada, sedang meniti waktu menuju negara sekuler, di mana festival seni diadakan dengan segala pesta pora serta menampilkan para aktris dan penyanyi yang berpakaian minim.

Negeri yang dulu bernama Hijaz di Semenanjung Arab itu seakan telah kembali ke era jahiliyah pra-Islam,  seakan kitab suci Al-Quran tak pernah diturunkan di sana, dan seolah tak pernah ada Nabi Muhammad saw yang diutus sebagai penghulu para nabi di antara penduduknya. Setelah dibimbing dari kegelapan menuju cahaya, Arab kini makin kembali ke kegelapan.

Sungguh miris melihat apa yang terjadi hari ini di negeri ini dengan dalih “hiburan”.  Putra Mahkota Saudi Mohammed Bin Salman telah menetapkan apa yang disebut “otoritas hiburan” dan mempercayakan kepemimpinannya kepada Turki Al-Sheikh. Sang pangeran itu telah memberikan persetujuan resmi untuk korupsi, amoralitas dan dosa di negeri ini, tanpa mempedulikan status spiritual negeri ini di hati dua miliar umat Muslim dunia yang senantiasa memimpikan dapat menunaikan ibadah haji dan umrah di sana.

Sungguh ironi yang menyakitkan bahwa Bin Salman dan Al-Sheikh adalah keturunan dari pendiri negara Saudi pertama pada pertengahan abad ke-19, Pangeran Muhammad Bin Saud, dan Sheikh Muhammad Bin Abdul Wahhab, pendiri gerakan  dan faham Wahhabi yang disebarkan oleh Saudi ke seluruh penjuru dunia dengan memanfaatkan kekayaannya yang melimpah.

Para syekh Wahhabi menganggap mereka yang tidak menganut aliran pemikiran mereka sebagai kafir. Mereka membentuk apa yang mereka sebut Komite Amar Ma’ruf Nahi Munkar, yang berlanjut sebagai otoritas yang kuat di negara ini sampai Bin Salman menjadi putra mahkota dan penguasa de facto.

Bin Salman telah melemahkan komite ini dan menggusurnya dengan “otoritas hiburan” demi mencitrakan dirinya sebagai orang yang “beradab” di mata Barat. Dia menggeser budaya negaranya dengan apa yang dianggap budaya di Barat dengan harapan dia akan mulus dalam mewarisi tahta ayahnya. Pangeran ini ingin lebih dekat dengan pialang kekuatan Barat agar Baratpun memberinya kunci kerajaan.

Memilih Turki Al-Sheikh untuk mengepalai otoritas hiburan bukanlah keputusan acak; dia dipilih dengan hati-hati dan licik. Bin Salman memilihnya justru karena dia adalah keturunan langsung dari Bin Abdul Wahhab, yang berjanji setia kepada Muhammad Bin Saud, sementara Bin Saud sendiri berjanji untuk menyebarkan Wahhabisme.  Kedua orang ini bekerjasama dalam apa yang mereka sebut reformasi agama, yang menghasilkan stabilitas kerajaan dan pembentukan negara Saudi pertama yang berakhir pada tahun 1818 akibat kampanye Ottoman yang diluncurkan di Semenanjung Arab.

Namun, kurang dari lima tahun kemudian, Pangeran Turki Bin Abdullah berhasil merebut kembali kawasan tersebut kemudian mendirikan negara Saudi kedua, dengan Riyadh sebagai ibu kotanya, sembari terus mengikuti pendekatan yang sama dengan pendahulunya dan didasarkan pada pilar yang sama hingga runtuh pada tahun 1891.

Kemudian Raja Abdulaziz Bin Abdul Rahman Bin Saud menulis halaman baru dalam sejarah Saudi ketika dia merebut kembali Riyadh pada tahun 1902. Ini adalah momen yang menentukan karena menyatukan sebagian besar wilayah Semenanjung Arab melalui keterampilan kepemimpinan Raja Abdulaziz dan pemeliharaan sumber daya alamnya di tahun-tahun berikutnya ketika ia mendirikan negara Saudi ketiga, yang kemudian dikenal sebagai Kerajaan Arab Saudi, pada tahun 1932.

Tak berbeda dengan negara-negara Saudi sebelumnya, negara Saudi jilid ketiga juga menjadikan Wahhabi sebagai pedoman dalam menafsirkan teks keislaman. Bertolak dari faham ini, Kerajaan Arab Saudi mengaku menjadikan Al-Qur’an Al-Karim sebagai konstitusinya, merumuskan hukum dari Kitab dan Sunnah, menampilkan bendera bertuliskan lafal suci  “Tidak ada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan-Nya” dan bergambarkan dua pedang yang disimbolkan sebagai kekuatan Islam.

Demikianlah Kerajaan Arab Saudi, yang dibangun melalui penumpahan darah ribuan orang tak berdosa. Dan sekarang, Mohammad Bin Salman, salah satu cucu dari pendirinya, Raja Abdulaziz, sedang bergerak menampilkan wajah baru yang sekuler untuk Saudi, yang meski menyalahi klaim dan tradisi keislaman Wahhabi sendiri, namun bukan karena terdorong oleh kritisisme terhadap faham ini, melainkan semata demi memuaskan Barat.(mm/disadur dari artikel di situs Middle East Monitor)

Baca juga:

Pelesiran ke Tel Aviv, Wanita Saudi ini Ikut Promosikan Normalisasi Hubungan dengan Israel

Biden Janjikan Raja Salman Dukungan AS dalam Melawan Serangan Ansarullah Yaman

DISKUSI: