Empat Sebab Mengapa Ansarullah Kembali Menggempur Saudi Meski Terjadi Perubahan Kebijakan AS

0
209

LiputanIslam.com – Banyak orang terheran oleh serangan gerakan Ansarullah (Houthi) ke Bandara Abha, salah satu bandara terpenting Arab Saudi di wilayah selatan negara ini, dengan empat unit drone pada Rabu pagi 10 Februari 2021 waktu setempat.

Pasalnya, serangan ini terjadi justru bersamaan dengan pernyataan Presiden baru Amerika Serikat (AS) Joe Biden dalam pidato perdananya mengenai kebijakan luar negeri pemerintahannya.

Dalam pidato itu dia mengumumkan penghentian semua penjualan senjata ke Saudi sebagai bentuk pendahuluan upaya menyudahi perang Yaman yang disebutnya telah “menciptakan bencana kemanusiaan dan strategis”. Dan pemerintahannyapun telah memberitahu Kongres ihwal niatnya untuk menghapus nama Ansarullah dari daftar organisasi teroris.

Serangan empat drone ke bandara tersebut, menurut juru bicara militer Angkatan Bersenjata Yaman yang bersekutu dengan Ansarullah, Brigjen Yaha Saree, berhasil menghantam sasaran dengan presisi tinggi. Sedangkan pihak Saudi sebelum insiden Abha mengaku berhasil merontokkan dua drone yang melesat dari Yaman, dan mengendalikan kobaran api di Bandara Abha.

Sumber papan atas Yaman mengatakan kepada Rai Al-Youm bahwa serangan ke Bandara Abha dilancarkan karena beberapa faktor dan alasan sebagai berikut;

Pertama, sebagai balasan serangan udara pasukan koalisi pimpinan Saudi terhadap pasukan Ansarullah yang sedang bertempur sengit untuk menguasai kota Ma’rib, kubu pertahanan terakhir pemerintahan presiden pelarian Yaman Abd Rabbuh Mansour Hadi, dan di sana pula terdapat sumur-sumur minyak utama Yaman.

Kedua, Bandara Abha ber-dwifungsi sipil dan militer sehingga dari situ jet-jet tempur Saudi diterbangkan untuk menjatuhkan bom-bomnya di Yaman, sebab merupakan bandara terbesar dan terdekat dengan perbatasan Yaman-Saudi sepanjang 120 kilometer. Ansarullah menyerang bandara itu dengan drone, dan mengklaim berhasil menghancurkan beberapa jet tempur Saudi di sana.

Ketiga, para petinggi Ansarullah berkeyakinan bahwa jet tempur F-16 tak dapat dikerahkan dalam serangan yang nyaris setiap hari terhadap Yaman kecuali dengan bantuan dan atau lampu hijau dari AS. Menurut mereka, Saudi melanjutkan serangan ke Yaman dengan persetujuan AS sehingga seruan Washington untuk penghentian perang tidaklah lebih dari retorika belaka untuk konsumsi diplomatik.

Keempat,  serangan drone dilancarkan sebagai upaya memecah blokade Saudi dan sekutunya terhadap Yaman, membuka kembali bandara-bandara Yaman, terutama di Sanaa, ibu kota negara ini, dan melawan penyitaan kapal, bahan bakar, dan komoditas lain di Pelabuhan Hudaydah oleh pasukan koalisi.

Menteri Luar Negeri Yaman kubu Sanaa, Hisham Sharaf, menyimpulkan sikap Ansarullah dalam sebuah pesan kepada Saudi dan AS, yang intinya: “Jika kalian menghentikan serangan kalian ke wilayah kami maka akan berhenti pula serangan rudal dan drone kami ke kedalaman wilayah Saudi.”

Terlepas dari empat alasan tersebut, serangan Ansarullah ke Bandara Abha dilancarkan juga bersamaan dengan kunjungan pertama kalinya Utusan Khusus PBB untuk Yaman, Marthin Griffiths, ke Teheran, serta kunjungan Utusan Khusus AS untuk Yaman, Timothy Lenderking, ke Riyadh.

Dua kunjungan ini sama-sama dilakukan dalam rangka membuat draft kesepakatan penghentian perang Yaman, namun kedua juga sama-sama tidak menemui pejabat Ansarullah sendiri.

Dengan demikian, bisa jadi bahwa serangan ke Bandara Abha merupakan peringatan bahwa solusi tidak akan tercapai tanpa pembicaraan dengan Ansarullah sendiri.

Serangan drone tersebut merupakan satu perkembangan krusial dalam perang Yaman, meski serangan serupa juga pernah terjadi sebelumnya.

Serangan terbaru itu bahkan tak kalah krusialnya dengan serangan Ansarullah yang pernah menerjang fasilitas minyak Aramco milik Saudi di Jeddah, Abqaiq, dan Khurais, serta serangan terhadap tanker minyak di Bandara Jeddah dengan perahu berbahan peledak. Serangan itu seakan pesan bahwa perdamaian tak akan terwujud kecuali melalui pintu Sanaa sendiri.

Sedangkan mengenai pertempuran di Ma’rib, mengingat sengitnya kontak senjata serta besarnya pengerahan pasukan kedua belah pihak di kota bersejarah sekaligus kaya minyak ini, tampak bahwa pertempuran itu akan menentukan babak pertama dan terpenting dalam perang Yaman yang sudah berlangsung enam tahun. (mm/raialyoum)

Baca juga:

Ansharullah Peringatkan Warga Sipil dan Maskapai agar Tidak Gunakan Bandara Saudi

Pesawat Terbakar di Bandara Abha, Saudi dan AS Kutuk Ansarullah Yaman

DISKUSI: