Gencatan Senjata Yaman, Awal Proses Berakhirnya Perang?

0
6

LiputanIslam.com –  Gencatan senjata yang dicapai dalam perang Yaman di bawah pengawasan utusan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Hans Grundberg sudah berjalan dan bertahan sekian hari serta mengundang rasa senang baik di pihak Yaman dan maupun pihak Saudi.

Masuknya dua di 18 kapal tanker minyak yang ditahan ke pelabuhan Hudaydah membawa bahan bakar dan produk minyak untuk pertama kalinya sejak tiga bulan lalu bisa jadi merupakan satu pertanda kuat mengenai keberhasilan gencatan senjata tersebut sejauh ini.

Gencatan senjata itu dicapai setelah terjadi eskalasi militer mencolok di mana kedua pihak Saudi dan Yaman kubu Sanaa saling gempur ketika perang memasuki tahun ke-8 serta terjadi pertemuan-pertemuan langsung di Muscat, ibu kota Oman, antara Saudi dan Yaman.

Menariknya, Pangeran Khalid, Wakil Menhan Saudi, yang juga saudara Putra Mahkota Mohamed bin Salman, adalah orang yang memimpin delegasi Saudi dalam pertemuan langsung dengan delegasi Ansarullah (Houth), dan kemudian diumumkan gencatan senjata oleh Utusan PBB sebagai penyedia payung hukum internasional untuknya.

Terobosan kesepakatan senjata untuk jangka waktu dua bulan itu terdorong oleh sejumlah faktor utama sebagai berikut;

Pertama, kedua pihak, terutama Arab Saudi, tampak sudah menemukan titik jenuh dalam menjalani perang. Saudi sudah berkesimpulan bahwa tak mungkin pihaknya dapat memenangi perang, sementara melanjutkannya juga sangat memberatkan, baik dari segi materi maupun jiwa, sehingga harus ada jalan keluar.

Kedua, serangan beruntun Ansarullah dengan menggunakan rudal balistik, rudal jelajah, drone dan perahu-perahu kamikaze dengan sasaran perusahaan minyak Saudi Aramco di Jeddah, Riyadh, Yanbu, Jizan dan Najran telah mengena semua sasaran dengan akurat. Selain itu, terjadi pula perkembangan baru dimana stasiun-stasiun desalinasi Saudi juga menjadi target serangan Yaman.

Ketiga, terjadi ketegangan dalam hubungan Saudi-Amerika Serikat (AS) terkait dengan perang di Ukraina. Saudi enggan memberi respon positif untuk penurunan harga minyak. Kondisi ini menguntungkan Yaman kubu Sanaa, sementara AS dan Rusia yang berurusan dengan perang di Ukraina juga sama-sama mengharapkan simpati dari Saudi dengan semua konsekuensinya.

Keempat, perundingan nuklir Iran dengan sejumlah negara besar dunia, termasuk AS secara tidak langsung, kerap dikabarkan sudah mendekati final. Dan terjadi pula kondisi polarisasi internasional serta muncul aliansi baru Arab ala NATO anti-Iran di bawah pimpinan Israel. Saudi tampak menahan diri dari keterlibatan langsung dalam aliansi ini, dan karena itu bisa jadi Riyadh akan terkucil, mengingat bahwa semua anggota aliansi itu adalah negara-negara Arab yang kerap dipropagadakan sebagai “moderat” dan sekutu Washington.

Mengenai masuknya dua kapal tanker minyak ke pelabuhan Hudaydah, Yaman, hal ini memang baru memenuhi 10% kebutuhan minyak Yaman. Hal serupa juga terjadi berkenaan dengan pembukaan penerbangan pesawat dari Bandara Sanaa ke Kairo dan sebaliknya.

Namun, perkembangan ini cukup signifikan karena menjadi titik awal untuk pemecahan blokade aliansi pimpinan Saudi terhadap Yaman yang sudah berjalan tujuh tahun.

Kegembiraan yang mewarnai Yaman usai pengumuman gencata  senjata, membaiknya nilai tukar mata uang riyal Yaman, dan meningkatnya jam operasi layanan listrik Yaman, semua ini menjadi alasan tersendiri bagi setiap orang untuk membuat prediksi baik.

Bagaimana juga, berhentinya aksi saling gempur antara Saudi dan Yaman adalah perkembangan yang melegakan banyak pihak, terlebih di tengah suasana bulan suci Ramadhan. Dan setiap orang tentu layak berharap gencatan senjata dua bulan itu dapat bertahan dan menjadi pendahuluan yang serius bagi iktikad baik kedua pihak untuk menyudahi pertumpahan darah yang menjatuhkan banyak korban, menyengsarakan banyak orang, dan menimbulkan tragedi kerusakan dan kekacauan yang sulit dilukiskan dengan kata. (mm/raialyoum)

Baca juga:

Iran Serukan Pencabutan Total Blokade Yaman

Gencatan Senjata Yaman, Kubu Saudi Jelaskan Pelonggaran Blokade

DISKUSI: