Kehancuran Zionisme dari Kacamata Orang-orang Zionis

0
950

LiputanIslam.com– Hingga kini ada banyak petinggi politik, keamanan, militer, tokoh akademisi dan media Zionis yang bicara soal kemungkinan runtuhnya Israel. Sebagian besar dari mereka berpendapat, faktor utama kekhawatiran mereka adalah “lembaga-lembaga yang Rezim Zionis dibangun di atas fondasi-fondasinya.” “Krisis identitas” adalah kekhawatiran bersama kebanyakan dari mereka.

Artikel yang ditulis analis Yahudi di harian Haaretz, Ari Shavit, adalah salah satu analisis berkaitan dengan kekhawatiran ini. Dalam tulisan berjudul “Israel Menghela Nafas-nafas Terakhir” itu, Shavit menulis,”Sudah tidak ada lagi tempat untuk hidup di negara (Israel). Kita harus pergi ke San Fransisco atau Berlin. Mungkin saja kita telah melewati titik tanpa kepulangan dan sudah tidak ada lagi peluang untuk mengakhiri pendudukan, menghentikan pembangunan pemukiman, meraih perdamaian, memperbaiki Zionisme, menyelamatkan demokrasi, dan membagi-bagi negara.”

“Jika status sebagai Yahudi dan warga Israel tidak lagi merupakan dua rukun jati diri, maka kita harus berpamitan dengan teman-teman dan pergi ke San Fransisco atau Berlin.”

“Sejak datang ke Palestina, orang-orang Israel menyadari bahwa mereka adalah produk dari dusta-dusta yang diciptakan gerakan Zionisme. Zionisme telah menggunakan berbagai muslihat dan tipuan Yahudi demi kebohongan ini sepanjang sejarah. Di antaranya adalah peristiwa Holocaust serta penyalahgunaan dan pembesar-besarannnya. Mereka (orang-orang Israel) tahu bahwa sudah tidak ada lagi masa depan bagi mereka di Palestina. Ternyata negara ini (Palestina) bukanlah Tanah Yang Dijanjikan yang tidak punya penghuni,”lanjut Shavit.

Menurutnya, gerakan Zionisme telah mampu meyakinkan dunia bahwa Palestina adalah “Tanah Yang Dijanjikan” dan bahwa “Kuil Sulaiman” berada di bawah Masjid Aqsa. Seperti inilah Zionisme berubah dari serigala menjadi domba yang mendapat pasokan makanan dari para pemberi pajak AS dan Eropa, sehingga akhirnya menjadi salah satu pemilik senjata nuklir.

Pakar konflik Arab-Israel, Shaul Arieli, dalam artikelnya di Haaretz juga menulis, Rezim Zionis telah menjadikan sejumlah strategi sebagai fondasi, yang justru menggagalkan proyek realisasi norma Zionisme di Tanah Pendudukan.

“Gerakan Zionisme menggunakan tiga strategi utama untuk membentuk negara Yahudi di tanah Palestina. Namun ketiga-tiganya saat ini gagal mengatasi konflik dan terwujudnya tujuan Gerakan Zionisme, yaitu ‘negara Israel, demokrasi, dan negeri dengan mayoritas Yahudi.’ Akibatnya, muncul sebuah program politik ketiga bernama ‘Solusi Dua Negara,’”tulis Arieli.

Ia berpendapat, penolakan rakyat Palestina terhadap inisiatif Donald Trump menunjukkan bahwa mereka menentang “perdamaian ekonomi” atau “pengurangan eskalasi”. Terlepas dari kondisi ini, Israel tidak memiliki kesempatan, baik dengan cara sukarela atau pemaksaan.

Ditujukan kepada PM Israel Naftali Bennett, Arieli berkata,”Kepada Perdana Menteri dan mereka yang percaya bahwa waktu, baik jangka menengah atau penjang, berpihak kepada kita, saya katakan bahwa kita tidak punya peluang sama sekali.”

“Saat ini (di Israel), mereka yang menghendaki pemerintahan tunggal mengabaikan fakta bahwa formasi populasi di tahun 2022, dengan bertambahnya pengungsi Palestina yang berharap pulang ke negara mereka, berarti bahwa harapan orang-orang Palestina untuk membentuk pemerintahan demokratis atau Islam dengan mayoritas Arab akan terwujud. Meski kondisi kian rumit dibandingkan tahun 1948, kita menyaksikan digulirkannya wacana federalisme ekonomi atau konfederalisme dalam berbagai cara, yang merupakan ancaman bagi norma Zionisme,”tandas Arieli.

Perang 11 Hari Gaza dan pemberontakan warga Palestina di Tanah Pendudukan 1948 juga telah membuat para petinggi Zionis ketakutan. Benyamin Netanyahu dan banyak pejabat Israel lain secara terbuka menyatakan, pemberontakan-pemberontakan ini lebih berbahaya daripada rudal-rudal Hamas dan bisa menyebabkan runtuhnya Rezim Zionis. (af/fars)

Baca Juga:

Lebanon Gulung 17 Jaringan Mata-Mata Israel

Jenderal Terkemuka Israel Akui Kehebatan Iran di Bidang Drone Militer

DISKUSI: